Oleh Rida N. Jannah
(Aktivis Dakwah)
Mental illness di kalangan Generasi Z (Gen Z), yang mencakup individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, telah menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut survei yang dilakukan oleh American Psychological Association, Gen Z lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi dibandingkan generasi sebelumnya, dan faktor utama yang sering dikaitkan dengan masalah ini adalah tekanan dari media sosial.
Gen Z cenderung merasa perlu untuk selalu tampil sempurna di depan kamera, menciptakan citra diri yang ideal dan terkadang tidak mencerminkan kenyataan. Dampaknya, mereka sering kali merasa terisolasi, cemas, atau tidak cukup baik, meskipun kenyataannya banyak dari mereka sedang berjuang dengan masalah yang sama.
Gangguan kesehatan mental Generasi Z atau Gen Z meningkat hingga 200%. Berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2024,tercatat bahwa 34,9 persen atau sekitar 15,5 juta remaja mengalami gangguan kesehatan mental.
Seperti kasus yang viral baru-baru ini, seorang anak perempuan yang berani mengancam ibu kandungnya menggunakan senjata tajam (sajam) sambil merengek minta dibelikan skincare di Pemalang, Jawa Tengah. (Cnnindonesia.com,04/02/25)
Hanya karena skincare seorang anak hilang rasa hormat kepada orang tua, bahkan demi tuntutan trend saat ini banyak kejadian semacam ini terjadi.
Barat pun memang tak pernah membiarkan hegemoninya mengendur pada umat Islam terutama propaganda mereka menyasar kalangan muda. Berbagai upaya terus dideraskan. Semua lini kehidupan dan strata usia manusia akan dicecarnya. Jargon 3F (Fun, Food, Fashion) yang menyasar kalangan muda benar benar telah berhasil merubah pemikiran mereka. Tentu saja setiap yang mereka produksi demi menghasilkan keuntungan yang banyak. Halal haram bukan urusannya. Itu urusan konsumen dengan tuhannya.
Sekulerisme juga telah mencabik-cabik hidup kaum muslimin terutama kalangan muda yang sangat gampang sekali di racuni pemikirannya. Meski sebuah negeri mayoritas penduduknya muslim, namun mereka hidup dalam gaya hidup sekuler. Karenanya, agama disisihkan pada ruang sempit dan berbatas. Digunakan saat tertentu saja. Itupun kadang diupayakan seringan-ringannya. Materi telah mendominasi kehidupan rakyat. Hingga bahagia itu adalah ketika materi yang diperoleh sudah memenuhi keinginan, bukan lagi bahagia itu karena ketaatan pada syariatNya.
Kebebasan individu menjadi motor penggerak kehidupan zaman now. Tak ada yang boleh mengaturnya. Mereka bebas untuk berbuat, bebas berpendapat, bebas memiliki sesuatu bahkan bebas untuk menentukan aqidahnya. Maka wajarlah kita akan dapati seseorang yang berbicara suka-suka. Berbuat tanpa dipikir.
Beginikah yang disebut hidup dengan peradaban yang mulia? Tentu saja keliru.
Peradaban yang mulia akan lahir dari ideologi yang sahih. Tak lain dan tak bukan Islam lah ideologi itu. Memang umat Islam saat ini banyak,namun tercerai-berai bak buih di lautan. Hingga peradaban yang mestinya bisa terbangun menjadi seperti angan-angan yang membubung tinggi ke langit.
Jika ingin peradaban Islam menancap kuat dan muncul ke permukaan,maka kaum muslimin harus membuang Sekulerisme jauh-jauh. Mengokohkan kembali syariat Islam agar mengakar kuat. Menjadikan Islam nafasnya, jiwanya dan darahnya. Hingga tak ada satu perilakupun yang terlepas dari ikatan syariatNya.
Sulit? Tentu saja. Karena hidup kita sekarang berada dalam cengkraman Kapitalisme. Namun, kesulitan itu akan sirna jika kita berusaha. Sekaligus meminta pertolongan kepada Allah, Dzat yang Maha Mengabulkan Doa. Lihatlah bagaimana perjuangan Rasulullah pertama kali mendakwahkan Islam, seorang diri, semakin lama semakin banyak yang mengikuti. Makin banyak yang berIslam, makin kuat penentangan dari orang-orang Quraisy, makin terlihat berkilaunya ajaran Islam dan makin terlihat kekokohan aqidah kaum muslimin.
Rasulullah pun memberikan banyak sekali perhatian dalam pendidikan generasi muda, salah satunya dari kalangan remaja.
Kenapa remaja menjadi salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam? Karena disinilah ketika para anak banyak sekali menghadapi kebimbangan dalam memilih, atau ingin mencoba semua hal.
Momen inilah sang anak tersebut menghadapi transisi penting menuju kedewasaan.
Rasulullah sendiri menanamkan nilai-nilai Islam yang kuat kepada para remaja agar mereka tumbuh berkembang menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia dan memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjalani kehidupan.
Rasulullah sendiri telah mengajarkan kita bagaimana cara mendidik generasi muda, khususnya para remaja. Berikut adalah Rahasia Rasulullah dalam mendidik remaja Islami :
1. Menanamkan tauhid kepada Allah sebagai dasar kehidupan.
2. Membiasakan anak disiplin dalam beribadah.
3. Menekankan akhlak mulia dalam kegiatan sehari-hari.
4. Mengajarkan keberanian dalam berbuat baik.
5. Mendidik melalui keteladanan.
6. Mengajarkan betapa pentingnya ilmu.
Dengan semua yang disebutkan diatas, Rasulullah mencetak generasi muda yang beriman, kuat, cerdas dan siap menjadi pemimpin masa depan. Prinsip-prinsip seperti ini akan terus berkembang dan dapat diterapkan dalam mendidik remaja zaman ini dengan tuntunan Islam yang lurus.
Karenanya, hidup dalam cengkraman Kapitalisme ini bisa kita ubah dengan kehidupan Islam. Asalkan umat Islam mau bersatu padu. Berusaha mendakwahkan semua ajaran Islam secara kaffah demi menyelamatkan para generasi muda untuk menyongsong peradaban Islam yang gemilang dan mencetak para generasi emas. Dengan menyuarakan kewajiban adanya Khilafah dimuka bumi ini sebagai bagian dari ajaran Islam ini. Serta mengupayakan tegaknya Islam dalam naungan Khilafah, agar penerapan Islam bisa sempurna, dan kehidupan kaum musliminpun hanya menuju pada satu visi dan misi, yaitu Ridho Allah. Sehingga dimensi akhirat selalu menyertai dalam setiap amal di dunia ini.
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi,sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nur : 55)
Wallahualam bissawab. []

Posting Komentar