Oleh Eka Sulistya
Aktivis Dakwah
Dalam Islam, ilmu adalah cahaya. Ia bukan hanya sesuatu yang dihafal atau dicatat, tetapi sesuatu yang masuk ke hati, diaplikasikan dalam kehidupan, mengubah akhlak dan menuntun manusia menuju kebaikan. Namun cahaya ilmu tidak akan menetap pada hati yang kotor oleh kesombongan atau buruknya adab. Karena itulah para ulama sejak dahulu selalu menjaga adab sebelum mereka menjaga hafalan. Mereka percaya bahwa keberkahan ilmu bukan hanya datang dari kecerdasan, tetapi dari cara murid menghormati gurunya, dan cara guru membimbing murid dengan ikhlas.
1. Ilmu itu sebagai Amanah.
Dalam pandangan Islam, belajar bukan sekadar kegiatan duniawi. Belajar adalah ibadah. Guru yang mengajar dan murid yang mendengarkan sama-sama sedang beramal. Maka keduanya memiliki tanggung jawab besar: menjaga niat dan menjaga adab. Hal ini agar ilmu yang diberikan dan diterima tidak kehilangan keberkahannya. Ketika seorang murid menghormati gurunya, ia bukan menghargai manusia, tetapi menghormati ilmu yang dibawanya. Ketika seorang guru mengajar dengan niat yang tulus, ia sedang meneladani tugas para nabi, yaitu menyampaikan kebenaran tanpa berharap balasan dunia. Hubungan guru dan murid adalah hubungan yang melahirkan kebaikan, bukan hubungan transaksional.
2. Adab Murid Dalam Menuntut Ilmu
Para ulama menyebutkan bahwa adab bagi murid adalah gerbang pertama untuk memasuki dunia ilmu. Adab inilah yang membuat ilmu yang sedikit terasa luas, dan yang sulit menjadi mudah. Adab murid terhadap guru antara lain:
a. Menghormati Guru
Menghormati guru bukan hanya ketika di kelas, tetapi juga ketika tidak terlihat. Murid menjaga ucapan, tidak meremehkan guru, tidak mengangkat suara di atas suara guru, dan tidak menyebarkan aib atau kekurangannya. Ulama terdahulu berjalan jauh untuk menemui guru, lalu meminta doa sebelum belajar. Mereka yakin keberkahan ilmu datang dari keridhaan guru.
b. Mendengarkan Dengan Sungguh-Sungguh
Duduk dengan sopan, tidak memainkan sesuatu ketika guru berbicara, dan menatap dengan penuh perhatian adalah bentuk adab yang sangat menentukan keberhasilan belajar. Ilmu tidak akan masuk kepada hati yang sibuk dengan hal lain. Imam Nawawi bahkan berwudhu sebelum belajar sebagai tanda penghormatan.
c. Menjaga Kerendahan Hati
Tidak ada yang lebih menghalangi ilmu selain rasa "sok pintar dan sok tahu". Murid yang menganggap dirinya sudah mengerti segalanya sebenarnya sedang menutup pintu ilmu. Dalam Islam, semakin seseorang belajar, semakin ia merasa masih banyak yang belum dipahami. Kerendahan hati membuat murid lebih mudah dibimbing, dan akhirnya lebih mudah menerima keberkahan.
d. Mendoakan Guru
Doa murid untuk guru adalah bentuk rasa syukur. Bahkan banyak ulama yang menyebutkan bahwa salah satu adab terpenting adalah menhormati serta mendoakan guru. Ketika seorang murid menjaga hubungan baik dengan gurunya, maka ilmu yang ia dapatkan akan terus hidup dalam dirinya.
3. Adab Guru Kepada Murid
Guru memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Bahkan disebutkan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Maka adab seorang guru juga menentukan keberkahan ilmu. Adab guru terhadap murid antara lain:
a. Ikhlas Dalam Mengajar
Guru tidak mengajar karena ingin dipuji, dihormati, atau dibayar. Ia mengajar karena ingin menyampaikan kebenaran. Ketika niat guru lurus, maka kata-katanya masuk lebih dalam dan ilmunya lebih bermanfaat.
b. Lemah Lembut Dalam Mengajar
Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam mendidik umat. Beliau mengajarkan tanpa kasar, tanpa merendahkan. Guru yang lembut membuat murid mencintai ilmu, sementara guru yang keras membuat murid menjauhinya. Lemah lembut bukan berarti lemah, tetapi tegas dalam kebaikan dan bijaksana dalam menyampaikan.
c. Menjadi Teladan
Guru tidak hanya mengajarkan teori, tetapi akhlak. Murid sering meniru sikap gurunya tanpa sadar. Karena itu, akhlak guru adalah suatu pelajaran yang penting dan lebih kuat daripada kata-kata. Senyuman, kesabaran, ketegasan, dan kejujuran guru akan membentuk karakter murid.
d. Mendoakan Murid
Doa guru adalah salah satu hal paling berharga. Banyak ulama besar tumbuh dari doa guru yang tulus. Ketika guru mendoakan muridnya agar menjadi lebih baik, maka Allah akan memberikan memudahkan jalan mereka.
4. Adab Melahirkan Keberkahan
Ketika murid menghormati guru, dan guru membimbing dengan kasih sayang, maka suasana belajar berubah menjadi majelis ilmu. Ilmu yang diajarkan tidak hanya dipahami, tetapi hidup dalam hati. Ilmu yang diterima tidak hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga menjadi cahaya di akhirat.
Adab bukan pelengkap, tetapi sebagai fondasi. Ilmu tanpa adab seperti bangunan tanpa pondasi, goyah dan mudah runtuh. Tetapi adab yang baik akan membuat ilmu yang sedikit menjadi sangat berarti. Menuntut ilmu adalah perjalanan hati. Murid butuh adab untuk menerima ilmu, dan begitu pula guru butuh adab untuk menyampaikan ilmu. Ketika keduanya menjaga akhlak, maka ilmu yang dipelajari akan menjadi berkah, menjadi cahaya, dan menjadi sebab meningkatnya kedekatan kepada Allah.
Semoga kita menjadi murid yang tawadhu, guru yang ikhlas, dan me menjadi hamba yang selalu menjaga adab dalam setiap langkah mencari ilmu. Aamiin.[]
إرسال تعليق