Oleh Shinta Putri
(Aktivis Muslimah)
Presiden Prabowo Subianto membuat pernyataan mengejutkan saat melakukan konferensi pers bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Merdeka.
Prabowo menyampaikan Indonesia siap menjalin hubungan diplomatik dengan Israel begitu negara Palestina diakui oleh Negeri Zionis. (CNN Indonesia, 28/05/2025)
Pernyataan Prabowo itu berarti mengakui mengakui kemerdekaan Israel jika Palestina diberi kemerdekaan ini suatu hal yang tidak dibenarkan, Israel penjajah musuh nyata bagi Palestina, bertahun-tahun membantai dan mengusir warga Palestina tapi kok masih di kasih wilayah dan pengakuan kemerdekaan, suatu hal yang menyakitkan bagi warga Gaza dan kaum muslim seluruhnya.
Status kemerdekaan Palestina dan Israel adalah jebakan narasi solusi dua negara asal mulanya buatan Inggris dan Amerika. Dan narasi ini sudah lama didengungkan sejak tahun 1917 melalui Deklarasi Balfour yang mendukung berdirinya negara Yahudi di Palestina, sudah bertahun-tahun lamanya Palestina ditindas oleh para penjajah tapi kenapa presiden Prabowo ikut mendukung kemerdekaan Israel.
Jika kita melihat sejarah masa lalu hubungan Palestina yang mendukung penuh kemerdekaan Indonesia, seharusnya kita seluruh rakyat Indonesia juga mendukung penuh kemerdekaan Palestina, tidak ada toleransi dengan penjajah. Sesuai dalam Undang-undang Dasar negara bahwa setiap penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi, bukan malah diberi tempat dan pengakuan.
Maka dari pernyataan tersebut merupakan bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat Gaza, bahkan mengkhianati perjuangan para penakluk di masa khalifah Umar, pasukan Sultan salahuddin, korban Nakba, intifada dan martir taufan al Aqsa. Mereka mati-matian memperjuangkan wilayah Palestina dari penjajahan tapi Presiden kita malah mendukung penjajah, meskipun kelihatan seperti melakukan perdamaian.
Dalih bahwa statemen presiden adalah demi kebaikan bersama memiliki tujuan meredakan konflik Israel-Palestina, melainkan juga sebagai batu loncatan diplomatik untuk menekan zionis agar mau mendengar suara kita, namun hal ini hanyalah harapan palsu saja. Jangankan suara kita, selama ini PBB aja tidak didengar. Justru akan menjadi image buruk bagi presiden dihadapan masyarakat Indonesia sebagai muslim terbesar malah membuka celah normalisasi dengan pihak pembantai muslim gaza.
Perlu kita ketahui bahwa zionis Israel memang dipasang sebagai penguat tatanan peradaban kapitalisme sehingga Amerika, Inggris dibawah naungan PBB kesannya seperti membiarkan penjajahan ini, padahal sudah memakan jutaan nyawa dan tentunya juga melanggar hak asasi manusia. Dimana peran PBB yang didirikan untuk mempersatukan bangsa diseluruh dunia.
Begitulah watak asli peradaban kapitalisme yang kejam dan tidak mempunyai hati nurani, selama keinginan mereka terpenuhi apapun dilakukan demi kekuasaan dan existensi peradaban ini. Harapan kita ingin agar genosida segera dihentikan dan Palestina segera bisa merasakan kemerdekaannya. Tapi bukan berarti harus dengan cara seperti itu karena zionis terbukti tidak pernah punya niat baik.
Berkali-kali mengadakan perjanjian genjatan senjata namun mereka melanggar dengan tetap menangkap dan membunuh warga Gaza. Masihkah kita punya empati dengan zionis Yahudi Israel? tentunya tidak, penjajahan harus ditumpas, jangan diberi hati. Kita lawan fisik dengan fisik. Tentunya seluruh kaum muslimin bersatu, harus memiliki institusi yang kuat dan berdaulat yang bernama khilafah yang bisa segera mengirim pasukan militer dengan semangat jihad. Hal inilah satu-satunya solusi mengusir penjajah dengan jihad semesta di bawah komando khalifah. Yang harus dilakukan saat ini adalah lebih serius, sungguh-sungguh dan konsisten memperjuangkan tegaknya khilafah melalui metode perjuangan Rasulullah saw yaitu dengan dakwah.
Wallahualam bisawwab. []
إرسال تعليق