Oleh Alfaqir Nuuihya 
Ibu Pemerhati Masalah Sosial


Salah satu "keunikan" di negeri tercinta kita menjelang Ramadan adalah kenaikan harga pangan. Padahal pangan termasuk kebutuhan utama manusia, urgen, dan harus dipenuhi setiap saat. Kenaikan harga pangan menjelang Ramadan adalah kejadian klasik yang terus berulang setiap tahunnya, tanpa pernah ada penyelesaian yang berarti, mengakar, bahkan tuntas meskipun inspeksi dadakan dilakukan secara terus-menerus di berbagai pasar.

Pasar Cisaat dan Pasar Sukaraja pun tidak luput dari sidang dadakan (sidak) oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi. Inspeksi dadakan ini dilaksanakan untuk mengintervensi kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) terhadap berbagai komoditas utama, seperti cabai merah, beras, bahkan minyak goreng. (PelitaSukabumi.com, 18/2/2025)

H Ade Suryaman, selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, memimpin sidak pasar, sekaligus meninjau langsung setiap harga kebutuhan pokok menjelang Ramadhan ini. Sembari berdialog dengan pedagang agar mengetahui penyebab kenaikan barang yang tidak pernah berubah setiap tahunnya, dan bersama-sama mencari solusi agar harga pangan menjelang Ramadan relatif stabil. 

Berbagai permasalahan naiknya harga pangan sering dikemukakan oleh pemerintah. Alasan klasik seperti pendistribusian yang sulit merata, permintaan masyarakat lebih banyak jika harus dibandingkan dengan produksi barang tak luput dari bualan pemerintah dalam mencari alasan.

Namun, sering kali yang terjadi di lapangan adalah penimbunan barang oleh para pemilik modal, sehingga menyebabkan tidak meratanya pendistribusian bahan pangan ke berbagai daerah, mengakibatkan kelangkaan barang tersebut, sehingga menjadi lahan untuk melonjakkan harga barang setinggi mungkin.

Para penimbun bahan pangan inilah yang memiliki peran  penting dalam menaikan harga jual. Ramadan, Idulfitri, bahkan hari besar lainnya bagi mereka adalah lahan untuk menaikkan harga barang dan meraup keuntungan sebesar-besarnya. Di satu pihak, masyarakat tetap membeli bahan pangan tersebut karena terdesak oleh kebutuhan sehari-hari.

Inspeksi dadakan yang dilakukan pemerintah pun seakan ritual belaka. Meskipun katanya pemerintah terus memantau pergerakan harga agar tidak melonjak, dan meskipun   pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk mengantisipasi lonjakan harga, tetapi pada faktanya kenaikan harga terus merangkak naik apalagi jika mendekati Idulfitri.

Ekonomi Kapitalisme Biang Masalah

Ketidakmampuan negara dalam menjamin kestabilan harga pangan di pasaran diakibatkan oleh sistem yang diterapkan di negeri ini. Kebijakan ekonomi kapitalis, hanya berorientasi pada keuntungan. Sedangkan negara hanya mampu menjadi regulator bagi para pemilik modal tanpa memikirkan kesulitan rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Lagi dan lagi, dalam sistem kapitalis, rakyat tak ubahnya objek. Dibiarkan mencari penyelesaian sendiri, meskipun negaralah biang kerok dari setiap permasalahan. 

Rakyat dibiarkan memenuhi kebutuhan pangan meski harga membumbung tinggi, dan dibenturkan dengan keadaan pendapatan yang sangat rendah. Akibatnya masyarakat semakin jauh dari kesejahteraan akibat pemerintah yang lalai akan perannya sebagai pengatur rakyat. 

Ekonomi Islam

Pemerintah Islam akan mampu menjamin untuk menjadikan pasar dengan persaingan yang sempurna. Tanpa ada monopoli karena akad jual beli harus sesuai dengan syariat Islam. Begitu pun penimbunan atau ikhtikar akan dilarang keras, bahkan pelakunya akan mendapatkan sanksi pidana. Ketika syariat Islam ditegakkan maka menjadi suatu hal yang lumrah bahwa ketakwaan individu akan tertanam dalam setiap benak kaum muslim. Dengan ketakwaan ini para pedagang tidak akan berani melakukan penimbunan barang yang disinyalir menjadi penyebab kenaikan harga barang.

Begitu pun untuk masyarakat seperti fakir miskin maka sudah menjadi kewajiban negaralah dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, dan lainnya. Baitulmal, dengan zakat mal sebagai salah satu pemasukan, akan menjadi salah satu jalan untuk pemenuhan kebutuhan fakir miskin.

Dengan demikian, rakyat tidak akan dipusingkan oleh kenaikan harga, karena negaralah yang menjamin kestabilan harga, bahkan negaralah yang menjamin pemenuhan setiap kebutuhan rakyatnya. Maka, dipastikan ketika Ramadhan, bulan suci ini tiba, setiap muslim mampu menjalankan ibadah secara khusyuk, menggunakan waktu mulia ini sebaik mungkin, dan menjadi pribadi yang mampu meningkatkan ketakwaan.

Bulan mulia, yang hanya sekali dalam setahun ini harus bisa dijadikan momentum dalam meningkatkan kesalehan, ajang dalam taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah, sehingga kita bisa menjadi makhluk terbaik. Namun ketaatan itu akan sempurna, memerlukan dukungan dan wadah besar dari institusi besar sekelas negara. Hanya negara yang mampu menerapkan sistem Islam secara sempurna, sehingga keshalihanpun akan sempurna terbentuk, bukan hanya di setiap individu.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama