Oleh Dewi Poncowati
Aktivis Muslimah
Berbagai aksi tentunya sering kita ketahui. Aksi dalam berbagai bentuk menunjukkan bahwa ada sesuatu hal yang bertentangan pendapat atau suatu solusi yang terkadang menzalimi pihak lain. Dalam hal ini legitimasi atas tanah Palestina yang belum ada solusi, bahkan penjajah zionis semakin besar kepala karena memang disahkan oleh para sekutunya antara lain Amerika, Australia, Jerman, Inggris dan Perancis, negara negara tersebut karena memiliki kepentingan politik perekonomian dan jaminan keamanan di daerah Timur Tengah. Berbagai dukungan dari berbagai negara lain atas negeri Palestina pun sampai saat ini belum ada solusi, berupa bantuan medis, makanan, pemboikotan produk zionis dan berupa kebijakan gencatan senjata sementara.
Bahkan baru baru ini beberapa negara dipaksa untuk mengakui keberadaan Israel atau Two State Solustion. Padahal yang terjadi di Palestina adalah jelas jelas penjajahan atau genosisa besar besaran yang sudah ramai diperbincangan. Sampai pada akhirnya berbagai bantuan dukungan kepada Palestina tidak dapat masuk dan ditolak membuat semua mata rakyat dari berbagai negara manapun tergerak untuk melakukan dukungan pembelaan atas Palestina.
Sebetulnya sudah banyak yang berupaya untuk berusaha menerobos masuk ke Gaza melalui jalur laut, seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya Kapal Madleen yang terdapat 12 orang aktivis kemanusian dari negara negara barat, namun mendapatkan perlawanan dari Israel. Maka aksi berkelanjutan melalui jalur darat pun juga diupayakan oleh berbagai aktivis kemanusian.
Aksi konvoi yang lebih dari 80 negara berupaya masuk ke wilayah Gaza karena pengepungan Zionis sejak Oktober 2023 dimana bantuan tidak dapat masuk maka peserta aksi melalui Tunisia, Libya dan Mesir sampai ke Rafah perbatasan masih ditutup pada Mei 2024. Ini lah yang menggerakkan berbagai negara berpartisipasi dalam pawai ini. Para peserta aksi sejak 12 Juni 2025 berkonvoi ke Mesir kairo menuju Al-Rish, Sinai menuju perbatasan Rafah, berharap perbatasan dibuka dan bantuan dapat masuk ke Gaza.
Aksi tersebut berbondong bondong melakukan Global March to Gaza. Mereka datang dari Tunisia, Maroko, Libya, Amerika, Eropa, Asia termasuk Indonesia. Dengan hadirnya warga Indonsia di Sinai adalah wujud keberpihakan nyata. Mereka dari berbagai latar belakang pensiunan, perawat, Jurnalis, dokter, pegiat HAM dan para anak muda atau rakyat biasa yang sudah tidak tahan dengan berbagai kebijakan para kepala negara/pemerintah atas kekejaman Israel kepada rakyat Palestina. Mereka menyuarakan protes kekejaman zionis dan mengajak semua negara menolak diam atas Krisis kemanusiaan di Palestina. Melalui keterangan dari Chairman Aliansi Kemanusian Indonesia , Ali Amri,l aksi ini dikenal “Diplomasi Jalanan” tanpa podium, Protokol, basa basi. Namun sayang Gerbang Rafah masih dalam kondisi terkunci dan Mesir mengusir para aktivis. Ali menegaskan terkuncinya Gerbang Rafah justru menjadi Pemantik suara Nurani dunia.(Republik.co.id, 14-6-2025)
Sungguh miris sedemikian masifnya aksi ini Pemerintah Mesir tetap menjaga hubungan dengan Israel dan keberpihakan Mesir dengan melakukan pendeportasian para puluhan aktivis, melakukan pemeriksaan berupa razia perizinan. Aktivis dari advokat pun meminta penjelasan alasan pendeportasian kepada pemerintah mesir namun, tidak memberikan alasan apapun. (Kompas.tv)
Gerakan Global March to Gaza adalah potensi energi spriritual umat yang menyalah tatkala dipicu dengan pemantik rasa kemanusian derita Gaza. Pada Gerakan ini ribuan peserta aktivis dalam berbagai bangsa ikut serta tanpa adanya pihak dari pemerintah dari negara asal yang mengakomodir. Sayangnya Gerakan global yang masif ini tidak dapat menembus gerbang Rafah hanya karena batas wilayah yang memiliki otoriter negara.
Mesir dengan negara mayoritas muslim, pemerintahnya sendiri justru menghalangi upaya perjuangan masyarakatnya sendiri, dengan berbagai pemeriksaan perizinan yang tidak beralasan, pendeportasian hingga upaya menghadang para aktivis agar jangan sampai masuk jalur Gaza. Jelaslah bahwa kenyataannya para pemerintah yang berwenang sejatinya tidak pernah akan tunduk pada penjajah, karena sebuah perjanjian yang mereka sepakati terdahulu dan penanaman pemikiran Nasionalisme. Inilah akar permasalahannya, Nasionalisme.
Nasionalisme adalah adalah konsep pemikiran barat yang sengaja ditanamkan dalam benak umat sebagai alat penjajahan. Islam yang dahulunya dipersatukan dengan akidah kini tersekat sekat dalam bentuk bangsa bangsa yang bertujuan agar negara kafir dengan mudah menjajah dan merampas harta kekayaan negari negari Islam. Kemudian sedikit demi sediki Syariah Islam dijauhkan dari umat Islam dan menggantikan dengan aturan aturan negara kafir.
Solusi Islam
Seharusnya umat Islam menyadari sesungguhnya berbagai solusi masalah Gaza, mulai dari mengirimkan bantuan, pemboikotan produk produk Israel dan saat ini Gerakan Global kemanusian nyata nya belum dapat menembus Batasan masuk ke Gaza, karena kekuatan global seharusnya memiliki pemahaman ideologis yang mampu menyatukan pemikiran.
Umat harus menyadari bahwa saat ini yang dibutuhkan adalah pemimpin yang dapat menjadi Raain/penjaga bagi umat. Mengingat sejarah bagaimana perjuang panglima Salahudin Al Ayyubi dan Sultan Abdul Hamid II yang membela dan menjaga tanah Palestina. Mereka adalah sosok pemimpin pada masa khilafah yaitu dalam sistem Islam. Pada masa kepemimpinan Islam umat dipersatukan dalam ikatan akidah.
Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Harusnya Umat Islam menyadari pentingnya berada dalam suatu pergerakan bersama dakwah yang merubah pemikiran menyadarkan umat bahwa palestina hanya bisa diselesaikan dengan kekuatan politik dengan melakukan perubahan perjuang besar bahwa Palestina harus merdeka dan mengusir zionis dari tanah Palestina serta membongkar makar para penjajah bahwa untuk mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia hanya dengan menumbangkan paham nasionalisme.
Wallahualam bissawab. []
إرسال تعليق