Oleh Heni Ummu Faiz
Ibu Pemerhati Umat
Salah satu strategi Barat dalam menghancurkan Islam yakni melalui jalur pendidikan. Karena melalui pendidikan seseorang akan diubah pemikirannya sehingga perilaku, cara pandangannya pun akan disesuaikan dengan pola pikir yang dianutnya. Salah satunya diluncurkan program KBC (Kurikulum Berbasis Cinta). Solusi baru dalam dunia pendidikan Islam adalah dengan kurikulum ini agar lebih berkemanusiaan, spritual dan inklusif.
Kurikulum berbasis cinta adalah langkah baru yang dilakukan oleh Menteri Agama era Prabowo Nasaruddin Umar terutama di dunia pendidikan dari jenjang SD hingga perguruan tinggi. Krisis kemanusiaan, intoleransi dan degradasi lingkungan yang mengkhawatirkan adalah hal yang harus direspon atas persoalan tersebut.(Antaranews.com, 25/072025)
Menurut Menag bahwa sekalipun berbeda secara kuantitas hakikatnya mengandung nilai inti yakni cinta. Menag juga menekankan pentingnya kerangka KBC dalamkeberagaman agama. (Disway.id, 14/08/2025)
Jika kita telaah proyek kurikulum cinta ini sekilas terkesan bagus dan seolah solusi negeri ini. Salah satu bahayanya adalah pengajaran terkait deradikalisasi sejak dini. Ironisnya KBC menitikberatkan pengajaran agar berkembang lembut pada orang diluar Islam sedangkan pada sesama muslim justru sebaliknya. Salah satu contoh bagi siapa pun yang berupaya ingin menerapkan Islam secara kafah akan dianggap ekstrim, teroris, radikal ataupun berbagai framing negatif. Bahkan termasuk simbol-simbol Islam kerudung lebar, cadar, celana cingkrang dan jenggot. Hal tersebut dianggap mengganggu keamanan negara ataupun hal buruk lainnya. Sedangkan kepada nonmuslim lebih lembut, tempat ibadahnya dijaga, ikut perayaan hari raya umat lain tanpa ada rasa bersalah sekalipun akidah harus dikorbankan.
Hal tersebut tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Karena kurikulum cinta akan menjadikan generasi kita jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan bisa saja menghilangkan jati diri sebagai umat Islam. Celakanya generasi kita akan membenci syariat Islam dan bangga terhadap nilai-nilai Barat yang dianggap lebih modern.
Pemahaman ini bernuansa sekularisme yakni memisahkan agama dari kehidupan. Sekularisme merupakan sebuah pemahaman yang rusak dan tak memberikan rasa aman dan nyaman bagi kaum Muslim beribadah. Jadi yang menjadi akar masalah adalah sekularisme bukan Islam. Karena sejatinya Sekularisme telah mengubah pandangan hidup seseorang hingga menjadikan materi sebagai tujuan hidupnya. Akibatnya kehidupan serba bebas, melakukan berbagai tindakan yang melanggar aturan Allah menjadi hal yang biasa terlebih negara yang menerapkannya. Lengkap sudah kerusakan akidah hingga akhlak ketika aturan sekularisme ini didukung oleh negara.
Berbanding terbalik dengan sistem Islam yang mengatur kehidupan seluruh umat manusia. Peran utama negara dalam sistem Islam sangat signifikan dan menjadi raa'in bagi rakyatnya.
Seperti sabda Rasulullah Saw :
"Imam adalah raa'in (pengurus) dan bertanggung jawab atas rakyatnya" (HR.Al Bukhari)"Sesungguhnya Al Imam adalah perisai dimana orang-orang akan berlindung dibelakangnya mendukung dan berlindung dari musuh dengan kekuasaannya" (HR. Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud)
Peran Negara Dalam Melahirkan Generasi yang Cemerlang
Negara memiliki fungsi sebagai pelindung, pengayom dan berupaya untuk menggunakan kekuasaannya menjaga rakyatnya. Negara akan menetapkan kebijakan dalam sistem pendidikannya berlandaskan akidah Islam. Bukan hanya itu kurikulum dan mata pelajaran yang dijalankan sesuai hukum syarak.
Di dalam sistem Islam, kurikulum pendidikan harus berlandaskan akidah Islam yang merupakan asas yang sangat mendasar bagi kehidupan umat manusia. Kurikulum dan mata pelajaran dalam Islam disusun berdasarkan syariat Islam, tidak boleh ada penyimpangan sedikitpun dari akidah Islam.
Dari kurikulum tersebut akan terbentuk pola pikir dan pola sikap islami merupakan salah satu politik pendidikan dalam Islam, sehingga seluruh mata pelajaran dan kurikulum harus berdasarkan syariat Islam.
Membentuk kepribadian Islam juga merupakan tujuan dari pendidikan dalam Islam, sehingga negara akan membekali generasi dengan berbagai ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Metode pembelajaran juga akan dirancang untuk menunjang tujuan pendidikan tersebut, sehingga metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan tujuan tersebut akan dilarang oleh negara. Di dalam setiap jenjang pendidikan Islam senantiasa distandardisasi dengan akidah dan tsaqafah Islam dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi.
Dalam jenjang pendidikan dasar hanya diajarkan hal yang memperkokoh akidah Islam. Tsaqafah Barat hanya dipelajari di jenjang perguruan tinggi itu pyn hanya studi banding bukan sebagai kurikulum sebagaimana yang diajarkan dalam sistem sekuler.
Tidak cukup sampai disana sistem pendidikan Islam sangat menjaga akidah agar tidak terjerumus terhadap pemikiran yang salah dan sesat. Mengukur kebahagiaan pun senantiasa untuk meraih rida Allah Swt dan Rasul-Nya. Hal tersebut akan melahirkan generasi yang cemerlang, berakhlak mulia dan menguasai teknologi.
Negara Memfilter Media
Peran negara tidak hanya cukup menyiapkan kurikulum dan sistem pendidikan tetapi negara juga memblokir situs- situs yang tidak sesuai hukum syarak. Karena peran media ikut menentukan masa depan di setiap generasi. Negara mengawasi setiap tayangan berbagai media agar yang ditayangkan hanya konten yang bermanfaat dan mengedukasi masyarakat.
Selain itu sistem Islam sangat menjaga keharmonisan antara Islam dan nonmuslim dibawah aturan hukum Islam. Sehingga tidak ada lagi pencampuradukkan antara Islam dan kufur (pluralisme).
Walhasil, dengan aturan Islam kafah mampu menjaga generasi sejak dini dari pengaruh pemikiran sesat. Hal ini tentu akan melahirkan generasi yang memiliki pemikiran jernih, akidah kokoh dan memiliki akhlak yang mulia.
Wallahualam bissawab. []
Posting Komentar