​Oleh Lela Susanti 
                (Pemerhati Masyarakat)


​Sudah banyak bukti bahwa sebagian besar anak muda terpapar konten pornografi, perundungan, dan gaya hidup liberal. Media sosial bak pisau bermata dua, ketika media sosial di tangan remaja dan anak-anak masalahnya bukan hanya tajam, tetapi juga memberi luka yang dalam. Banyak remaja yang rapuh mentalnya, bahkan sampai bunuh diri dianggap sebagai kejadian biasa. (Kompas.com, 6 Desember 2025)

​Para kapitalis pun membidik generasi muda sebagai pasar strategis untuk meraup keuntungan melalui media sosial dengan cara melemahkan pola pikir para remaja dan mempertebal emosionalnya. Generasi muda saat ini sedang digerus arus deras sekularisme digital hingga kehilangan arah dan jati diri.

​Komodifikasi Generasi di Altar Algoritma

​Di bawah kendali sistem kapitalisme, setiap detik aktivitas anak muda di ruang digital dikonversi menjadi data dan keuntungan. Algoritma media sosial sengaja dirancang untuk memicu dopamin secara instan, membuat remaja terjebak dalam validasi semu berupa likes dan followers. Hal ini menciptakan standar kebahagiaan yang dangkal dan materialistis. 

Akibatnya, jati diri mereka tidak lagi dibangun di atas fondasi karakter yang kokoh, tetapi dengan tren yang berubah setiap saat. Remaja kehilangan kemampuan berpikir kritis karena terus disuapi konten hiburan yang melenakan, membuat mereka abai terhadap persoalan umat yang lebih besar.

​Kegagalan Sistemis dan Rapuhnya Ketahanan Keluarga

​Penerapan sekularisme kapitalis adalah akar masalah yang menjadikan remaja bermasalah dari segala sisi. Sistem yang mencabut potensi generasi muda dari fitrahnya mengakibatkan lahirnya manusia yang cacat mental dan kosong jiwanya. Saat ini teknologi berkembang dengan pesat tapi di sisi lain peradaban runtuh. Inilah krisis sesungguhnya, yakni krisis arah hidup dan pandangan hidup.

​Potensi remaja sedang dirusak oleh sistem. Generasi muda sejatinya diciptakan sebagai fase kekuatan untuk menegakkan sebuah kebenaran, tetapi kekuatan itu kini dirusak oleh berbagai proyek kapitalis yang menjerumuskan mereka kepada kelemahan mental, tekanan sosial, dan hiburan yang banyak menyesatkan. Lingkungan keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertahanan pertama pun kian rapuh. Orang tua yang sibuk bertahan hidup dalam himpitan ekonomi kapitalistik sering kali kehilangan kendali atas apa yang dikonsumsi anak-anak mereka di balik layar gawai.

​Kembali ke Fitrah sebagai Solusi Sistemis Berbasis Akidah

​Pemberantasan akses media sosial hanyalah solusi pragmatis yang tidak menyentuh akar masalah dan hanya ilusi semata. Selama paradigma yang digunakan masih sekularisme, maka kejahatan digital akan terus bertransformasi. Tentunya setiap negara menginginkan generasi penerus yang lebih baik, tetapi berbagai persoalan tengah menimpa generasi saat ini.

​Kini saatnya negara harus berperan menumbuhkan iman dan ketakwaan sebagai filter dan menegakkan syariat secara kafah. Negara dalam Islam memiliki fungsi sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (perisai). Negara berkewajiban menutup rapat setiap celah yang merusak moral, mulai dari pemblokiran konten maksiat secara total hingga mengatur sistem pendidikan yang berbasis pada pembentukan syakhshiyyah (kepribadian) Islam.

​Kaum muslim sudah seharusnya menyadari bahwa kerusakan sosial hari ini terjadi akibat penerapan ideologi sekularisme-liberalisme dalam negara yang menerapkan ideologi tersebut sehingga pornografi dibiarkan membanjiri masyarakat termasuk keluarga muslim. Jelas kerusakan sosial ini tidak bisa dicegah hanya dengan tausiah dan doa tetapi harus ada penerapan hukum-hukum Allah SWT secara kafah. Hanya dengan kembalinya aturan Sang Pencipta, generasi muda dapat diselamatkan dari kegelapan digital menuju cahaya kebenaran yang hakiki.

​Wallahualam bissawab. []

1 تعليقات

  1. Masya Allah sangat terinspirasi tulisannya bagus bangettt sesuai dengan keadaan keluarga saat ini 👍👍👍👍

    ردحذف

إرسال تعليق

أحدث أقدم