Oleh Eka Sulistya
(Aktivis Dakwah)
Menjadi muslimah ditengah tantangan zaman saat ini tidaklah mudah. Mereka harus berjuang di tengah arus modernisasi. Bagi Muslimah yang lemah mereka akan tergerus dan ikut arus modernisasi. Profil muslimah saat ini, banyak dari mereka yang berpendidikan tinggi. Banyak muslimah berhasil meraih gelar sarjana bahkan doktor, tapi kadang terbentur stigma bahwa “wanita tidak perlu sekolah tinggi".
Selain pendidikan, Hijab Jadi Identitas bagi muslimah. Hijab adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh muslimah. Namun ditengah derasnya arus fashion, kini makna hijab mulai bergeser. Hijab sudah meluas, bahkan jadi fashion. Ada yang konsisten menjaga syar’i, ada juga yang terjebak menjadikan hijab sekadar gaya, bukan ketaatan.
Muslimah juga memiliki peran ganda, di satu sisi dituntut sukses di dunia kerja sekaligus tetap sempurna di rumah. Akibatnya banyak muslimah merasa lelah secara fisik dan mental. Selain itu muslimah di sebagian tempat masih mengalami diskriminasi: dibatasi dalam pendidikan, pekerjaan, atau bahkan dilarang memakai hijab.
Inilah muslimah dengan segala potensinya, muslimah dianggap lemah, di sisi lain dituntut sempurna. Fakta ini membuat banyak muslimah berjuang keras menjaga keseimbangan antara jati diri dan ekspektasi masyarakat.
Namun hari ini banyak muslimah yang mulai bangkit dan sadar akan potensi dirinya. Banyak muslimah yang berhijrah, kembali kepada Allah. Mereka mulai memperbaiki diri untuk melaksanakan seluruh syari'at Nya. Alhamdulillah, banyak muslimah mulai kembali pada ajaran Islam: berhijrah, memakai jilbab syar’i, belajar agama, dan bangga dengan identitas muslimah.
Sebagian muslimah menggunakan media sosial untuk dakwah dan edukasi, tapi banyak juga yang terjebak dalam budaya pamer, mengikuti standar kecantikan dunia.
Singkatnya, muslimah sekarang ada yang bangkit menjadi pilar peradaban, ada juga yang masih berjuang di tengah tantangan zaman. Muslimah peradaban Islam itu bukan sekadar seorang wanita muslim yang taat ibadah pribadi, tetapi sosok yang menjadi pilar peradaban—membangun, menjaga, dan menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.
Ciri-ciri muslimah peradaban bisa dilihat dari beberapa aspek:
1. Keimanan dan Ketaatan kepada Allah.
Menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup. Menjaga aqidah yang lurus, ibadah yang kuat, serta akhlak yang mulia.
2. Berilmu dan Berwawasan.
Mengutamakan ilmu, baik agama maupun dunia, untuk menjadi penopang peradaban. Contoh: Aisyah RA dikenal sebagai rujukan ilmu bagi sahabat dan tabiin.
3. Berperan dalam Keluarga dan Masyarakat.
Sebagai istri, ibu, dan pendidik generasi, ia melahirkan dan membina anak-anak yang berakhlak mulia dan bermental pemimpin. Sebagai bagian dari masyarakat, ia bisa berdakwah, menulis, mengajar, atau terlibat dalam kegiatan sosial.
4. Menjaga Kehormatan dan Identitas.
Berpakaian dan berperilaku sesuai syariat.
Menjadi teladan dalam menjaga iffah (kehormatan) di tengah arus zaman.
5. Aktif dalam Membangun Peradaban Islam.
Ikut memperjuangkan tegaknya nilai keadilan, kemuliaan, dan kebenaran. Tidak pasif atau hanya fokus pada dirinya, tetapi punya kontribusi nyata.
Muslimah peradaban Islam adalah wanita yang beriman, berilmu, berakhlak, menjaga kehormatan, dan berkontribusi aktif membangun masyarakat Islam.
Berikut contoh wanita shahabiyah (sahabat perempuan Rasulullah ﷺ) yang menjadi teladan muslimah peradaban:
1. Khadijah binti Khuwailid RA
Istri pertama Rasulullah ﷺ. Wanita kaya, cerdas dalam berdagang, dan dermawan. Sosok yang selalu mendukung dakwah Nabi di awal kerasulan, baik harta maupun jiwa.
2. Aisyah binti Abu Bakar RA
Istri Rasulullah ﷺ, dikenal sangat berilmu dan cerdas. Menjadi guru besar bagi para sahabat setelah Rasulullah wafat. Lebih dari 2000 hadits diriwayatkan melalui beliau.
3. Ummu Salamah RA
Istri Rasulullah ﷺ yang terkenal bijak. Pemberi masukan penting saat perjanjian Hudaibiyah sehingga umat Islam bisa menghindari konflik.
4. Nusaibah binti Ka’ab (Ummu Umarah) RA
Seorang pejuang yang ikut membela Rasulullah ﷺ dalam Perang Uhud. Terkenal dengan keberaniannya hingga terluka parah demi melindungi Nabi.
5. Asma’ binti Abu Bakar RA
Kakak dari Aisyah RA. Mendukung hijrah Rasulullah ﷺ dengan membawa makanan dan menyamarkan jejak. Digelari Dzatun Nithaqain (wanita pemilik dua ikat pinggang) karena mengikat makanan dengan kainnya.
6. Sumayyah binti Khayyat RA
Wanita pertama yang syahid dalam Islam. Teguh mempertahankan iman meskipun disiksa oleh kaum Quraisy.
Pada akhirnya, menjadi muslimah di era tantangan bukanlah perkara mudah, namun juga bukan hal yang mustahil. Dengan keimanan yang kokoh, ilmu yang bermanfaat, dan semangat dakwah yang terus menyala, setiap muslimah mampu menjadi cahaya di tengah kegelapan zaman. Mari terus melangkah dengan keyakinan bahwa setiap perjuangan di jalan Allah tidak akan pernah sia-sia. Dari tangan dan hati para muslimah tangguh, insyaAllah akan lahir peradaban yang penuh berkah dan kemuliaan. []
Masya Allah sangat menginspiratif. Barakallahu fiiki
ردحذفإرسال تعليق