Lia Ummu Thoriq 
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)


Dalam kehidupan ini pasti ada ujungnya. Salah satu contohnya adalah sekolah. Kita bersekolah dari TK sampai S3. Selain itu contohnya bekerja, pasti ada waktu untuk berhenti. Karena tidak mungkin kita sebagai manusia akan bekerja terus menerus. Pasti ada masa pensiun. Begitu juga dengan kehidupan kita, pasti kehidupan ini ada ujungnya. Ujung dari kehidupan adalah kematian. Tidak ada manusia yang hidup seribu tahun lamanya.

Dalam menyambut kehidupan kita harus mempersiapkan kematian. Tidak bisa dadakan dan juga tidak bisa instan. Kerena kita akan memasuki kehidupan yang baru, kehidupan akhirat yang akan kekal dan abadi didalamnya. Bagaimana kita mempersiapkan kematian agar kemarin kita indah? Jawaban adalah setiap aktivitas yang kita lakukan sehari-hari harus bernilai ibadah. Aktivitas kita dinilai ibadah jika aktivitas yang kita lakukan kita niatkan untuk Allah SWT atau beribadah kepada Allah SWT. Niat itu seperti alamat, jika kita mengirim paket salah alamat maka paket tidak akan sampai. Begitu juga kita dalam menjalani kehidupan, jika salah niat maka aktivitas kita akan sia-sia atau tidak dapat pahala.

Niat secara bahasa artinya adalah Al qashdu (maksud) dan Al iraadah (keinginan). Ibnu Taimiyah rahimahullah "niat letaknya di dalam hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat dihatinya tanpa ia lafadzkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama (majmuah Al fatwa).

Fungsi Niat

Adapun fungsi niat ada tiga:
Pertama, sebagai pembeda antara ibadah satu dengan ibadah yang lain. Contohnya adalah ibadah fardhu ain dan fardhu kifayah.

Kedua, sebagai pembeda antara ibadah dengan kebiasaan. Contohnya adalah puasa berarti meninggalkan makan dan minum hal ini didasarkan pada aturan Allah. Namun ada orang yang meninggalkan makan dan minum karena kebiasaan, tanpa ada niat untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.
Ketiga, sebagai pembeda tujuan seseorang dalam beribadah. Contohnya adalah seseorang beribadah untuk mengharapkan pahala dari Allah namun ada seseorang yang beribadah agar mendapatkan pujian dari manusia.


Urgensi Niat yang Benar

Niat memiliki merupakan hal yang penting dalam menjalani kehidupan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, "Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah SWT, pasti tidak bermanfaat dan tidak kekal." 

Urgensi niat ada dua:
Pertama, agar mendapatkan pahala dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana hadits dari Umar Bin Khattab RA beliau berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya setiap amal atau aktivitas kita sehari-hari tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah SWT dan rasul-nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-nya. Dan siapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin dicapai atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan" (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Kedua, tidak mudah kecewa. Ketika kita niat setiap apa yang kita lakukan untuk menggapai ridho Allah SWT maka jika kita jatuh atau tidak sesuai dengan harapan kita makan kita tidak akan kecewa. Karena hasil itu diluar kekuasaan kita, kita serahkan semuanya kepada Allah. Pasti Allah memberikan yang terbaik untuk hambanya.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran atau hikmah agar seluruh aktivitas kita di dunia hendaklah kita niatkan semuanya untuk mencari keridhaan Allah. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Az Zamuzi dalam Kitab Ta'lim Mutaalim, Seseorang penuntut ilmu hendaknya mempunyai niat untuk mencari keridhaan Allah SWT, agar mendapatkan pahala, menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya dan kebodohan orang-orang yang masih, bodoh serta berniat menghidupkan dan melanggengkan agama Islam 

Bahaya Salah Niat

Kisah Mujahid yang Masuk Neraka. Pada hari kiamat, ada seorang pria yang maju menghadap Allah SWT. Semasa hidupnya, ia ikut berperang hingga terbunuh dan dianggap sebagai syuhada (orang yang mati syahid). Allah mengingatkan nikmat-Nya: Allah memperlihatkan segala kenikmatan dunia yang telah diberikan kepadanya, dan pria itu mengakuinya.
Pertanyaan Allah: Allah bertanya, "Apa yang telah kamu lakukan di dunia dengan nikmat-nikmat tersebut?"

Jawaban sang pria: Pria itu menjawab, "Aku telah berperang di jalan-Mu ya Allah, hingga aku mati syahid."  Bantahan Allah: Allah berfirman, "Kamu dusta! Kamu berperang bukan karena Aku, melainkan hanya agar orang-orang mengatakan bahwa kamu adalah seorang yang pemberani (gagah/pahlawan). Dan pujian itu telah kamu dapatkan di dunia." Akhir yang tragis: Setelah niat aslinya terbongkar, Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret pria tersebut dengan wajah tertelungkup di tanah, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka. Kisah ini bersumber dari Hadits Riwayat Muslim (No. 1905), dalam bab yang membahas tentang ancaman keras bagi orang yang beramal demi kepopuleran dan pujian manusia.

Jangan pernah berharap kepada makhluk, berharaplah kepada yang menciptakan makhluk. Yakinlah Allah SWT akan membalas kebaikan yang kita lakukan. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarrah, maka dia akan menerima balasannya." (QS. Al zalzalah 7) []

Post a Comment

أحدث أقدم