Oleh Rui Calma 
                   (Aktivis Muslimah)


Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) belum reda, bahkan terus mengintai para pekerja. Terungkap realitas PHK di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Depok, Banten, Jawa Timur, dan lain-lain.  

Penyebab yang begitu signifikan, mengapa PHK ini terjadi mengarah pada konflik global yang tak kunjung usai, pelemahan nilai tukar rupiah, dan akibat dari itu semua biaya produksi mahal hingga membebani dunia usaha. Mari kita kupas realitas PHK massal para pekerja yang tak kunjung reda ini.

Kenyataan Pahit Membayangi Para Pekerja

Realitas pahit para pekerja salah satunya yang diungkapkan oleh Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan juga Partai Buruh, dia mendapati informasi dari basis anggota KSPI di perusahaan manufaktur di Depok adanya PHK 350 pekerjanya, hal ini terjadi karena perusahaan akan tutup operasional dipicu kenaikan harga bahan baku, ongkos produksi, dan kalah saing dengan kompetitor lain. (Cnnindonesia.com 26/5/2026)

Beberapa wilayah lain juga seperti pabrik sepatu dan tekstil di Banten mengalami PHK dengan motif efisiensi. Alasan tersebut juga sama dengan pabrik tekstil dan garmen di Jawa Timur, ungkap Iqbal. (kompas.id 24/4/2026)

Efisiensi menjadi hal yang perlu dilakukan oleh berbagai perusahaan karena bahan baku naik yang membebani perusahaan, akibat konflik global dan lemahnya nilai tukar rupiah. Efisiensi pun dilakukan perusahaan internasional Meta untuk meningkatkan infrastruktur AI dengan memangkas sekitar 8000 karyawannya atau 10% total karyawannya. 

Meta pun mengarahkan karyawan yang sudah di-PHK lewat email masuk ke "Portal Alumni" untuk rincian pesangon, visa, tunjangan, dan bantuan pencarian kerja. Ini dilakukan karena kartu akses mereka dinonaktifkan. (Inet.detik.com 23/5/2026)

Para pekerja yang di-PHK di Indonesia untuk mencari lowongan pekerjaan baru gapnya cukup besar. Rata-rata 1 lowongan kerja bisa 500 sampai 600 pencari kerja yang melamar. Belum persaingan yang cukup ketat di posisi umum  di perusahaan besar, beberapa kasus jumlah pelamar bisa sampai ribuan. (Cnnindonesia.com 29/5/2026)

Pahitnya kenyataan para pekerja di dunia kerja saat ini, tentu menyebabkan masyarakat gelisah.  Bagaimana mereka harus memenuhi kebutuhan hidup di saat PHK massal melanda, dan ketatnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. Apa sebab kian hari kian sulit?

Sistem Kapitalisme Terbukti Gagal Sistemis

Mengenal sistem kapitalisme ialah keniscayaan yang harus diketahui oleh masyarakat, karena sistem inilah yang diterapkan dalam kehidupan kian hari ini. Berbagai problematika yang terjadi, salah satunya PHK massal sebenarnya adalah buah logis dari sistem kapitalisme yang menjadikan buruh sebagai komoditas. 

Dalam sistem kapitalisme tenaga kerja atau buruh disamakan dengan komoditas lainnya, sehingga dipandang sebagai komponen produksi. Akibatnya bila tenaga kerja dinilai tinggi biayanya dan tidak menghasilkan keuntungan yang maksimal, maka bisa dibuang atau di-PHK dalam sistem ini. Sistem yang tidak manusiawi dan hanya mementingkan keuntungan segelintir orang.

Sistem kapitalisme juga telah memusatkan modal hanya pada segelintir orang. Sehingga wajar lapangan pekerjaan menjadi terbatas yang tentu bukan karena kurangnya kebutuhan kerja, tetapi karena hanya dibuka bila menguntungkan segelintir orang atau bisa kita sebut pemilik modal.

Bagaimana peran negara dalam sistem kapitalisme? Sayangnya, negara hanya menjadi penjaga kepentingan para pemilik modal atau para korporat. Ketika badai PHK melanda demi efisiensi untuk menghindari kerugian bagi para korporat, negara paling jauh hanya memberi penawaran jaring pengaman sosial bagi para buruh. 

Hal ini tentu tidak memberikan solusi kesejahteraan bagi para buruh. Justru membiarkan buruh yang hanya memiliki modal berupa tenaga untuk bekerja semakin terhimpit kehidupannya tanpa ada perlindungan dan jaminan kesejahteraan dari negara, seakan dianaktirikan bahkan lebih jauh lagi.

Islam Tawarkan Solusi Nyata 

Negara dalam sistem Islam adalah raa'in (pemimpin), yaitu penjaga, pelayan, dan pengurus rakyatnya. Maka, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Seperti dalam hadis, Rasulullah saw bersabda, "Setiap kalian adalah raa'in (pemimpin) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya ..." (HR. Bukhari & Muslim)

Maka, sudah semestinya bagi negara wajib  melayani rakyatnya dengan adanya jaminan kerja bagi para pencari nafkah. Sebab, nafkah adalah kewajiban individu yang harus difasilitasi oleh negara, sehingga dalam sistem Islam, PHK massal tidak akan terjadi karena orientasi negara adalah kesejahteraan rakyatnya. Ini tentu berbeda jauh dengan negara sistem kapitalisme yang justru menghasilkan PHK massal demi kepentingan para pemilik modal.

Negara dalam sistem Islam juga akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang memutus rantai ketergantungan pada pemilik modal, atau korporat seperti dalam sistem kapitalisme. Sebab, dalam sistem Islam ada struktur kepemilikan yang dibangun oleh negara untuk mencegah monopoli dan ketimpangan.

Struktur kepemilikan ini berdasarkan sumber Al-Qur'an dan Hadis. Masing-masing kepemilikan secara rinci sudah dijelaskan, dan negara hanya menjaga serta menjalankannya. Tiga struktur kepemilikan tersebut yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Alhasil, dari distribusi kepemilikan yang adil sesuai posnya, maka tercipta ekosistem ekonomi yang luas dan beragam.

Sistem Islam juga menghadirkan baitulmal sebagai jaminan nyata untuk melayani, mengurusi, dan menjaga rakyat. Negara dalam sistem Islam wajib secara penuh memenuhi pelayanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara langsung bagi setiap individu rakyat yang dana anggarannya berasal baitulmal.

Pemasukan baitulmal sendiri berasal dari zakat (khusus disalurkan kepada 8 golongan asnaf), fa'i, ghanimah, kepemilikan umum, dan lain-lain. Inilah solusi nyata untuk kesejahteraan rakyat tanpa membeda-bedakan rakyatnya, terhindar dari ketimpangan dan gap yang sangat jauh antara orang kaya dan miskin. Oleh karena itu, orientasi Islam adalah kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.
 
Wallahualam bissawab.[]

Post a Comment

أحدث أقدم