Oleh Nur Hasanah, SKom
(Aktivis Dakwah Islam)
Kondisi Gaza hari ini semakin memburuk. Serangan demi serangan terus dilancarkan oleh entitas Zionis dengan dukungan penuh Amerika Serikat. Gaza tidak hanya dibombardir dengan rudal dan serangan udara, tetapi juga dikunci dari sisi darat, laut, dan udara. Blokade total yang telah berlangsung belasan tahun membuat Gaza seperti penjara terbuka terbesar di dunia. Sementara itu, gelombang serangan baru sejak akhir tahun lalu semakin mengerikan: ribuan nyawa melayang, infrastruktur hancur, dan rakyat Gaza dipaksa meninggalkan tanah airnya sendiri.
Namun, di tengah penderitaan itu, keteguhan rakyat Gaza dan para mujahidin justru semakin nyata. Mereka tidak menyerah, bahkan menolak semua bentuk kompromi yang akan menggadaikan tanah suci Palestina. Justru karena itulah, Amerika Serikat bersama sekutunya terus mendorong kembali “solusi dua negara” sebagai jalan keluar semu. (kompas.com 29/07/2025)
Solusi Dua Negara Adalah Jalan Ilusi
Solusi dua negara yang dipopulerkan AS dan sekutunya sejatinya adalah bentuk keputusasaan mereka. Mengapa? Karena berulang kali operasi militer dan genosida yang dilakukan Zionis tidak berhasil mematahkan perlawanan rakyat Gaza. Mujahidin tetap berdiri tegak, meski dihantam dengan teknologi perang tercanggih sekalipun. Maka, satu-satunya cara untuk menghentikan keteguhan itu adalah dengan melunakkan perjuangan mereka melalui jalur diplomasi.
Padahal, solusi dua negara sejatinya adalah bentuk legalisasi penjajahan. Jika disetujui, Palestina hanya akan diakui sebagai negara kecil di sebagian kecil tanahnya, sekitar 20–30% saja. Sementara lebih dari 70% wilayah Palestina yang asli akan tetap dikuasai oleh entitas Zionis. Itu artinya, pengakuan terhadap “Palestina merdeka” melalui solusi dua negara, sama saja dengan pengakuan resmi terhadap pencaplokan wilayah Palestina oleh Yahudi.
Di sinilah letak bahaya besar solusi ini. Ia bukan jalan pembebasan, melainkan jalan kompromi. Ia bukan langkah menuju kemenangan, melainkan pengukuhan kekalahan. Ironisnya, pemimpin-pemimpin negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, ikut menyuarakan solusi ini. Mereka berpikir telah mendukung Palestina, padahal justru semakin menjauhkan dari jalan pembebasan yang hakiki.
Kekuatan Zionis Semu, Umat Harus Bersatu
atu hal yang menyakitkan adalah kenyataan bahwa tidak ada satu pun negara yang benar-benar berdiri di sisi Gaza. Semua negeri Muslim mengambil posisi aman, bahkan sekadar mengirim pasukan atau bantuan militer pun tidak dilakukan. Mereka hanya mengirim bantuan kemanusiaan, itu pun terbatas dan penuh syarat.
Padahal, jika umat Islam di seluruh dunia digerakkan, mereka sangat mampu menghentikan agresi Zionis. Jumlah tentara di negeri-negeri Muslim mencapai jutaan, dengan persenjataan lengkap, termasuk senjata modern yang jauh lebih unggul daripada milik Zionis. Jika negeri-negeri Muslim benar-benar bersatu, peperangan ini hanya akan berlangsung singkat. Seperti yang diungkap oleh banyak pakar militer, kekuatan Zionis hanyalah semu. Tanpa dukungan Amerika Serikat, mereka tidak akan bertahan lama.
Namun sayangnya, negeri-negeri Muslim terikat oleh sistem politik sekuler warisan kolonial. Mereka dipimpin oleh rezim-rezim yang lebih takut kehilangan kursi dan dukungan Barat daripada memenuhi panggilan Allah untuk berjihad membela saudaranya. Inilah yang membuat Gaza seolah sendirian menghadapi gempuran Zionis.
Lantas, apa solusi syar’i atas genosida yang menimpa Gaza? Jawabannya jelas. Pengerahan pasukan Muslim untuk berjihad di jalan Allah. Inilah satu-satunya solusi yang dijamin Allah akan mendatangkan kemenangan. Rasulullah bersabda:
"Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi hingga salah seorang dari mereka bersembunyi di balik batu. Lalu batu itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, di belakangku ada seorang Yahudi, kemarilah dan bunuhlah dia’."
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa peperangan melawan Yahudi adalah keniscayaan sejarah, dan kemenangan ada di pihak kaum Muslimin. Dengan syarat, mereka bergerak sebagai umat yang satu, dipimpin oleh kepemimpinan yang satu pula.
Hari ini, jihad di Gaza tidak akan pernah mungkin dimenangkan jika hanya diserahkan kepada rakyat Gaza semata. Mereka tidak memiliki kekuatan militer yang sebanding. Mereka butuh dukungan penuh dari negeri-negeri Muslim di sekitarnya. Maka, solusi syar’i yang sejati adalah tegaknya institusi Negara Islam yaitu, sebuah kepemimpinan tunggal umat Islam yang akan menggerakkan seluruh potensi kaum Muslimin untuk membebaskan tanah suci Palestina.
Dalam Negara Islam, perbatasan-perbatasan buatan kolonialis akan hilang. Tentara Mesir, Suriah, Turki, Pakistan, Indonesia, dan seluruh negeri Muslim akan bersatu menjadi satu kekuatan raksasa. Zionis tidak akan mampu bertahan menghadapi gempuran umat yang bersatu. Bahkan, dengan izin Allah, kemenangan hanya akan memakan waktu sangat singkat bahkan bisa dalam hitungan satu jam saja.
Mengapa Umat Harus Menolak Solusi Dua Negara?
Pertama, karena solusi ini bertentangan dengan akidah Islam. Islam tidak mengenal kompromi dengan penjajah. Tanah umat Islam yang dirampas, wajib direbut kembali sepenuhnya.
Kedua, solusi dua negara hanya menguntungkan Zionis. Mereka tetap bisa berkuasa atas sebagian besar Palestina, dengan legitimasi dunia internasional.
Ketiga, solusi ini membungkam perlawanan rakyat Gaza. Mereka dipaksa menerima secuil tanah sebagai ganti dari seluruh tanah airnya yang dijajah.
Keempat, solusi ini mematikan semangat jihad umat Islam. Jika umat sudah dijejali dengan ilusi diplomasi, maka panggilan jihad akan dianggap ekstrem dan mustahil diwujudkan. Padahal justru jihadlah jalan pembebasan yang sesungguhnya.
Kini tugas besar umat Islam adalah menumbuhkan kesadaran bahwa solusi dua negara adalah jebakan. Kesadaran ini harus meluas ke seluruh negeri Muslim, sehingga tekanan dari rakyat membuat para penguasa tidak bisa lagi bersikap pasif.
Lebih dari itu, umat harus menuntut tegaknya kepemimpinan Islam yang akan mempersatukan kekuatan mereka. Tanpa kepemimpinan ini, jihad akan terhambat. Tetapi dengan kepemimpinan tunggal, jihad akan menjadi jalan mulus menuju pembebasan Palestina dan al-Quds.
Gaza tidak butuh solusi dua negara. Gaza butuh pembebasan penuh. Gaza tidak butuh diplomasi yang menipu. Gaza butuh pasukan umat Islam. Jalan satu-satunya adalah jihad fi sabilillah.
Sejarah membuktikan bahwa setiap kali umat Islam bergerak dengan iman dan persatuan, kemenangan selalu menjadi miliknya. Dan janji Allah adalah pasti, kebatilan akan hancur, dan kebenaran akan berjaya. []
إرسال تعليق