Oleh Hani Iskandar
(Ibu Pemerhati Umat)
Perang antara Pakistan dan India memasuki babak baru. Beberapa hari sejak pecahnya perang kembali antara kedua negara yang memperebutkan wilayah Kashmir, India diduga kewalahan dengan gempuran dahsyat dari Pakistan yang didukung oleh kelengkapan alutsista canggih.
Perang ini berawal ketika India melancarkan serangan rudal pada 7 Mei 2025 sebagai tanggapan atas serangan militan di Pahalgam, Kashmir, pada 22 April, melalui operasi yang diberi nama sandi Operasi Sindoor, yang menewaskan sejumlah warga sipil. Serangan pada 7 Mei itu memperburuk hubungan antara India dan Pakistan, setelah India menuding Pakistan sebagai pihak yang mendukung aksi teror lintas batas, tuduhan yang kemudian dibantah oleh Pakistan. Ketegangan ini menyebabkan kebuntuan diplomatik antara kedua negara pada tahun 2025, yang menjadi bagian dari konflik Kashmir yang lebih luas.
Dengan intervensi Donald Trump yang segera diumumkan sebelum gencatan senjata, Sekretaris Luar Negeri India Vikram Misri dan Menteri Luar negeri Pakistan Ishaq Dar mengonfirmasi bahwa gencatan senjata telah disepakati antara India dan Pakistan, berlaku mulai pukul 17.00 waktu setempat (Wikipedia.org, 12/05/2025)
Sentimen Nasional dan Intervensi Asing Jadi Pemicu
Perang antara Pakistan dan India merupakan konflik berkepanjangan yang tak terelakkan, dilandasi oleh rasa nasionalisme yang cukup ekstrem, serta diperumit oleh keterlibatan sejumlah negara lain yang turut mengintervensi. Sejarah mencatat bahwa perang tahun 1965, Amerika Serikat dan Inggris memberikan dukungan diplomatik dan ekonomi kepada kedua belah pihak untuk mencegah eskalasi menjadi perang dunia. Selanjutnya pada tahun 1971 Cina dengan terang-terangan memberikan dukungan militer dan diplomatik kepada Pakistan, sementara Uni Soviet pada saat itu memberikan dukungan pada India. Lalu bagaimana dengan hari ini?
Amerika Serikat sedang berbangga karena menjadi pihak yang menjadi perantara gencatan senjata antara Pakistan dan India. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dikabarkan telah menghabiskan 48 jam dalam negosiasi diplomatik yang intens dengan kedua negara tersebut, hingga akhirnya meyakinkan mereka untuk meletakkan senjatanya pada hari sabtu 11 Mei 2025. (scope.sindonews.com, 13/05/2025)
Peran proaktif yang dimainkan oleh AS dalam Upaya gencatan senjata ini tampaknya telah membangkitkan minat presiden AS terhadap kedua negara, yang kemudian menjanjikan peningkatan perdagangan secara substansial dengan India dan Pakistan. Di sisi lain, euforia nasionalisme di masing-masing negara yang mengeklaim telah membuat lawannya “menyerah”, serta membuat perayaan kemenangan, justru memperkeruh situasi dan meningkatkan tegang di antara kedua negara tersebut. Banyak yang menduga bahwa konflik berkepanjangan itu sengaja dipertahankan untuk menciptakan Perang Abadi.
Pecahnya Persatuan Kaum Muslim Pakistan
Pakistan dibentuk pada tahun 1947 untuk memberikan ruang hidup bagi kaum muslim di anak benua India, namun dalam bentuk negara nasionalis yang sekuler. Intinya, secara ibadah ritual kaum Muslim di Pakistan tetap dapat menjalankan kewajiban-kewajiban mahda sebagai individu. Namun, dalam banyak aspek seperti ekonomi, hukum, dan politik, negara tersebut tidak diatur berdasarkan syariat Islam.
Akibatnya, pemersatu umat Islam di sana bukan lagi ikatan akidah (persaudaraan sesama muslim), melainkan nasionalisme, yang aturannya bersumber dari akal manusia yang terbatas. Lebih jauh lagi, perpecahan dalam tubuh internal antara Pakistan Barat dan Pakistan Timur, yang kemudian sebagian wilayahnya memisahkan diri dan membentuk negara Bengali (Bangladesh). Walhasil semakin memperlemah kekuatan kaum muslimin di Pakistan.
Saatnya Umat Bersatu dalam Jihad Fii Sabilillah!
Perseteruan selama puluhan tahun dengan India tampaknya telah mengalihkan fokus dan menguras kekuatan kaum muslim di Pakistan, hingga mereka lalai dan abai terhadap akar permasalahan yang melanda dunia Islam, baik di dalam negeri maupun di luar Pakistan.
Tentara Pakistan yang tangguh memang mampu melemahkan kekuatan militer India dan melindungi negaranya, meskipun konflik masih terus berlangsung. Namun, umat Islam di Pakistan belum sepenuhnya menyadari bahwa kekuatan besar yang dimiliki seyogianya tidak hanya digunakan untuk mempertahankan negaranya sendiri. Lebih dari itu, kekuatan tersebut sangat dibutuhkan oleh umat Islam lainnya, terutama mereka yang masih hidup dalam penjajahan, seperti di Palestina.
Sangat disayangkan, realitas mobilitas tentara dan prajurit umat Islam di sana tak lagi ditujukan untuk kemenangan umat Islam secara global, apalagi untuk berperang di jalan Allah Swt–bukan untuk jihad fi sabilillah. Kekuatan mereka kini dikendalikan oleh semangat nasionalisme yang bersifat sementara dan terbatas. Tentara Pakistan yang telah teruji ketangguhannya justru dikecilkan ruang gerak dan jangkauannya, hanya untuk kepentingan nasional semata. Padahal, Allah Swt telah menetapkan bahwa kaum muslim itu bersaudara; ketika salah satu merasa sakit, yang lain pun ikut merasakannya.
Seharusnya, pasukan kaum muslimin tampil dengan semangat yang tinggi dalam menyambut seruan jihad, sebagaimana Allah perintahkan dalam Surah At-Taubah ayat 41, yang artinya: "Pergilah berperang, baik dalam kondisi mudah maupun sulit, dan berjihadlah di jalan Allah dengan harta serta jiwa kalian. Itu adalah pilihan terbaik bagi kalian, jika kalian mengetahui."
Kewajiban jihad ini berlaku di mana pun dan kapan pun diperlukan. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Al-Baqarah: 191 yang artinya, “Bunuhlah mereka yang memerangimu di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu."
Sesungguhnya seruan jihad telah menggema bagi seluruh kaum muslimin, namun ada hal yang saat ini masih membuat kaum muslimin ragu dan takut untuk melangkah berjihad bersama, yakni terkungkungnya kaum muslimin dan sekat territorial nasionalisme serta tidak adanya satu komando yang memimpin umat untuk melaksanakan Jihad secara serentak.
Kaum muslimin hanya akan mampu bergerak secara efektif ketika mereka dipersatukan di bawah kepemimpinan Islam yang menaungi seluruh umat, dengan arah perjuangan yang satu. Maka, sudah saatnya umat Islam di mana pun berada—termasuk di Pakistan—memahami urgensi untuk bersatu, menghimpun kekuatan guna menjaga dan membela sesama saudara muslim, serta berupaya mewujudkan satu kepemimpinan bersama bagi seluruh kaum muslimin.
Wallahualam bissawab. []
إرسال تعليق