Oleh Darni Salamah, S.Sos. 
                      Aktivis Muslimah


Semenjak keruntuhan sistem Islam sejak 1924, bumi Palestina tidak pernah benar-benar merdeka. Kehadiran PBB sebagai organisasi dunia, realitasnya dibentuk untuk melanggengkan penjajahan bagi Palestina. Jika kita melihat ke belakang, PBB-lah yang memutuskan pada 12 Mei 1948 dengan two state solution yang menuntut Palestina membagi tanahnya kepada Israel Zionis. 

Solusi tidak pernah benar-benar hadir untuk Palestina, meskipun diskusi semakin masif dilakukan di PBB. Kini Palestina kian malang, bumi para nabi tidak pernah selesai menjadi jajahan internasional. Betapa tidak, negara-negara kafir Barat benar-benar tidak pernah rida rakyat Palestina mendapatkan haknya, sebab Palestina adalah barometer umat Islam, jantungnya umat Islam. 

Dikutip dari tirto.id pada 11 Juli 2025 menuturkan, 11 anak di Gaza tewas diserang saat antre di klinik. Tak sampai di situ, masih dikutip dari tirto.id, AS sibuk memberi sanksi pelapor khusus PBB yang mengkritik genosida Israel. 

Kejahatan demi kejahatan yang dilakukan oleh Israel dan negara-negara penyokongnya menjadi teguran keras bagi kemanusiaan khususnya bagi kaum muslim. Israel kian menggila dalam melakukan blokade untuk merampok kesempatan hidup masyarakat Gaza. 

Gaza masih terus-menerus menjadi objek dan sasaran pembantaian politik internasional dengan cara mengerikan. Pelecehan seksual terhadap muslimah Palestina, penghancuran tempat ibadah dan sekolah, bahkan akses-akses bantuan tertutup secara rapat. 

Kelaparan dibiarkan membelenggu, hingga Zionis menjebak warga di titik bantuan yang justru menjadi ladang pembantaian tanpa belas kasihan. Bahkan lebih menyayat hati, senjata-senjata mematikan buatan Israel bersama Amerika diuji coba di Gaza.

Bisunya Pemimpin Muslim 

Dari sekian banyak pemimpin muslim, tak ada satu pun yang berani membela secara nyata. Hanya memberikan perlawanan dengan mengutuk dan mengecam, sebab semua pemimpin muslim berada dalam genggaman ketiak Zionis Israel dan Amerika. 

Tidak jarang, banyak pemimpin muslim yang mendukung two state solution dengan dalih supaya Palestina bisa terbebas dari genosida. Tanpa melakukan dukungan dengan mengirimkan pasukan-pasukan militernya. Sebab, tidak ada solusi preventif untuk menghentikan genosida yang dilakukan Israel dan penyokongnya selain dengan jihad dan ditegakkannya sistem Islam. 

Sayangnya semua pemimpin muslim terikat dengan diplomasi yang menjerat, sistem individu, sistem ekonomi, hingga sistem sosial politik mengekor pada lingkaran negara penjajah. Pemimpin muslim justru berlomba memberikan  penyambutan terbaik bagi tuannya. 

Padahal, seruan jihad secara global sudah digaungkan, tetapi seruan itu tak membuat para pemimpin muslim bergerak dan bertindak. Seolah mereka lebih mementingkan kekuasaan belaka dibandingkan kesatuan umat yang hakiki. 

Islam adalah solusi preventif untuk menghentikan genosida di Palestina. Hingga detik ini, tak ada satu pun yang mampu menyatukan umat dalam satu kepemimpinan yakni sistem Islam. Umat Islam kini seolah kehilangan arah, tak tahu tujuan dan langkahnya.

Khilafah adalah Pemersatu Umat

Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah yang dipimpin Mu'tasim Billah, bersegera mengarahkan pasukannya sebagai reaksi jawaban atas permintaan seorang muslimah yang mendapatkan pelecehan. Dengan seruan jihadnya yang begitu fenomenal pada saat itu, mampu menaklukan Kota Amuriyah. 

Dari kisah tersebut, menjadi cambuk nyata bahwa semangat jihad yang tidak hanya dikumandangkan, tetapi juga dikobarkan kepada seluruh kaum muslimin, meskipun pada saat itu yang menuntut merupakan seorang budak muslimah. Khilafah sebagai satu-satunya sistem yang dibutuhkan saat ini. Tak hanya sebagai kebutuhan, tetapi sebagai kewajiban yang harus ditegakkan. 

Terbukti, Amirul mukminin Umar bin Khattab, Salahudin Al Ayyubi, Khalifah Mu'tasim Billah, hingga Muhammad Alfatih,  terbukti mampu menaklukan wilayah-wilayah yang terjajah. Mereka merupakan pemimpin-pemimpin yang berada dalam naungan Khilafah sebagai sistem negaranya. Sistem politik sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Dengan demikian, Kebangkitan dan kesadaran umat akan terfokus dalam jalan syariat sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sebab, jihad dan Khilafah menjadi satu-satunya metode yang menghentikan genosida di Palestina dan juga negara-negara muslim yang terjajah. 

“'... kemudian akan hadir kekuasaan zalim dan akan tetap ada sebagaimana kehendak Allah. Kemudian Dia mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Selanjutnya akan muncul Khilafah yang berlandaskan manhaj kenabian.' Kemudian beliau diam ..." (HR. Ahmad).

Apa yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah saw. adalah amunisi bagi kita sebagai umat Islam, sebagai bisyarah (berita gembira). Namun, sayangnya sebagian kaum muslim layaknya hidangan, kita terpecah belah, bahkan tidak jarang sebagai sesama muslim saling memusuhi. Rasulullah saw. memberikan contoh yang begitu luar biasa yang bertujuan menegakkan kehidupan Islam dengan metode berikut ini:

Pertama, tasqif (pembinaan intensif). Proses belajar yang terarah, konsisten, dan istimrar (terus-menerus) hingga terjadinya talqiyan fiqriyan agar terbentuk pemikiran yang islami dan juga perilaku yang sesuai aturan Islam. 

Kedua, tafa'ul ma'al ummah. Berinteraksi secara kontinyu untuk membangun kesadaran umat bahwa umat Islam punya kekuatan besar, yaitu persatuan yang hakiki. Dengan itu, semangat kita sebagai seorang muslim akan terus terjaga dalam membela darah saudara muslim kita di Palestina. Sebab, Islam bukan hanya sebatas melakukan ibadah ritual dan spiritual, melainkan satu-satunya sistem yang secara komprehensif mengatur manusia, kehidupan dan alam semesta. 

Ketiga, tath iqul huqmi fill Islam. Islam merupakan solusi bagi setiap problem kehidupan, keadaan ini harusnya menjadi kesadaran agar umat Islam kembali bangkit seperti tegaknya Islam di Madinah pada zaman dahulu, seperti halnya yang dicontohkan oleh para khalifah dalam melakukan kepemimpinan yang konsisten yang berlandaskan syariat Islam. 

Menjadi muslim yang mengambil peran untuk kebangkitan umat atau tetap memilih nyaman dalam perpecahan? Tentu dalam hal ini seharusnya kita bersegera untuk menerapkan aturan yang Allah perintahkan. 

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم