Oleh Wiwit Irma Dewi, S.Sos.I.
Pemerhati Sosial dan Media
Tak pandang situasi dan kondisi, serangan Israel semakin brutal! Bahkan pada 30 Maret lalu, Israel menyerang warga Palestina di Gaza yang tengah menggelar salat Id untuk menandai akhir bulan suci Ramadhan dan dimulainya Idul Fitri.
Serangan Israel tersebut terjadi serentak di kamp pengungsi Khan Younis di Gaza selatan hingga di Kota Gaza dan kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara. Bahkan Israel telah menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina di Gaza pada pagi hari Idul Fitri, Ahad 30 Maret 2025. (Tempo, 30/03/25)
Sejatinya Idul Fitri merupakan hari di mana umat Islam seharusnya bergembira karena telah berhasil menjalankan ibadah pada bulan Ramadan yang mulia dan banyak kebaikan, dan bertemu dengan bulan Syawal.
Namun sayangnya, kebahagiaan yang seharusnya dirasakan oleh setiap mukmin tersebut belum bisa dirasakan oleh seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia, terlebih di Palestina dan beberapa wilayah lainnya. Karena mereka masih harus berhadapan dengan penjajah yang kejam dan terus menyerang dengan brutal. Mereka tak mengenal belas kasihan, bahkan umat Islam harus terusir dari tanah kelahirannya, dan terkatung-katung di lautan dll.
Fakta yang ada tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan umat saat ini belumlah sempurna. Sebagian umat Islam khususnya Palestina dalam kesengsaraan bahkan terancam jiwanya. Bahkan hal itu dirasakan jauh sejak sebelum bulan Ramadan tiba, selama bulan Ramadan bahkan hingga bulan Syawal ini.
Akar Masalah Konflik
Sudah menjadi rahasia umum bahwa penderitaan yang dialami rakyat Palestina dimulai semenjak Zionis laknatullah datang dan merampas tanah milik mereka. Terlebih setelah runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah di Utsmani, umat Islam seolah kehilangan junnah (pelindungnya).
Dengan nasionalisme yang ditawarkan dan digadang-gadang barat kepada negeri-negeri kaum muslim melalui sistem demokrasi sekuler akhirnya berhasil mengkotak-kotakan kaum Muslim yang awalnya satu tubuh.
Selama nasionalisme masih dianut oleh umat maka sangat wajar jika umat Islam saat ini tidak bisa bersatu secara utuh. Alih-alih bersatu padu, yang ada masing-masing negara disibukkan dengan kondisi negeri nya sendiri.
Ini merupakan problem besar yang dihadapi kaum Muslim saat ini, kondisi ini wajar terjadi dalam sistem kehidupan yang berdiri atas dasar sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Alhasil, umat Islam semakin sengsara dan terpuruk akibat jauh dari pemahaman dan penerapan Syariat Islam.
Saatnya Umat Islam Bersatu
Umat muslim itu adalah satu tubuh, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah dalam hadis riwayat Muslim:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Muslim)
Maka sudah seharusnya penderitaan yang dirasakan muslim di Palestina, muslim Uyghur, muslim Rohingnya, ataupun muslim di wilayah lainnya merupakan penderitaan kita juga. Suka-duka saudara kita di sana merupakan suka-duka kita di sini.
Sejatinya ikatan akidah Islam atau Ukhuwah Islam-lah yang sebenarnya menyatukan kita. Ikatan tersebut tak terbatas oleh batas-batas wilayah yang disebut nasionalisme atau batas negara bangsa!
Oleh karena itu, umat Islam harus bersatu dalam institusi yakni Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh seorang khalifah dan akan menjalankan syariat Islam secara kaffah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Al Bukhari)
Selain itu, ada pula hadis: : “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya...” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).
Hadis-hadis di atas menjadi hujjah yang akan digunakan oleh khalifah untuk memaksimalkan sekuat tenaganya dalam memberikan penjagaan dan perlindungan kepada rakyatnya dari berbagai ancaman dan serangan musuh Islam, baik secara fisik maupun non fisik. Khalifah akan berupaya sekuat tenaga meskipun harus berperang, dengan begitu akan menjadikan wibawa negara tetap terus terjaga.
Oleh karena itu, perjuangan menegakkan Khilafah haruslah menjadi agenda utama umat Islam saat ini. Umat harus berusaha bahu membahu berjuang menegakkan Khilafah yang akan menjadi solusi mutlak bagi terbebasnya tanah Palestina dari cengkraman dan serangan Zionis laknatullah.
Untuk itu, harus ada orang-orang atau kelompok dakwah ideologis yang berjuang untuk memahamkan umat tentang solusi hakiki persoalan Palestina ini. Mengingat bahwa tanah Palestina bukan lah tanah biasa, mempertahankannya adalah kewajiban, karena tanah Palestina merupakan hasil tumpahnya darah para syuhada.
Memperjuangkan dan menegakkan Khilafah juga berarti mengembalikan junnah (perisai) umat yang akan membebaskan dan melindungi seluruh negeri-negeri kaum Muslim lainnya dari ketertindasan yang mereka alami.
Wallahualam bissawab. []
إرسال تعليق