Oleh Shinta Putri 
                    (Aktivis Muslimah)


Rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia yang hanya berada pada kisaran 30-40 persen untuk kelompok usia 19-23 tahun  hal ini membuat prihatin Wakil Ketua komisi 10 DPR, karena masih ada jurang ketimpangan antara tingkat partisipasi masyarakat terhadap pendidikan dasar dan pendidikan tinggi.

Juga disebutkan untuk kelompok usia 19-23 tahun, jenjang pendidikan tinggi, partisipasi menjadi  anjlok ke level 30-40 persen. (CNN Indonesia, 14/08/2025)

Ditambah berita dari bidang kesehatan 
pentingnya peran negara dalam memastikan akses layanan kesehatan yang merata dan berkualitas bagi seluruh masyarakat. Adanya ketimpangan distribusi tenaga kesehatan, rendahnya rasio dokter, serta perlindungan sosial nakes yang belum merata di seluruh Indonesia.

Padahal layanan kesehatan yang baik tidak bisa dilepaskan dari pemerataan distribusi tenaga kesehatan, fasilitas yang terakreditasi, dan perlindungan sosial bagi para tenaga medis. (DetikNews, 31/07/2025)

Fakta yang terjadi saat ini kurangnya distribusi pelayanan dan fasilitas baik dibidang kesehatan maupun pendidikan sangatlah minim, akibatnya ketimpangan sosial yang lebar mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Masyarakat butuh pelayanan yang merata dan berkualitas demi untuk keberlanjutan kehidupan yang lebih baik dimasa depan.

Namun realitanya jauh sekali dari harapan,  negara dengan mengadopsi sistem kapitalismenya menggantikan peran negara kepada swasta sehingga yang terpikir bukan pelayanan kepada masyarakat namun lebih kepada mencari keuntungan, dimana daerah yang lebih berpotensi secara ekonomi maju maka daerah itulah yang diberi fasilitas dan pelayanan yang layak.

Sedangkan daerah yang minus cederung diabaikan, sehingga banyak kita jumpai fasilitas seperti sekolahan yang tidak layak untuk proses belajar mengajar, jarak rumah yang terlampau jauh tanpa ada transportasi dan seorang ibu yang mau melahirkan harus dibopong warga dengan jarak yang sangat jauh. Hal ini membuat miris, karena negara mengatakan merdeka tapi realitanya belum merdeka secara mutlak.

Kapitalisme juga memandang bahwa pelayanan kesehatan dan pendidikan itu sebagai komoditas yang bisa diperjual belikan dengan rupiah, sehingga tak heran kita jumpai kualitas yang kurang dirasakan bagi warga miskin, lebih terkesan terdiskriminasi oleh negara.

Banyaknya warga miskin yang tidak mendapatkan fasilitas baik pendidikan dan kesehatan secara layak, bahkan malah ada pejabat yang berstatemen "orang miskin jangan sakit". Ini kalimat yang menyakitkan seolah-olah orang miskin tidak bisa mendapatkan fasilitas dasar yang layak seharusnya didapat bagi seluruh rakyat Indonesia.

Itulah gambaran negara dengan sistem kapitalisme, jika dibandingkan dengan negara dalam sistem Islam sangatlah berbeda. Dalam Islam pemimpin adalah penjaga dan pelindung rakyat, dialah sebagai tameng untuk meriayah dan melindungi umat. 

Negara memiliki tanggung jawab penuh terhadap kebutuhan rakyat baik itu kebutuhan primer maupun tersier. Dalam hadits di sebutkan: Siapa dari kalian yang bangun pagi dalam keadaan hatinya aman/damai, sehat badannya dan memiliki makan hariannya maka seolah-olah telah dikumpulkan dunia untuk dirinya. (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, al-Qudha’i dalam Musnad Syihâb, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Îmân dan al-Humaidi dalam Musnad al-Humaidi)

Dari sabda Rasullullah Saw diatas menjadi pegangan bagi setiap individu muslim baik itu dia seorang pemimpin atau pejabat seharusnya memiliki karakter seperti disebutkan dalam hadis yaitu memikirkan kondisi umat. Sehingga pemimpin negara mempunyai kewajiban untuk memenuhi kebutuhan seluruh rakyatnya baik orang kaya maupun yang miskin tanpa ada perbedaan dan diskriminasi.

Sehingga harapan menjadi negara adidaya maju baik teknologi dan sumber daya manusia bisa terwujud. Keberkahan dan kesejahteraan rakyat menjadi tanggung jawab penuh negara. Maka harapan kita semua adalah tegaknya negara dalam sistem Islam yang biasa disebut Khilafah yang bisa menghantarkan kita kepada kemerdekaan hakiki.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم