Oleh
Tjandra Sari Sutisno, M. Pd
(Pemerhati generasi)


Masa SMA (Sekolah Menengah Atas) adalah cerita indah semua generasi, kisah yang akan menjadi kenangan. Dimana mulai mencari jati diri, menyalurkan bakat/hobi, melihat sosok idola, pembuktian kasih sayang dan masih banyak lagi. Dari mulai mengamati sempurnanya seorang manusia, adanya lingkungan sekitar satu sama lain sibuk masing-masing, tampilan atau tontonan sehari-hari pada televisi atau gadget/ponsel membuat baper/iri, teman-teman sebaya saling berpasang-pasangan secara bebas, saudara sering shopping, artis-artis pasang status traveling/flaxing, sekolahan dengan aturan segudang, ibu/bpk guru kurang asik, kondisi yang jauh dari perhatian orang tua dan lain sebagainya. Menumpuklah sudah, ya itulah secuil fenomena putih abu-abu generasi sekarang bagai strobery. Penuh warna namun rapuh/lemah, gampang tersinggung, muram dan lain-lain.

Tidak adanya bimbingan, arahan membuatnya semakin terpuruk. Pendidikan agama yang minim, kasih sayang nihil, lingkungan masa bodo, asupan makanan/minum/gizi seadanya/cepat saji. Waaaaah mirisnya generasi ini, tanpa pegangan hidup yang pasti, terombang ambing dalam lautan. Generasi yang dibangun landasan kapitalis (menjauhkan agama dari kehidupan), mengejar karier, cepat lulus kemudian kerja. Dapat gaji biar bisa, beli yang di inginkan sesuai nafsu dan akalnya tidak memikirkan halal-haram. Karena standarisasi adalah konsep material, bukan ridha Ilahi bagaimana seharusnya seorang muslim. Islam/agama hanya sekedar catatan di Ktp (kartu tanda penduduk) atau rutinitas ritual saja.

Mencermati fakta-fakta yang ada, dapat diketahui keterpurukan generasi strobery baik itu putih abu-abu, putih biru atau putih-merah di Indonesia adalah kerusakan struktural, yakni adanya golongan masyarakat tertentu yang tidak dapat mengenyam pendidikan berkualitas, kesehatan dengan melambung tinggi, lingkungan sudah tidak lagi sehat (cuek-cuek tidak perduli), kondisi susah secara keuangan/ekonomi/mengakses sumber-sumber pendapatan yang sejatinya ada di antara mereka. Akibat penerapan sistem kapitalisme dan liberalisme, pergaulan muda-mudi tidak ada aturan (alias bebas/free sex), konsumsi makanan/minuman tidak lagi melihat halal-haram, pendidikan berkualitas biayanya tak terjangkau, kemudian sumber daya yang melimpah tidak dapat diakses oleh masyarakat dan semua kompleks/menumpuknya problematika.

Islam Ridha Ilahi

Sementara itu dalam konsep sistem Islam yang didukung oleh sistem politik Islam, akan dijamin terpenuhinya kebutuhan primer individu-individu rakyatnya. Bahkan, turut membantu terpenuhinya kebutuhan sekunder dan tersier. Pergaulan atau pandangan terjaga dengan kesadaran bahwa malaikat mencatat semua tindakan/perbuatan hambanya. Pendidikan pun mengedepankan manusia diciptakan hanya untuk beribadah, penerapan faqih fiddin sesuai tuntunan Al Qur'an dan Hadis. Hal ini merupakan prioritas bagi negara untuk memenuhi kebutuhan tiap-tiap rakyatnya.

Berdasarkan pemaparan tersebut, satu-satunya sistem yang dapat menjamin terpenuhinya seluruh hak rakyat hanyalah sistem Islam. Sebab dalam Islam negara berkewajiban mengayomi dan mengurusi rakyat, bukan menjadi regulator seperti saat ini. Termasuk jaminan pendidikan, kesehatan, konsumsi makan/minum dll hal ini dapat terwujud apabila biaya pendidikan/kesehatan/kebutuhan dasar hingga tinggi mudah dan murah bagi rakyat. Untuk itu berarti harus ada pengelolaan kekayaan dan sumber daya alam yang benar sehingga negara mampu memberikan pelayanan kesehatan mudah, pekerjaan di jamin, pendidikan gratis atau murah bagi rakyat.

Untuk menyongsong bonus demografi dan Indonesia Emas saat ini perlu dipersiapkan melalui program-program yang mencerdaskan, mensejahterakan dan menyehatkan generasi. Bukan hanya putih abu-abu seperti strobery, tapi ke semua pihak. Namun, itu saja tidak cukup. Kita memerlukan lingkungan dan sistem yang support terhadap tujuan tersebut. Dan kapitalisme yang diterapkan saat ini tidak akan mampu mewujudkannya. Oleh karena itu, perjuangan menerapkan Islam kaffah dalam bingkai Khilafah sangat relevan dan harus makin dikencangkan agar cita-cita Indonesia menjadi negara maju segera terwujud serta tidak ada lagi generasi strobery.

Khotimah

Semoga kita semua dapat menarik hikmah, bahwa suatu negara bukan hanya karena dilihat pembangunan menjulang, hutang banyak dan generasi muda nya glamor. Tetapi harus dengan dukungan sistem kehidupan. Sehingga generasi muda akan menjadi hebat, kuat karena kesadaran pemikiran dan dukungan dari semua aspek kehidupan. Baik pemuda/pemudi, orang tua, masyarakat bahkan negara.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama