Oleh Alfaqir Nuuihya
Ibu Pemerhati Umat
Sahabat, bagaimana perasaan kalian sebagai muslim ketika menyaksikan aktivis dunia dari belahan Eropa memohon sambil meluruhkan air mata di hadapan tentara muslim Mesir, agar membuka gerbang yang selama ini menjadi jurang pemisah antara muslim Palestina dan muslim Mesir agar mereka bisa memasuki Gaza?
Apakah sebagai muslim kita masih memiliki perasaan malu karena pada faktanya rasa kemanusiaan non-muslim lebih besar dibandingkan hati kita? Nyatanya yang kini dibumihanguskan tanpa ampun adalah saudara seakidah kita. Ataukah kita merasa geram dengan sikap Mesir, yang justru sebagai negara terdekat Palestina, menjadi garda terdepan dalam membantu Zionis memuluskan usahanya dalam memporak-porandakan Palestina dengan cara memblokade bantuan?
Bahkan, aktivis Swedia, Greta Thunberg bersama aktivis lainnya berlayar membelah laut Mediterania agar bisa memberikan bantuan kepada rakyat Palestina. Meskipun pada akhirnya kapal tersebut dicegat oleh pasukan Israel, sehingga aktivis Swedia, yaitu Greta Thunberg dideportasi. (Bbcnewsindonesia.com, 10-6-2025)
Begitu pun konvoi dilakukan oleh warga Afrika Utara. Seribu aktivis dari tiga negara yakni Tunisia, Aljazair, dan Maroko berangkat dari Tunisia pada 9 Juni 2025, menempuh perjalanan darat menuju Jalur Gaza sebagai aksi menentang blokade Israel dan menyuarakan solidaritas serta dukungan untuk rakyat Palestina. (Metrotv.com, 10-6-2025)
Aktivis dunia saat ini banyak bergerak melakukan long March menuju Gaza. Sekitar 50 negara melakukan long March, dengan peserta kurang lebih 10.000 orang. Tidak ketinggalan dari Tanah Air kita, beberapa relawan, bahkan selebritas tanah air pun melakukan hal yang sama. Semua ini dilakukan karena Israel telah melarang warga Palestina untuk mendekati pusat-pusat distribusi bantuan dengan alasan rawan konflik.
Lebih kejam lagi, di saat umat Islam di belahan dunia lain sedang sukacita dengan kehadiran Iduladha, Palestina justru sedang berada dalam keadaan yang sangat mencekam. Berbagai tembakan dan serangan udara dilakukan militer Israel menyebabkan 17 warga Palestina meninggal dunia. (Beritasatu.com, 7-6-2025)
Long march yang dilakukan saat ini membuktikan bahwa seluruh mata dunia tertuju terhadap penindasan yang dialami oleh warga Palestina. Long march ini menunjukkan bahwa kita masih merasakan duka yang sama atas penderitaan saudara seakidah kita di Palestina.
Seluruh dunia menyaksikan bahwa selama ini bantuan kemanusiaan ke Gaza selama ini tertutup rapat, sementara agresi militer Israel semakin masif dilakukan. Gerakan ini menginginkan agar bantuan bisa masuk Gaza tanpa syarat, agresi militer bisa dihentikan, militer bisa ditarik dari Gaza secara keseluruhan, dan penjajahan yang dialami Palestina bisa dihentikan secara sempurna. Namun, mampukah semua tuntutan relawan itu terwujud?
Perpecahan Umat Akibat Nasionalisme
Di balik relawan dunia yang terus maju menuju Gaza demi menyuarakan kemanusiaan, militer Yordania justru menembak jatuh drone dan rudal milik Iran dengan alasan melewati wilayah udara mereka ketika akan menuju Israel. (Cnnindonesia.com, 13-6-2025)
Kejadian ini membuktikan bahwa Yordania adalah sekutu penting bagi Amerika begitu pun negara Arab lainnya menjadi dalang utama dalam mendukung Israel untuk menggempur wilayah Palestina.
Di satu sisi pemimpin negara-negara Islam ini terus menyuarakan kebenaran. Mengecam keras setiap serangan yang dilancarkan Israel terhadap Palestina. Secara masif pula mereka mengirimkan bantuan untuk rakyat Palestina. Namun di satu sisi pula mereka menjadi sahabat karib bagi Israel, Amerika, dan negara kafir lainnya lewat kerja sama yang mereka lakukan.
Turki, Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, juga Qatar, mereka bermesraan dengan orang-orang kafir, tetapi justru memusuhi saudara seiman. Padahal Al-Qur’an surah Al-Fath ayat 29 menjelaskan bahwa sebagai seorang mukmin selayaknya haruss bersikap keras terhadap orang kafir, bersikap lemah lembut dan berkasih sayang terhadap sesama muslim. Fakta ini membuktikan bahwa pemimpin Islam ini hanya mampu ganas dalam beretorika.
Sikap pemimpin Islam dan sikap umat Islam yang terkesan cuek terhadap genosida yang dialami oleh warga Palestina tidak lepas dari sistem yang dianut oleh tiap negara muslim ini. Sistem kapitalis, yang melahirkan rasa nasionalisme membuat negara muslim dunia menjadi abai, merasa tidak ada kepentingan ataupun hubungan atas apa yang dialami oleh warga Palestina, selama tidak merugikan negaranya.
Momen yang Tepat untuk Bersatu
Para aktivis itu memiliki semangat yang membara, demi kemanusiaan. Mereka masih memiliki hati nurani, sehingga berani menanggalkan kesibukan duniawi, demi bisa menjadi bagian pembebasan Palestina. Berkaca pada fenomena ini, seharusnya umat Islam mampu memetik pelajaran yang sangat penting. Fitrahnya umat membutuhkan persatuan, karena kita masih memiliki perasaan yang sama.
Sudah saatnya kita bersatu, melawan keganasan penjajah. Sudah saatnya kita menyadari bahwa retorika semata tidak akan mampu menjadi solusi atas genosida yang dialami Palestina. Begitu pun solusi dua negara yang diikrarkan oleh presiden kita, tidak akan pernah mampu menjadi solusi. Sebab, solusi dua negara, semata membuktikan bahwa kita mengakui keberadaan Israel, dan menganggap benar semua kebijakan Israel.
Sejatinya, solusi atas genosida di Palestina adalah dengan mengirimkan militer muslim. Dengan kekuatan militer yang dimiliki mayoritas negara muslim, jika dikerahkan untuk melawan agresi Israel, tentu Israel akan lumpuh dan jalan menuju kemerdekaan Palestina akan terbuka lebar.
Namun kembali lagi, bahwa pengiriman pasukan militer untuk berjihad di Palestina hanya bisa dilakukan oleh pemimpin muslim, ketika Islam diterapkan di bawah naungan Khilafah. Sudah saatnya kita bersatu di bawah sistem Khilafah, yang mampu memobilisasi militer untuk berjihad.
Wallahualam bissawab. []
Posting Komentar