Oleh Eka Sulistya
Beberapa tahun terakhir, vision board menjadi tren. Orang-orang menempelkan foto rumah impian, kendaraan mewah, tabungan yang terus bertambah, tubuh ideal, bisnis yang berkembang, hingga perjalanan keliling dunia. Katanya, apa yang sering dilihat akan menjadi penyemangat untuk diwujudkan. Namun, pernahkah seorang muslimah berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri,
"Jika semua impian dunia itu tercapai, apakah aku juga semakin dekat dengan Allah?" Pertanyaan itu sederhana, tetapi sering kali menggetarkan hati. Sebab tidak sedikit di antara kita yang begitu sibuk merancang masa depan dunia, hingga lupa merancang bekal untuk kehidupan yang kekal. Kita memiliki daftar target tahunan, tetapi tidak memiliki target untuk memperbaiki shalat. Kita menulis mimpi membeli rumah, tetapi lupa menulis keinginan menjadi penghuni surga. Kita mengejar pencapaian yang terlihat manusia, namun lalai mengejar kemuliaan yang hanya diketahui Allah. Padahal kehidupan dunia hanyalah persinggahan yang sangat singkat.
Seorang muslimah sejatinya juga memiliki vision board. Namun, papan visinya tidak hanya dipenuhi gambar-gambar indah, melainkan juga dipenuhi doa, harapan, dan tekad untuk menjadi hamba yang dicintai Rabb-Nya.
Di sudut papan itu mungkin tertulis, "Aku ingin menjaga shalatku lebih baik."
Di sisi lainnya tertulis, "Aku ingin lebih mencintai Al-Qur'an daripada layar ponselku."
Ada pula doa yang sederhana, "Ya Allah, jadikan lisanku lebih banyak berdzikir daripada menggunjing."
Lalu ada impian yang paling indah, "Aku ingin berkumpul kembali dengan keluargaku di surga-Mu."
Bukankah itu jauh lebih berharga daripada sekadar daftar pencapaian dunia?
Karena rumah termewah akan ditinggalkan. Kendaraan terbaik akan berpindah tangan. Jabatan akan selesai. Popularitas akan memudar. Bahkan foto-foto yang kita banggakan suatu hari hanya akan menjadi kenangan.
Tetapi satu sujud yang ikhlas. Satu ayat yang dibaca dengan penuh cinta. Satu air mata yang jatuh karena takut kepada Allah. Tidak akan pernah sia-sia. Semuanya tersimpan rapi di sisi-Nya.
Muslimah yang cerdas bukanlah yang mampu merencanakan sepuluh tahun ke depan, tetapi yang mampu mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Sebab kita tidak pernah tahu, apakah umur kita masih panjang atau justru tinggal hitungan hari.
Betapa banyak orang yang pagi harinya masih menyusun rencana, namun sore harinya namanya telah dipanggil untuk menghadap Allah.
Kematian tidak pernah menunggu semua mimpi selesai.
Karena itu, jangan biarkan papan visi kita hanya dipenuhi keinginan dunia.
Tuliskan juga keinginan untuk menjadi anak yang lebih berbakti kepada orang tua. Menjadi istri yang menguatkan suami dalam ketaatan. Menjadi ibu yang melahirkan generasi yang mencintai Islam. Menjadi sahabat yang mengajak kepada kebaikan. Menjadi muslimah yang istiqomah menutup aurat , menjaga pandangan, menjaga lisan, dan menjaga hati.
Tidak mengapa jika impian duniamu sederhana.
Tidak mengapa jika rumahmu biasa saja.
Tidak mengapa jika hartamu tidak sebanyak orang lain.
Yang paling penting adalah, ketika Allah memandangmu, Dia melihat hati yang selalu berusaha taat kepada-Nya. Sebab ukuran sukses di sisi Allah tidak sama dengan ukuran sukses menurut manusia.
Di mata manusia, seseorang dipuji karena kekayaannya.
Di sisi Allah, seseorang dimuliakan karena ketakwaannya.
Di mata manusia, seseorang dikenal karena pengikutnya yang banyak.
Di sisi Allah, seseorang dicintai karena keikhlasannya.
Maka, jangan pernah iri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan hatinya di hadapan Allah.
Yang perlu kita sibukkan adalah memperbaiki diri setiap hari.
Jika hari ini lebih baik dari kemarin dalam ibadah, itu adalah keberhasilan.
Jika hari ini lebih mampu menahan amarah, itu adalah pencapaian.
Jika hari ini lebih sedikit mengeluh dan lebih banyak bersyukur, itu adalah kemenangan.
Dan jika hari ini kita lebih dekat kepada Allah daripada kemarin, maka itulah impian yang benar-benar sedang diwujudkan.
Mari susun kembali vision board kita.
Jangan hanya tempelkan gambar dunia yang sementara, tetapi tempelkan pula harapan untuk menjadi ahli tahajud, pecinta Al-Qur'an, pribadi yang lembut akhlaknya, ringan bersedekah, menjaga amanah, dan istiqomah hingga akhir hayat.
Karena sesungguhnya, tujuan terbesar seorang muslimah bukanlah menjadi wanita yang paling dikagumi manusia, melainkan menjadi hamba yang paling diridhai Allah.
Semoga setiap impian yang kita tulis selalu dimulai dengan niat karena Allah, dijalani dengan cara yang Allah ridhai, dan berakhir dengan husnul khatimah.
Sebab kelak, saat semua papan visi dunia telah usang dan seluruh mimpi telah ditinggalkan, hanya satu harapan yang benar-benar ingin kita dengar dari Rabb semesta alam:
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
Semoga itulah akhir perjalanan yang menjadi visi terbesar setiap muslimah: bukan sekadar berhasil di dunia, tetapi pulang dengan membawa ridha Allah dan memperoleh kenikmatan surga yang abadi. []
إرسال تعليق