Oleh Tjandra Sari A. Sutisno, M. Pd
               Guru dan Aktivis Dakwah 


Peristiwa terkini di sekitar kita terkadang membuat kita harus peka terhadap keadaan. Referensi yang kita ambil adalah sumber terpercaya atau legal sesuai fakta. Bagaimana antara satu dan yang lainnya sama, tanpa ada tendensius atau dominasi dimana pun. Keakuratan kisah pun tidak direkayasa, namun benar apa adanya tidak ada keberpihakan manapun. Kita sebagai masyarakat pastinya, mengikuti arah jalannya pemerintahan mau ke kanan atau ke kiri atas atau bawah. Karena sejatinya semua itu sudah menjadi hukum alam, tanpa ada perlawanan. Berharap adanya perbaikan dari setiap kehidupan yang fana ini. 

Dunia penuh sandiwara, sebagaimana lantunan lagu yang begitu akrab di telinga kita pada zaman itu. Berita yang seharusnya menjadi landasan masyarakat, bukan malah membingungkan atau lebih ngerinya lagi sebagai ajang meyesatkan pemikiran. Sudahlah, kekacauan dimana-mana yang pasti jadi tambah ruwet.

Berita adalah informasi aktual yang datang dari kejadian sesungguhnya, sedangkan cerita sebagai sarana penerjemah dari berita tersebut. Di saat semuanya tidak lagi menggunakan akal sehat, maka kehidupan pastinya serba berantakan, mulai dari hulu hingga ke hilir. Persis seperti yang sekarang terjadi, tak sedikit orang melampiaskan kemarahan atas tingkah polah minimnya adab.

Rujukan kita kepada siapa kalau bukan dari pengayom rakyat. Mengadu ke mana bila bukan pada pemimpin. Kebijakan para pejabat dan pemangku aturan, harusnya saling koordinasi satu sama lain. Namun apa yang terjadi bila semua itu berbalik arah, lempar sana lempar sini banyak yang tidak sesuai prosedur atau jobnya masing-masing. Bagian yang satu dengan yang lain mencari pencitraan sesukanya. Sibuk sikut kanan atau kiri, kalau bisa makan teman sendiri demi tahta, wanita atau harta. Seperti berada di hutan rimba, tak mengenal prikemanusiaan yang lemah ditindas tanpa ampun.

Mana ham (hak asasi manusia) yang sering didengung-dengungkan, sepi tak bersuara karena tahulah ya bukan sesuatu rahasia lagi. Hukum tinggallah mimpi, hanya sekadar selembar kertas tanpa makna apa-apa bila pelaku berasal dari kalangan mereka sendiri. Berbeda bila oknumnya dari warga hamba sahaya, sudah pasti akan ditegakkan sekejam-kejamnya astaghfirullah. Mau bilang apa wahai rakyat yang mau dijilat, menunggu kapan sadar.

Mengapa Harus Islam?

Sekelumit kisah tanda sudah begitu dekatnya kiamat dengan sejuta problematika. Coba kita sama-sama menghayati semuanya, atau berfikir kenapa bisa terjadi apa yang salah adakah solusi. Mohon izin kita kupas secara  Islam, karena bagaimanapun juga agama ini adalah sesuai dengan fitrah manusia yang menenangkan hati dan menentramkan jiwa.

Dengan solusi melalui perspektif Islam berarti menyatukan antara ikhtiar (usaha nyata) dan tawakal (penyerahan diri kepada Allah Ta'ala). Dalam Islam, setiap tantangan dipandang sebagai bagian dari proses pendewasaan spiritual dan intelektual. Kita mayoritas Islam, apa salahnya semua aktivitas bersandar pada agama yang kita pilih. Agama yang kesehariannya kita jalani, tanpa paksaan atau keberatan.

Islam mengatur secara detail, menjadikan sabar dan salat sebagai penolong untuk menjaga ketenangan pikiran agar dapat berpikir jernih. Rasa yang tulus tidak berdebat panjang, menunjukan hati selalu terpaut denganNYA. Informasi atau berita apapun merujuk pada Al Qur'an dan Hadis, maka sampaikanlah walaupun hanya satu ayat. Karena dakwah itu wajib, tidak hanya tugas ustadz atau ustadzah namun kita semua harus saling mengingatkan.

Memastikan bahwa solusi yang diambil tidak melanggar syariat, jujur, dan tidak merugikan orang lain (prinsip Lā darara wa lā dirāra). Cerita atau kisah yang viral, ada baiknya kita klarifikasi atau tabayun bagaimana sesungguhnya. Agar tidak menimbulkan fitnah, sejatinya fitnah itu lebih kejam dari membunuh. Astaghfirullah ngeri sekali bukan, akibat atau dampak dari gosip yang tersebar.

Islam memaslahatkan umat, terkadang solusi tercepat bukanlah yang terbaik dalam berbagai bidang. Fokuslah pada solusi yang paling membawa ketenangan dan keberkahan jangka panjang. Dalam permasalahan ini mulai dari akar hingga daun, perlu melibatkan orang lain yang ahli atau dipercaya. Diskusi kolektif seringkali membuka sudut pandang yang tidak terlihat secara personal. ​Berpikir Kritis (Tafakkur) menganalisis masalah secara mendalam. Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu agar dapat menyelesaikannya dengan cara yang benar dan efektif.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم