Oleh Shinta Putri
                  (Aktivis Muslimah)


Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkirakan potensi nilai transaksi belanja narkoba di Indonesia mencapai Rp 524 triliun per tahun. Permasalahan narkoba harus ditangani secara serius melibatkan sejumlah pihak. (Beritasatu.com 13/5/2025)

Besarnya transaksi narkoba menunjukkan maraknya peredarannya. Bukan hanya satu wilayah saja, diberbagai daerah di Indonesia pihak kepolisian menangkap  pengedar dan menyita barang haram narkoba. Ini membuktikan bahwa permintaan tinggi dan banyak yang tergiur keuntungan besar. Indonesia salah satu negara tujuan para pengedar narkoba dari luar negeri.

Jumlah penduduk yang banyak dan harga narkoba yang bisa terjual mahal di Indonesia menjadikan negeri ini sasaran empuk para bandar narkoba. Kurangnya kontrol dan aturan hukum yang tidak ketat membuat para penyelundup narkoba mudah masuk dengan seenaknya. 

Ini akibat dari aturan kehidupan yang diterapkan adalah Kapitalisme, dimana akidahnya yaitu  sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, mempengaruhi  serta mendorong gaya hidup bebas tanpa peduli halal-haram, termasuk dalam mencari duit, asas manfaat juga yang menjadi tujuan utama dalam penerapan  sistem kapitalisme ini.

Ancaman narkoba kini makin kompleks dan mengkhawatirkan, dari penggunaan barang haram ini menyebabkan banyak masalah yang ditimbulkan, tindak kriminal akan bertambah seperti mencuri, merampok, memerkosa, penipuan, bahkan pembunuhan. Narkoba bisa menyebabkan hilangnya akal bahkan bisa menjadi sakau. Jika sudah kecanduan butuh rehabilitasi dalam jangka waktu yang lama.

Lebih mengkhawatirkan lagi sasaran usia dari para pengedar narkoba bukan hanya orang dewasa tapi juga anak-anak remaja bahkan anak usia sekolah dasar juga menjadi sasaran. Mirisnya negeri ini pengedaran narkoba sudah merajela dan dikatakan darurat, ini adalah pertanda negeri ini tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.

Butuh peran negara untuk bisa mengatasi permasalahan ini, karena hanya negara yang mempunyai perangkat dan kewenangan untuk menindak dengan memberi sanksi hukuman yang tegas dan menjerakan, namun mustahil jika negeri ini masih menerapkan Kapitalisme yang mana masih memberi ruang kebebasan individu dalam berbuat meskipun itu merugikan masyarakat semuanya.

Dalam negara yang menganut sistem sekuler-kapitalis justru mencetak masyarakat materialistik dan liberal. Bisnis narkoba dianggap menguntungkan, sehingga meski dilarang, seolah tetap dipertahankan. Penindakan hukum setengah hati, gembong narkoba jarang tersentuh, membuat peredarannya sulit diberantas. Meskipun ada bukti penangkapan namun hanya sekedar omong kosong. Bahkan ada oknum aparat barang bukti sitaan narkoba tidak dimusnahkan semuanya malah diganti dengan tawas kemudian dijual lagi.

Sungguh sangat memilukan jika hal ini terus terjadi. Siapa yang akan melindungi rakyat ini jika negara saja memberikan peluang perkembangan narkoba. Bisakah semua ini berakhir? Tentu bisa jika negeri ini mau menerapkan sistem Islam dari aturan Sang Ilahi kemudian membuang jauh Kapitalisme.

Islam memandang narkoba sebagai barang haram, baik produksi,  pengunaan maupun distribusinya dilarang secara mutlak oleh negara dalilnya disebutkan dalam riwayat hadis bahwa narkoba itu haram. “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah).” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Peran negara sangat dibutuhkan untuk mencegah serta memberantasnya demi melindungi rakyat. Islam menetapkan sanksi tegas berupa ta’zir ketentuan yang ditetapkan oleh pemimpin bagi pengguna narkoba, serta hukuman bagi pengedar dan produsen. Semua pintu peluang peredaran narkoba ditutup, perbatasan antara negara dijaga dengan ketat supaya tidak ada penyeludupan barang terlarang ini. Semua dilakukan oleh negara sebagai pelayan dan melindungi umat dari ancaman baik fisik maupun mental.

Ditambah negara wajib memberikan edukasi  pendidikan Islam gratis untuk membentuk kepribadian baik dari pola pikir dan sikap supaya anak-anak mulai dini sudah memahami dan menjauhi bahaya narkoba dan juga menghindari kemaksiatan yang menghantarkan kepada neraka. Kurikulum pendidikan dengan berbasis akidah Islam akan menjadikan manusia menjadi Sholeh dan Sholehah.

Hanya negara dengan sistem Islam yang mempunyai konsep sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan hati. Harapan terbesar kita semua adalah hidup tenang, tenteram, aman dan damai.

Wallahualam bisawwab. []

Post a Comment

أحدث أقدم