Oleh Ranti Nuarita, S.Sos.
(Aktivis Muslimah)
Di balik reruntuhan bangunan dan gelapnya malam-malam tanpa listrik di Gaza, ada suara pilu yang tidak pernah tersampaikan di mimbar dunia, jeritan anak-anak yang kehilangan ayah, ibu, dan bahkan masa depan mereka.
Mengutip dari Erakini.com, Sabtu (5/4/2025) Sejak agresi kembali dilancarkan pada 18 Maret, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa setiap harinya tidak kurang dari 100 anak di Gaza menjadi korban, baik meninggal dunia maupun mengalami luka. Ironisnya, hal ini terjadi di tengah sikap Amerika Serikat yang terus menunjukkan dukungan terhadap Israel.
Ini bukan sekadar krisis kemanusiaan. Ini adalah genosida terang-terangan yang dibiarkan berlangsung oleh dunia yang mengeklaim diri sebagai penjaga hak asasi manusia.
Dunia Internasional Gagal Total
PBB, UNICEF, hingga Dewan HAM PBB terus mengeluarkan laporan dan kecaman. Namun, itu semua hanyalah deretan kata tanpa daya. Konvensi Perlindungan Anak yang sering dielu-elukan itu sejatinya hanyalah simbol moral belaka tidak berdaya menghadapi Israel dan sekutunya. Dunia hanya diam menyaksikan pembantaian ini seperti tontonan yang berulang, tanpa ada tata mekanisme yang benar-benar melindungi anak-anak Gaza dari rudal, kelaparan, ataupun kehilangan orang tua mereka.
Lagi-lagi, ini menjadi saksi nyata yang jelas bahwa dunia ini tidak memiliki komitmen moral maupun politik untuk menghentikan kejahatan Zionis. Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam berhenti berharap pada dunia yang sudah lama mati rasa.
Bukan tanpa alasan, kita sebagai kaum muslim seharusnya jujur dan sadari bahwa selama umat Islam menggantungkan harapan pada sistem global sekuler, Palestina tidak akan pernah merdeka. Selama situasi ini dibiarkan, Gaza tidak akan lepas dari derita, dan anak-anaknya hanya akan terus tercatat sebagai angka dalam laporan kematian.
Solusi Fundamental yang Hilang
Perlu kita pahami bahwa tragedi tragis yang terus berulang ini adalah akibat dari tidak adanya institusi politik Islam. Belum lagi, negara-negara Barat dan pemerintahan di berbagai negeri muslim, hingga saat ini, belum ada yang memberikan solusi fundamental bagi penderitaan rakyat Palestina. Dukungan yang diberikan sejauh ini, lagi-lagi hanya berupa bantuan kemanusiaan, kecaman, ataupun kutukan terhadap agresi militer, yang nyatanya belum cukup menghentikan penjajahan dan genosida yang terjadi.
Ironisnya lagi, kaum muslim Palestina seakan-akan dikhianati oleh negeri-negeri muslim di sekitarnya. Penolakan sebagian negara muslim terhadap relokasi penduduk Gaza, seperti Mesir juga Yordania, misalnya, faktanya lebih dilandasi oleh kepentingan nasional mereka sendiri daripada keberpihakan terhadap rakyat Palestina.
Sungguh realitas ini mengindikasikan bahwa perjuangan pembebasan Palestina tidak bisa menggantungkan harapan pada aktor-aktor internasional yang telah terbukti gagal menyelesaikan akar permasalahan. Solusi fundamental sejatinya harus segera dijalankan.
Khilafah: Solusi yang Telah Terbukti
Sudah saatnya kaum muslim sadar dan mengetahui bahwa sejarah menunjukkan bahwa satu-satunya entitas politik yang secara konsisten membela dan melindungi Palestina adalah Khilafah Islam. Khilafah berperan sebagai institusi pemerintahan yang bertanggung jawab mengurus dan melindungi umat, termasuk di Palestina.
Khilafah bukan sekadar konsep teoritis. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang sudah terbukti nyata selama 13 abad lebih menjaga kehormatan umat, membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan, juga menjadi pelindung bagi generasi, bahkan menjamin kesejahteraan rakyat, hingga memberikan pendidikan serta keamanan yang menyeluruh.
Sebagai contoh, pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Palestina berhasil dibebaskan dari kekuasaan Romawi dan dikelola secara adil dan manusiawi. Madrasah-madrasah Islam, seperti Nizhamiyah di Yerusalem, bahkan melahirkan ilmuwan besar seperti Imam Al-Ghazali.
Khilafah juga berhasil membebaskan Palestina dari cengkeraman pasukan salib melalui sosok Shalahuddin Al-Ayyubi yang melegenda dalam sejarah. Hingga masa akhir Khilafah Utsmaniyah, Palestina tetap dijaga dari infiltrasi kepentingan kolonial, termasuk penolakan Khalifah Abdul Hamid II terhadap upaya kaum Zionis untuk membeli tanah di wilayah tersebut.
Namun, setelah institusi Khilafah diruntuhkan pada awal abad ke-20, tidak hanya Palestina, tetapi kaum muslim di seluruh dunia kehilangan pelindung, yang pada akhirnya ketika tidak ada kepemimpinan politik Islam yang mampu mengorganisir kekuatan umat secara terpusat, penjajahan demi penjajahan atas Palestina pun semakin tak terbendung.
Maka dari itu, upaya pembebasan Palestina memerlukan solusi mendasar, tidak lain dan tidak bukan ialah mengembalikan kembali kepemimpinan politik Islam, penegakan kembali institusi Khilafah yang berfungsi sebagai pelindung umat, bukan semata dalam kerangka simbolis, tetapi sebagai kekuatan riil yang mampu melawan penjajahan, menegakkan keadilan, dan menjamin keamanan rakyat Palestina, juga kaum muslim di seluruh dunia.
Khilafah tidak akan tinggal diam melihat kezaliman menimpa rakyat Palestina. Sebagai institusi politik Islam, Khilafah akan menghadapi penjajahan Zionis melalui jalan jihad fi sabilillah, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an: "Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian." (TQS. Al-Baqarah: 191)
Ayat ini menjadi dasar bahwa membela tanah umat Islam dari penjajahan adalah kewajiban, dan Khilafah hadir sebagai pelaksana nyata dari perintah tersebut. Belum cukup sampai di situ sebagai perwujudan dari prinsip Islam di mana Khilafah berperan sebagai pengurus urusan rakyatnya.
Khilafah pun turut menyediakan sistem pendukung terbaik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi generasi unggul yang membawa kemajuan peradaban dari waktu ke waktu. Di bawah naungan Khilafah, Palestina berkembang menjadi negeri yang sejahtera dengan pembangunan infrastruktur yang maju. Kota-kotanya tertata dengan apik dan penuh keindahan, sementara masyarakatnya hidup dalam kesejahteraan dan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.
Demikianlah, tawaran solusi sistemis yang nyata didasarkan pada pengalaman sejarah dan prinsip-prinsip dalam syariat Islam. Sungguh! Anak-anak Gaza bukan hanya korban. Mereka adalah saksi sejarah atas kelalaian umat Islam dalam membela saudara-saudaranya.
Kelak, mereka akan menuntut kita semua di hadapan Allah Swt. "Apa yang kalian lakukan saat kami dibantai? Di mana kalian ketika orang tua kami dibunuh? Kenapa kalian diam saat rumah kami dihancurkan dan masa depan kami direnggut?" Maka sudah saatnya umat Islam di seluruh dunia menjadikan penegakan Khilafah sebagai agenda strategis yang layak diperjuangkan secara kolektif.
Inilah solusi hakiki yang dijanjikan Allah Swt. Inilah warisan Rasulullah saw. yang telah membebaskan negeri demi negeri dari kezaliman. Inilah yang akan menjadikan darah anak-anak Gaza tidak tumpah sia-sia.
Wallahualam bissawab. []
إرسال تعليق