Oleh
Tjandra Sarie Astoeti, M. Pd
Aktivis Muslimah
Allah SWT menciptakan manusia, begitu lengkap dan sempurna beserta akal pikiran. Yang dengan nya kita bisa berfikir, berkreasi kemudian melahirkan perbuatan atau tindakan seperti menuangkan dalam bentuk karya tulisan dan bahkan produk-produk bermanfaat.
Manusia mahkuk sosial/bermasyarakat, saling bertukar pendapat dan menyampaikam ide. Banyak perbedaan diantara mereka, namun semua kembali pada masing-masing orang apakah sebagai penghalang atau malah hidup bervariasi. Kembalikan pada cara pandang seseorang, keterbukaan atau kelapangan dari setiap interaksi.
Hal ini tidaklah mudah, karena sering terjadi pertikaian atau pun percekcokan dikehidupan sehari-hari. Bahkan tak aneh, bisa sampai ke meja hijau atau masuk dalam jeruji besi. Sangat disayangkan bila hal ini terjadi, kemana masa depannya yang seharusnya gemilang. Hanya sesuatu yang semu belaka.
Pendapat atau ide sejatinya, bebas tergantung pola pikir atau sikap personal. Arti bebas di sini, sesuai kultur atau kebiasaan masyarakat setempat makanya butuh adaptasi dan motivasi. Sehingga kesenjangan tidak terlihat jelas, dan roda dinamika berjalan dengan lancar. Dari lubuk hati yang paling dalam, jujur kita semua menginginkan kedamaian, ketentraman dan kondisi nyaman. Tidak ada yang ingin ribut atau permusuhan, kecuali orang-orang sakit di dalam hatinya ada kebudukan. Hati-hati wahai manusia, ini penyakit hati yang sulit diobati. Bakan Allah Ta'ala sudah mengunci hati dan pikirannya, naudzubillah jangan sampai kita punya penyakit hati dpt ini.
Dampak perbedaan pendapat ini, bisa di searching google sudah banyak terjadi. Misalnya yang viral, tentang Hukum dan ketentuan bayar fidyah puasa Ramadhan bagi ibu hamil. (Antaranews, 3 Maret 2025). Atau pembahasan lain terkait, Ngabuburit dengan pacar, diperbolehkan atau melanggar syariat Islam. (Antaranews, 26/2/2025). Bisa juga cari beredar luas, Kemenkominfo: Perbedaan Pendapat Hasil Pemilu Bawa ke Jalur Konstitusional, Jangan Ganggu Persaudaraan. (Kompas.com, 26/2/2024)
Ini terjadi karena banyak faktor, ya dari pandangan atau pendapat mejadi lingkaran yang tak terpisahkan. Mulai berfikir, berkata dan bertindak satu sama lain terkait. Di sini kita perlu cermati, bahwa semuanya akan di mintai pertanggungjawaban lho. Berhati-hatilah wahai zat yang penuh dosa, setiap langkah gerak dan gerik kita terawasi oleh malaikat dikanan atau kiri. Siapkah kalian semua akan hal ini, mampukah mulai dari sesuatu yang kecil menjadi perubahan besar.
Faktor utama mengaca pada diri, ada masalahkah kita dengan masa lalu atau cermin yang salah. Lingkungan biasa tempat kita beraktivitas, misalnya apakah terdapat hal yang melenceng norma-norma. Atau didikan orang tua, guru tempat pendidikan formal kita. Dan masih banyak pengaruh, yang akan melahirkan pendapat/ide.
Berbeda pendapat atau penerapan ide (tata cara ibadah atau pemanfaatan tekhnologi) itu sudah biasa, bahkan tak heran ada Mahzab (Imam) atau tepat-tempat pelatihan/edukasi tergantung masing-masing kebijakan. Bila mencermati kandungan dalam Al Qur'an perbedaan, itu terasuk rahmat. Tidak ada paksaan, selagi kita punya dalil/rujukan yang jelas. Penggunaan alat/mesin kembali pada ilmu yang didapatkan saat belajar, namun tetap pada jalur. Tata cara ibadah, sesuai syariat harus mengikuti contoh Rasul.
Bagaimana Islam memandang hal ini, mari kita semua simak hadis terkait hal ini. Dikutip dalam HR. Tirmizi, "Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan". Atau diambil dari QS. Al-Anbiya` ayat 107 yang artinya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Manusia itu unik, pikiran satu dengan yang lain nya berbeda. Sesuai pemikiran dan perasaan masing-masing. Terkadang waktu juga memjadi faktor pengarus perbedaan ide/pendapatnya.
Wallahualam bissawab. []

Posting Komentar