Oleh Al-Faqir Nuuihya 
                  (Ibu Pemerhati Umat)


Surah Al-Maidah ayat 13 menjelaskan tentang tabiat kaum Yahudi yang gemar mengingkari perjanjian yang telah mereka sepakati. Pengkhianatan demi pengkhianatan ini membuat Allah Swt. mengeraskan hati mereka. Maka ketika bangsa Israel saat ini kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan Palestina, hal itu bukanlah hal baru, karena sejarah dan firman-Nya sudah lebih dulu mengabarkan hal ini.

Gencatan Senjata Bukan Jawaban Sejati

Sejak 19 Februari 2025, kesepakatan gencatan senjata kembali dilanggar. Tentara Israel menyerang sejumlah wilayah di Jalur Gaza, menewaskan hampir seratus warga sipil Palestina. Pengiriman bantuan kemanusiaan pun kembali dihalangi oleh militer Israel.

Hamas bahkan menyatakan bahwa "Netanyahu mencoba membatalkan gencatan senjata demi ambisi politiknya, sekalipun itu mengorbankan tawanan Israel di Gaza." (alinea.id, 02 Maret 2025). Tindakan ini menunjukkan bahwa kepentingan politik lebih diutamakan daripada keselamatan manusia.

Tidak berhenti di situ, akses ibadah ke Masjid Al-Aqsa juga dibatasi, bahkan selama Ramadan, bulan yang seharusnya dipenuhi keberkahan dan ketenangan. Dengan dalih keamanan, wilayah dikarantina demi mencegah warga Palestina kembali ke tanah airnya. Pembatasan ini terus terjadi setiap tahun tanpa solusi tuntas dari pihak internasional.

Rakyat Palestina masih berada dalam cengkeraman penjajahan. Bahkan untuk beribadah pun mereka harus berjuang. Pengawasan keamanan yang sepenuhnya berada di bawah kontrol Israel adalah bukti nyata bahwa Palestina belum merdeka.

Penindasan ini terjadi karena Israel menyadari potensi besar umat Islam di Palestina yang tak gentar melawan. Maka, berbagai tekanan politik dan militer terus digencarkan untuk meredam perlawanan rakyat yang tak pernah berhenti membela tanah air mereka.

Melihat keberanian rakyat Palestina yang tetap teguh meski dihadapkan pada dukungan besar Israel dari negara adidaya dan para pengkhianat di antara kaum muslim sendiri, sudah waktunya umat islam di seluruh dunia bangkit. Kita tidak bisa lagi bergantung pada narasi-narasi palsu soal perdamaian yang ditawarkan para penjilat kekuasaan.

Solusi dua negara—yang artinya mengakui keberadaan Israel—bukanlah solusi sejati. Bahkan mengharapkan keadilan dari PBB adalah sesuatu yang mustahil, sebab lembaga itu justru menyatu dengan sistem global yang mendukung Israel.

Zionis: Penjajah yang Wajib Diperangi

Zionisme adalah bentuk penjajahan yang nyata dan harus dilawan secara aktif. Ramadan adalah momentum mulia untuk menyatukan umat islam dan memperkuat tekad dalam menolak penjajahan serta menumbangkan para pendukungnya.

Namun jihad tak bisa digerakkan tanpa kepemimpinan. Kita butuh pemimpin sejati umat islam yang mampu menyuarakan dan memobilisasi kekuatan untuk pembebasan. Oleh karena itu, penegakan syariat dan persatuan dalam sistem Islam—Khilafah Islamiyah—adalah keniscayaan untuk menghadirkan solusi menyeluruh atas penjajahan ini.

Hanya dengan Khilafah, seruan jihad dapat bergema di seluruh dunia. Umat islam pun memiliki junnah—perisai—yang melindungi mereka dan menjadi kekuatan menakutkan bagi para penjajah.

Ramadan adalah waktu yang sangat tepat untuk menyatukan hati dan langkah, memperkuat ukhuwah, serta mengokohkan tekad untuk berjemaah dalam kebaikan. Namun, di saat keluarga muslim di berbagai penjuru dunia berkumpul dalam kebahagiaan, muslim di Palestina harus menjalani Ramadan tanpa orang-orang tercinta.

Mereka tetap berjemaah, bukan bersama keluarga, tetapi bersama umat yang senasib. Anak-anak yang kehilangan orang tuanya, dan orang tua yang kehilangan anak-anaknya. Namun mereka tetap kuat, menjadikan penderitaan itu sebagai jalan mendekat kepada Allah.

Di tengah luka, mereka justru menunjukkan keimanan yang luar biasa. Mereka adalah muslim yang beruntung, karena menjalani Ramadan dengan penuh ketundukan, kesabaran, dan pengharapan kepada Allah.
Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم