Oleh Alfaqir Nuuihya
                    Pemerhati Umat


Israel kembali membebaskan 422 aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) yang tergabung dari 44 negara di antaranya dari negara Australia, Belgia, Kanada, bagian negara Arab, bahkan dari negara kita sendiri, Indonesia pada hari Kamis, 21 Mei 2026 setelah sebelumnya para aktivis ini ditangkap pada senin lalu di perairan internasional. Mereka diterbangkan dari Israel ke negara fasilitator, Turki, untuk kemudian diterbangkan ke negaranya masing-masing. Dikutip dari (iNEWS.ID, Jumat, 22 Mei 2026).

Bianca Webb-pullman seorang dokter asal Australia dan Adrien Jouan, yang berasal dari Perancis yang tergabung dalam aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) mengungkapkan pengalaman mengerikan yang mereka dapatkan selama menjadi tahanan militer Israel. Mereka mengalami penyiksaan yang sangat brutal seperti disetrum, dipukul hingga banyak aktivis yang mengalami patah tulang, serta kekerasan fisik lainnya. Bahkan kapal yang mereka tumpangi pun tidak luput dari tembakan para tentara Zionis tersebut.

Adrien Jouna bahkan mengungkapkan bahwa kekerasan fisik yang dialami oleh para aktivis kulit putih yang disinyalir orang-orang Arab, lebih brutal lagi.

Tidak jauh beda dengan pernyataan para aktivis luar negeri, WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) mengungkapkan kekerasan fisik serupa yang mereka alami selama menjadi tahanan militer Israel. Mereka ditendang berkali-kali, diinjak, bahkan disetrum.

Rahendro Herubowo dan Andre Prasetyo Nugroho menambahkan bahwa selama mereka dalam penahanan militer Israel, diharuskan diam lama dengan posisi menundukkan kepala seperti posisi sujud. Dikutip dari (iNEWS.ID, Jum'at, 22 Mei 2026).

Keberanian tentara Israel dalam memperlakukan para aktivis GSF secara brutal adalah bentuk perlawanan bagi siapa saja yang hendak membela Palestina. Keberanian mereka didasari oleh sikap Barat dan pihak internasional yang membiarkan sikap kesewenang-wenangan tersebut. Secara langsung bahwa internasional khususnya, menyatakan dukungan atas sikap kolonialisme Zionis terhadap Palestina.

Sebagaimana kita ketahui saat ini, hukum internasional tidak pernah bisa bersikap netral dan lebih berpihak terhadap kepentingan besar suatu negara, khususnya Israel, sehingga melahirkan sikap represif Zionis. Begitupun pelanggaran perang akan terus dibiarkan, sehingga Zionis memiliki sikap arogansi, bebal hukum, bahkan tidak ada rasa ketakutan sedikitpun karena mendapatkan jaminan keamanan dari pihak internasional. 

Meskipun sebenarnya kejahatan dan kebiadaban yang mereka lakukan dalam peperangan tersebut telah memenuhi unsur pidana kelas berat yang mereka tetapkan sendiri, namun hukuman tersebut tidak bisa diterapkan kepada Israel karena mereka mendapatkan dukungan mayoritas dan perlindungan dari barat khususnya PBB di bawah kendali Amerika Serikat.

Lemahnya Negara-negara Muslim

Penderitaan yang dialami warga Palestina sampai saat ini berlarut-larut tanpa penyelesaian yang konkret. Pembantaian yang mereka alami secara sistemik tetap membuat bungkam para pemimpin negara muslim.

Mereka mengalami kelaparan yang terus menerus, tidak adanya jaminan kesehatan, infrastruktur habis akibat genosida tersebut, pendidikan bagi anak-anak terbengkalai, bahkan untuk bertahan hidup saja mereka kesulitan. Namun ternyata, keadaan memilukan tersebut tidak membuat para pemimpin muslim peka terhadap penderitaan yang dialami oleh warga Palestina.

Para pemimpin negara Islam justru berpangku tangan atas kolonialisme yang dilakukan oleh Zionis tersbut. Mereka tidak mampu menunaikan amanahnya sebagai seorang pemimpin untuk memberikan pertolongan terhadap umat islam khususnya warga Palestina, dan menjadi bukti bahwa para penguasa muslim lemah dan tidak berdaya di bawah kekuasaan dan kepentingan politik barat atas umat Islam. Bahkan sebagian dari pemimpin muslim, secara jelas memberikan dukungan terhadap Israel namun mempersulit bantuan untuk warga Palestina. 

Penyelesaian atas Zionis

Kutukan yang dilakukan oleh para pemimpin dunia khususnya negara IsIam di atas podium tidak akan pernah bisa membuat genosida yang dialami warga Palestina berhenti. Penindasan, kekejian, pembantaian yang dilakukan oleh Zionis Israel tidak akan selesai hanya dengan retorika atau diplomasi yang katanya sudah diusahakan selama ini oleh para pemimpin negara Islam.

Bahkan peraturan perang internasional yang ditetapkan oleh PBB, nyatanya tidak pernah bisa dipenuhi oleh Zionis Israel. Genjatan senjata yang berulang kali mereka sepakati selalu dikhianati. Sikap pongah Zionis Israel pun tidak luput karena adanya dukungan negara barat khususnya Amerika Serikat terhadap blokade, genosida, pembantaian, pengusiran, dan perebutan tanah Palestina. Sungguh, Zionis Israel tidak akan berhenti selama tujuan mereka untuk melenyapkan warga Palestina belum tercapai.

Kebiadaban Zionis Israel hanya bisa berhenti jika mereka dikalahkan dalam peperangan tersebut. Dengan mengirimkan para tentara muslim untuk melawan tentara Zionis Israel, membumi hanguskan mereka, begitupun melenyapkan peraturan internasional yang sebenarnya selalu menyudutkan umat IsIam, maka kemerdekaan Palestina pasti akan tercapai.

Jihad sebagai Solusi Utama

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan (tidak) pula kepada hari kemudian, mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), yaitu orang-orang yang diberikan Alkitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh dalam keadaan tunduk." (QS At-Taubah : 9).

Genosida yang dilakukan oleh Israel hanya bisa diselesaikan dengan cara melawan mereka di medan perang atau jihad. Jihad yang dipastikan akan memberikan perlindungan terhadap infrastruktur, rakyat sipil, para relawan kemanusiaan. Sehingga para relawan akan terjauh dari pengalaman kekerasan fisik, verbal dan seksual seperti yang dialami oleh para aktivis GSF.

Jihad di bawah aturan IsIam  hanya bisa dilaksanakan di bawah kepemimpinan kekhalifahan Islam. Dengan bersatunya seluruh pemimpin negara IsIam di bawah naungan khalifah, maka jihad pasti akan terlaksana dengan baik dan benar, bukan semata melumpuhkan suatu wilayah, namun juga menyebarkan agama islam yang bersifat rahmatan lil alamain. Dengan ditegakkannya Khilafah, maka rasa nasionalisme yang menjadi salah satu penghalang bantuan terhadap Palestina pun pasti akan terhapus.

Karena hanya dengan ditegakkannya Khilafah, bukan hanya genosida yang dialami warga Palestina yang dipastikan akan lenyap. Namun keadilan di seluruh seantero negeri akan tegak, sistem kapitalisme yang selama ini hanya berpihak terhadap negara adidaya pun akan lenyap. Seluruh umat Islam di dunia dipastikan akan mendapatkan kemakmuran, kehidupan terjamin, dan setiap individu muslim memiliki aqidah yang menancap kuat. Begitu pula orang-orang kafir yang tunduk di bawah kekuasaan Islam akan mendapatkan hak yang sama seperti yang didapatkan warga muslim. Dan dipastikan IsIam akan kembali meraih izzah.

Waallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم