Oleh Sumiyati
                       Pemerhati Umat


Di dunia yang serba cepat ini, kita sering disibukkan dengan agenda pribadi, berita politik, atau hiruk pikuk media sosial. Namun, ada satu sudut dunia yang terus berteriak dalam diam: Gaza, sebuah tanah kecil yang menjadi bagian dari kisah panjang Palestina. Di sana, kehidupan sehari-hari bukan sekadar tentang bekerja, belajar, atau membesarkan keluarga. Di sana, kehidupan berarti bertahan.
Ketika kita berbicara tentang Gaza, yang sering terlintas adalah berita konflik, serangan, dan angka korban jiwa. Namun, di balik data statistik yang dingin itu, ada manusia-manusia dengan hati yang terus berdegup, dengan mimpi yang sama seperti kita: hidup damai, mencintai, membesarkan anak, dan meraih masa depan. Kisah mereka bukan hanya tentang penderitaan, tapi juga tentang ketabahan sebuah ketabahan yang membuat dunia seharusnya menunduk malu.

Luka yang Terlihat

Tidak sulit menemukan luka Gaza di layar kaca atau media sosial. Setiap serangan meninggalkan jejak yang nyata: rumah-rumah hancur, sekolah-sekolah runtuh, rumah sakit kewalahan menampung korban. Anak-anak berlarian di jalan, bukan untuk bermain, melainkan untuk mencari tempat berlindung.

Faktanya, sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 60.000 orang Palestina telah tewas, hampir 31 persen di antaranya anak-anak. Lebih dari 160.000 orang terluka, banyak di antaranya dengan luka permanen yang mengubah hidup mereka selamanya. (Reuters 30 Juli 2025, Rescue.org 26 Juni 2025)

Selain korban jiwa, kehancuran infrastruktur juga luar biasa. Sekitar 191.000 bangunan di Gaza rusak atau hancur akibat serangan, termasuk rumah sakit, masjid, sekolah, dan fasilitas publik lain (arxiv.org 18 Juli 2025). Data PBB mencatat bahwa lebih dari 1,9 juta orang hampir 90 persen populasi Gaza terpaksa mengungsi dari rumah mereka. (UN 17 Juli 2025)

Bayangkan, sebuah keluarga yang baru saja duduk menikmati makan malam, mendadak kehilangan segalanya dalam hitungan detik. Seorang ibu yang semalam masih mendongeng untuk anaknya, esok harinya hanya bisa menatap kosong pada ranjang yang tak lagi terisi. Tragedi ini bukan berita rutin. Ia adalah realitas sehari-hari yang menimpa manusia seperti kita.

Luka yang Tak Terlihat

Selain luka fisik, ada luka batin yang jauh lebih dalam dan tak mudah sembuh. Anak-anak Gaza tumbuh besar dengan suara dentuman bom lebih akrab daripada suara musik. Mereka belajar membedakan jenis-jenis pesawat tempur sebelum belajar menulis alfabet.

Malnutrisi juga menghantui generasi muda Gaza. Data terbaru menunjukkan 12,4 persen anak-anak di Gaza mengalami malnutrisi akut (UNRWA, Agustus 2025). Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan tawa justru hidup dalam trauma berkepanjangan. Seorang relawan asal Indonesia yang pernah bertugas bersama lembaga kemanusiaan menceritakan, “Anak-anak di Gaza tidak lagi bertanya kapan mereka bisa bermain, tetapi kapan mereka bisa makan.”

Ada trauma kolektif yang menjerat masyarakat Gaza. Generasi demi generasi mewarisi rasa kehilangan: kehilangan tanah, kehilangan rumah, kehilangan orang-orang tercinta. Dan meskipun luka itu dalam, mereka tetap bangkit setiap kali dijatuhkan.

Harapan yang Bertahan

Meski dikepung penderitaan, Gaza tidak pernah sepenuhnya kehilangan harapan. Di tengah reruntuhan, anak-anak masih bermain dengan bola plastik lusuh. Di sekolah darurat, para guru tetap mengajar dengan penuh semangat. Di rumah sakit, para dokter bekerja siang malam tanpa cukup obat atau peralatan, namun tidak pernah menyerah pada keadaan.
Ketabahan mereka tampak dalam hal-hal sederhana: seorang ayah yang tetap berusaha tersenyum di depan anak-anaknya meski hatinya hancur, seorang ibu yang memasak dengan bahan seadanya namun menyajikannya penuh cinta, atau seorang remaja yang tetap belajar dengan lilin di malam hari karena listrik padam.

Harapan itu mungkin rapuh, tapi justru kekuatannya terletak di sana. Harapan itu adalah tanda bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya dipatahkan. Selama ada satu jiwa yang percaya pada hari esok, maka Gaza tetap hidup.

Dunia yang Membisu

Ketika kita berbicara tentang Palestina dan Gaza, kita tidak hanya berbicara tentang konflik lokal. Kita sedang berbicara tentang cermin dunia. Cermin yang memperlihatkan sejauh mana nurani manusia masih hidup.

Analisis independen menunjukkan bahwa sejak Maret 2025, dari setiap 16 orang yang tewas oleh militer Israel dalam ofensif baru, 15 di antaranya adalah warga sipil. (The Guardian, September 2025)

Data ini seharusnya membuat dunia tersentak, namun suara-suara dari Gaza kerap tenggelam di tengah hiruk pikuk kepentingan politik internasional.
Indonesia sendiri, melalui Kementerian Luar Negeri dan lembaga kemanusiaan seperti MER-C dan ACT, terus menyalurkan bantuan. Dari laporan MER-C, rumah sakit Indonesia di Gaza beberapa kali terkena dampak serangan, namun tetap beroperasi untuk menyelamatkan ribuan nyawa. Fakta ini menunjukkan bahwa solidaritas lintas batas masih mungkin terjalin, meski skala dukungan internasional sering terasa timpang.

Solusi dalam Pandangan Islam

Islam memandang bahwa penderitaan satu umat adalah penderitaan seluruh umat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari sini, ada beberapa jalan solusi yang dapat dipahami:
1. Solidaritas Umat (Ukhuwwah Islamiyah dan Ukhuwwah Insaniyah)
Dukungan terhadap Palestina tidak semata karena kesamaan agama, melainkan juga panggilan kemanusiaan. Solidaritas bisa diwujudkan melalui doa, bantuan kemanusiaan, serta menyuarakan keadilan di forum publik.

2. Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Islam menegaskan kewajiban menyeru pada kebaikan dan mencegah kezaliman. Umat Islam perlu konsisten menolak penindasan, melawan narasi yang merendahkan martabat warga Gaza, dan menuntut dunia berlaku adil.

3. Doa dan Istiqamah
Doa adalah senjata utama umat beriman. Ia bukan sekadar ucapan, melainkan manifestasi keyakinan bahwa Allah Maha Adil. Doa untuk Palestina adalah keterlibatan spiritual sekaligus penjaga harapan.

4. Menguatkan Posisi Politik Umat
Negara-negara mayoritas muslim dituntut untuk memperkuat posisi politik bersama dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Suara yang bersatu akan lebih diperhitungkan dibandingkan sikap yang terpecah.

5. Meneladani Ketabahan (Sabr) dan Ikhtiar
Gaza mengajarkan makna sabar yang aktif: bukan pasrah, melainkan bertahan, berikhtiar, dan tidak menyerah pada kezaliman. Umat Islam di manapun berada dapat menjadikannya teladan dalam menghadapi ujian hidup sekaligus sebagai energi moral untuk terus membela keadilan.

Dengan kerangka ajaran ini, Islam tidak hanya memberi tuntunan spiritual, tetapi juga pedoman moral dan sosial. Palestina bukan hanya persoalan politik internasional, melainkan ujian bagi seluruh umat Islam dan umat manusia: apakah kita masih peduli, ataukah kita memilih diam?

Renungan untuk Kita

Sebagian dari kita mungkin merasa kecil di hadapan persoalan sebesar Palestina. Kita bukan diplomat, bukan pemimpin negara, bukan pula pengambil keputusan di lembaga dunia. Tapi bukan berarti kita tak bisa berbuat apa-apa. Setiap orang punya ruang untuk peduli: dengan doa, dengan suara, dengan menolak diam.

Ketika kita membicarakan Gaza, kita sebenarnya sedang menguji hati nurani kita sendiri. Apakah kita tega memalingkan muka? Apakah kita rela menjadikan penderitaan orang lain sebagai sekadar headline berita yang berlalu begitu saja?

Dari Gaza, kita belajar bahwa manusia bisa hancur secara fisik, tapi tidak bisa dikalahkan jika masih punya harapan. Ketabahan mereka adalah pelajaran universal tentang arti bertahan, arti mencintai kehidupan, dan arti menjaga harapan meski segala sesuatu tampak mustahil.

Sebuah Do’a dan Solusi

Palestina dan Gaza bukan hanya tentang konflik yang tak kunjung selesai. Ia adalah cerita tentang manusia, tentang luka yang tak pernah berhenti, dan yang lebih dalam: tentang ketabahan yang menakjubkan.
Ketabahan mereka membuat kita merenung: bagaimana mungkin, di tengah reruntuhan, mereka masih bisa tersenyum? Bagaimana mungkin, di tengah kehilangan, mereka masih bisa berharap? Jawabannya sederhana: karena mereka tahu, menyerah berarti menghapus masa depan sepenuhnya.

Di balik setiap tangisan, ada doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan. Doa agar suatu hari nanti, anak-anak Gaza bisa berlari tanpa takut, para ibu bisa menidurkan anaknya dengan tenang, dan para ayah bisa bekerja tanpa dihantui kecemasan. Doa agar tanah Palestina tidak lagi dikenal sebagai tanah air mata, tetapi tanah damai yang dirindukan.

Kita yang jauh dari sana, mungkin hanya bisa ikut berdoa. Namun doa yang tulus, empati yang nyata, dan suara yang jujur, bisa menjadi bagian dari ketabahan itu. Gaza mengajarkan kita bahwa bahkan di kegelapan terdalam, selalu ada cahaya yang bisa dijaga. Dan semoga suatu hari nanti, cahaya itu benar-benar menyinari Palestina.

Masalah yang ada di Gaza merupakan masalah bersama dan harus diselesaikan bersama. Rasulullah SAW di utus oleh Allah SWT untuk menyampaikan Islam keseluruh alam karena sesungguhnya Islam merupakan Rahmat bagi seluruh alam. Islam hadir dengan segala aturan yang sempurna yang dengannya pula akan menyempurnakan kehidupan manusia. Maka atas permasalahan di Gaza harus dikembalikan dengan aturan yang datang dari Allah SWT. 

Wallahualam bissawab.[]

1 تعليقات

إرسال تعليق

أحدث أقدم