Oleh Ummu Hilya
Aktivis Muslimah
Israel kembali membatasi ibadah umat Islam di Masjidilaqsa selama Ramadan tahun 2025 dengan dalih keamanan. Rezim Zionis sudah menyiapkan personel keamanan untuk menindak tegas para pelanggar. Pembatasan akses ibadah di Masjidilaqsa Ramadan kali ini, bertepatan dengan gencatan senjata yang rapuh di Gaza. (Kompas, 2-3-2025)
Meski dalam masa gencatan senjata, tidak ada aksi saling serang sementara waktu, nyatanya pasukan Israel tetap menyerbu kompleks Masjidilaqsa. Dalam penyerbuan tersebut, dua toa atau pengeras suara masjid yang ada di ruang Salat Qibli dicopot dan dirampas oleh pasukan Israel. Akibatnya, tidak ada lagi alat untuk mengumandangkan azan dan menyemarakkan bulan Ramadan. (Tribun News, 13-3-2025)
Seharusnya seluruh umat Islam bergembira saat bulan Ramadan sebagaimana pada masa Rasulullah. Namun, hari ini kaum muslim di Palestina tidak bisa leluasa beribadah di Masjidilaqsa karena pembatasan oleh tentara Zionis. Meski begitu, warga Palestina tetap menunjukkan antusiasme untuk salat dan iftar di Al-Quds (Yerusalem).
Fakta di atas menunjukkan wilayah Palestina masih dalam penjajahan, karena keamanan kaum muslimin berada di tangan orang kafir. Yakni Dewan Keamanan PBB, salah satu badan PBB yang bertanggung jawab atas keamanan dunia yang dibekingi AS sebagai pemilik kuasa hak veto serta beranggotakan tetap (Prancis, Rusia, Cina, AS, dan Inggris). Alhasil nihil akan perdamaian dan keadilan atas konflik yang terjadi di dunia terutama Palestina.
Tak cukup sampai di situ, pencaplokan atas wilayah Palestina terus diupayakan AS. Dengan cara mendorong para rezim boneka serta memberikan bantuan yang penuh syarat kepada negeri-negeri muslim seperti Yordania, Mesir, Arab Saudi, Turki dan negeri lainnya agar bersedia melepaskan atau menjual Palestina. Bahkan negeri-negeri muslim dibuat lalai akan kewajiban memerangi musuh, yakni Zionis Yahudi. Allah Swt. berfirman,
“Buruk sekali (perbuatan) mereka menjual dirinya dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan.” (QS Al-Baqarah: 90).
Memang para penjajah akan terus menyerang kaum muslim selama kepemimpinan dunia dipimpin oleh penguasa kafir Barat dengan asas sekuler kapitalismenya yang beracun. Kapitalisme merupakan ideologi berbahaya yang nyatanya justru menghancurkan sendi-sendi kehidupan terutama di negeri-negeri muslim. Apalagi hari ini kapitalisme diadopsi oleh setiap negeri di seluruh penjuru dunia termasuk negeri muslim itu sendiri. Maka umat Islam Palestina tidak boleh gentar menghadapi kejahatan Zionis yang dibeking AS. Saatnya menjadikan Ramadan sebagai momen untuk menguatkan azam dalam perjuangan dan pengorbanan melenyapkan penjajahan.
Umat Islam tidak boleh lagi berharap pada solusi negara Barat dan narasi-narasi sesat soal perdamaian yang ada saat ini. Selain itu, entitas zionis adalah kafir muhariban fi'lan (negara yang sedang memerangi kaum muslim secara militer) dan posisi negara ini merupakan musuh sejati yang wajib dihadapi hanya dengan bahasa perang. Maka tidak boleh ada sedikit pun hubungan kerjasama dengan mereka baik dari segi ekonomi, politik, hingga budaya. Apabila hal ini tidak ditinggalkan maka akan semakin kuat pertahanan mereka untuk menyerang kaum muslim.
Umat muslim akan kuat serta berkuasa tatkala di bawah komando seorang Khalifah yang akan menyelesaikan konflik yang terjadi secara efektif dan solutif. Khalifah adalah pemimpin dalam sistem adidaya Islam yakni Khilafah. Khilafah merupakan induk atau pelindung bagi kaum muslim maupun nonmuslim, yang sayangnya telah diruntuhkan oleh seorang agen Inggris yakni Mustafa Kemal Attaturk, dan hingga saat ini sudah 100 tahun lebih lamanya dunia kehilangan pelindung itu.
Selanjutnya penegakan kembali Khilafah adalah qadhiyah mashiriyah yang wajib menjadi agenda utama umat Islam, karena umat membutuhkan perisai dan pelindung dari segala bentuk kezaliman. Apalagi melihat gencatan senjata yang berlaku tak akan pernah membawa kemerdekaan Palestina dari entitas Zionis Yahudi secara hakiki. Umat tidak boleh diam dan harus bersatu dalam gerakan pembebasan bumi Palestina dari penjajahan Zionis Yahudi.
Oleh karena itu sangat dibutuhkan dakwah yang dipimpin oleh jemaah dakwah ideologis untuk membangun kesadaran umat akan wajibnya menegakkan Khilafah. Berjuang bersama untuk mewujudkannya Khilafah dan menyerukan jihad ke Palestina. Karena hanya Khilafah yang mampu mengirimkan pasukan jihad melawan Zionis Yahudi sampai akar-akarnya. Wallahualam bissawab. []

إرسال تعليق