Oleh Endah Dwianti, SE, Ak,CA M.ak
                           Pengusaha


Kabar dari Sudan bukan lagi sekadar berita duka harian, melainkan cermin tragis dari kegagalan sistem global yang justru membiarkan penderitaan ini berlarut-larut. Ketika kita membaca fakta yang mengerikan: ribuan orang mengungsi, pembunuhan massal, dan pemerkosaan yang terus terjadi semakin mengerikan (Republika.id, 31 Oktober 2025), serta lebih dari 60 ribu warga di El Fasher mengungsi dalam empat hari akibat krisis yang melanda (Minanews, 11 Agustus 2025), kita dihadapkan pada sebuah ironi historis yang berulang.

Sudan, negara muslim terbesar ketiga di Afrika yang kaya akan sumber daya alam memiliki sungai Nil terpanjang, piramida lebih banyak dari Mesir, dan produsen emas Arab terbesar seharusnya menjadi kekuatan regional yang stabil. Namun, faktanya, negeri ini terperosok dalam krisis kemanusiaan berkepanjangan. Mengapa?

Argumen bahwa krisis Sudan adalah murni konflik etnis atau perebutan kekuasaan internal adalah narasi yang terlalu dangkal, menyesatkan, dan menguntungkan pihak-pihak yang sebenarnya menarik benang di balik layar. Realitas yang lebih pahit, sebagaimana dianalisis, adalah keterlibatan negara adidaya (AS dan Inggris) serta boneka regional mereka (Zionis dan UEA).

Inilah pergeseran fokus yang kritis: Sudan bukanlah medan perang lokal, melainkan objek permainan dan perebutan negara-negara adidaya yang didorong oleh kepentingan perampokan Sumber Daya Alam (SDA) dan ambisi geopolitik khususnya dalam konteks 'Proyek Timur Tengah Baru' AS. Kekayaan emas, minyak, dan lahan subur Sudan adalah piala yang diperebutkan. Konflik ini sengaja dipelihara dan diintensifkan, sebab bagi para hegemoni, negeri yang kaya tapi terpecah adalah negeri yang mudah dieksploitasi.

Lembaga dan aturan internasional, yang seharusnya menjadi penjamin keadilan, justru terasa menjadi bingkai kepentingan untuk melanggengkan hegemoni negara adidaya atas negeri-negeri Muslim. Ketika Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dilaporkan membunuhi warga di masjid-masjid dan rumah sakit (Republika.co.id, 31 Oktober 2025), respons dunia seolah berjalan di atas slow motion, penuh retorika, namun minim aksi nyata yang menghentikan pasokan senjata atau intervensi kepentingan asing. Ini adalah bukti nyata bahwa 'nilai kemanusiaan' global sering kali tunduk pada 'nilai komoditas' dan 'kekuatan geopolitik'.

Tragedi Sudan adalah panggilan alarm bagi seluruh umat untuk menaikkan level berpikir dan membaca setiap problem dunia dalam kacamata ideologis, perang peradaban antara Islam dan ideologi non-Islam, antara keadilan dan kerakusan hegemoni.

Kita tidak bisa terus-menerus terjebak dalam frame politik praktis Barat yang memecah-belah. Kesadaran kritis ini harus menuntun pada satu konstruksi fundamental: Umat harus disadarkan bahwa sistem Islam (Khilafah) adalah solusi komprehensif yang diharapkan mampu menyelesaikan krisis multidimensi, politik, ekonomi, dan kemanusiaan hingga rahmatan lil alamin benar-benar tercipta.

Ini bukan sekadar utopia emosional, melainkan sebuah keyakinan yang didorong oleh iman dan logika sejarah. Ketika negeri-negeri muslim terpecah menjadi puluhan negara-bangsa (nation state) buatan kolonial, mereka menjadi sangat rentan. Oleh karena itu, persatuan negeri-negeri Muslim di bawah naungan Khilafah menjadi keniscayaan. Ini adalah satu-satunya benteng yang secara struktural mampu melawan dan menghentikan hegemoni negara-negara kafir Barat yang terus membuat umat Islam terjajah, terpecah, dan menderita.

Ketenangan dan kedamaian sejati bagi Sudan, bagi Palestina, dan bagi negeri-negeri Muslim lainnya tidak akan datang dari resolusi PBB yang dipenuhi kepentingan, melainkan dari kekuatan kolektif umat yang bersatu. Tragedi Sudan harus menjadi momentum terakhir bagi umat untuk berhenti menjadi objek permainan dan mulai bertindak sebagai subjek peradaban.

Satu-satunya jalan keluar adalah menghilangkan konflik-konflik artifisial yang diciptakan oleh kekuatan luar dan menyatukan seluruh sumber daya, militer, dan politik di bawah satu kepemimpinan ideologis yang berpegang pada keadilan hakiki. Inilah misi yang harus dimotivasi oleh dorongan iman, bukan ambisi sesaat.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم