Oleh Nur Hasanah, SKomp 
                   Aktivis Dakwah Islam


Setiap hari, Gaza menjerit dalam kesakitan yang tak pernah berhenti. Dunia menyaksikan genosida terang-terangan yang dilakukan oleh entitas Zionis Yahudi terhadap penduduk sipil Palestina, namun hanya mampu berkomentar dan bersuara tanpa aksi nyata. Anak-anak, perempuan, dan orang tua terus berguguran. Mereka menjadi korban kebiadaban yang bahkan telah melampaui batas nalar kemanusiaan.

Serangan demi serangan dilancarkan tanpa belas kasih. Rumah-rumah hancur, rumah sakit dijadikan sasaran, masjid dan gereja tak luput dari rudal, dan kini yang paling menyayat adalah bantuan makanan pun dijadikan senjata pembunuh. Zionis juga menjalankan taktik keji yaitu, menahan masuknya bantuan kemanusiaan, membuat rakyat Gaza kelaparan, lalu ketika mereka berusaha mengambil bantuan di titik distribusi yang telah ditentukan, Zionis menyerang mereka secara brutal. Apakah ini bukan bentuk kejahatan yang disengaja dan terstruktur?

Selain itu, muncul juga laporan bahwa Gaza menjadi tempat uji coba senjata baru. Zionis mencari cara-cara paling efektif untuk membunuh manusia secara massal dan cepat, dan Gaza adalah laboratorium hidup bagi mereka. Wajah kebiadaban itu terpampang jelas, namun dunia masih membisu.

Para Penguasa Muslim Pengkhianat Nyaman Bersekutu

Tragisnya, para pemimpin negeri-negeri Muslim yang seharusnya menjadi tameng bagi rakyat Palestina justru menjadi pengkhianat sejati. Mereka bukan hanya diam, tetapi menjalin hubungan mesra dengan entitas penjajah Zionis. Kerja sama ekonomi, militer, bahkan diplomatik mereka jalin demi "kepentingan nasional" semu yang sesungguhnya adalah kepentingan kekuasaan pribadi.

Padahal, bila mereka sungguh-sungguh beriman dan memiliki nurani, maka darah-darah syuhada di Gaza seharusnya membakar semangat mereka untuk mengusir penjajah dari bumi Palestina. Namun apa yang terjadi? Mereka memilih duduk manis di istana, menikmati kestabilan kurs dan pujian media internasional yang dikendalikan oleh kekuatan kapitalis global.

Pengamat dan aktivis kemanusiaan juga banyak yang mengecam tindakan biadab Zionis ini. Mereka menyebutnya pelanggaran HAM, kejahatan perang, atau genosida. Tetapi sayangnya, kecaman itu berhenti di seminar, konferensi, dan layar televisi. Tidak ada solusi konkret, apalagi upaya militer untuk membela rakyat Palestina.

Mereka tidak pernah menyentuh akar persoalan. Bahkan tidak berani menyebut bahwa solusi sesungguhnya bagi Palestina adalah pembebasan total melalui jihad dan kembalinya institusi Khilafah yang akan memimpin umat Islam dalam satu kepemimpinan politik global.

Jihad dan Khilafah Solusi Hakiki Masalah Palestina

Kenyataan ini menuntut kita sebagai umat Islam untuk bangkit dari tidur panjang. Kita tidak cukup hanya bersimpati atau berdonasi, umat harus disadarkan bahwa pembebasan Palestina hanya bisa dilakukan dengan jalan jihad fi sabilillah yang dipimpin oleh institusi negara Islam yaitu, Khilafah.

Tidak cukup hanya berharap kepada PBB, Liga Arab, atau OKI. Semua itu sudah terbukti tidak membuahkan hasil nyata selama puluhan tahun. Karena itu, umat Islam harus terus membangun narasi dan kesadaran bahwa hanya jihad dan khilafah yang akan menghentikan genosida ini.
Setiap Muslim yang telah sadar tentang akar masalah ini, wajib menyadarkan saudara Muslim lainnya. Hal ini bagian dari fardhu kifayah yang bisa berubah menjadi fardhu 'ain bila tidak ada yang melakukannya. Menyebarkan kesadaran adalah bagian dari upaya menyatukan umat dalam satu visi perjuangan.
Ketika kesadaran ini tumbuh di tengah-tengah masyarakat, maka akan muncul kekuatan besar yang tak bisa dibendung oleh kekuatan manapun. Umat akan bergerak bukan karena emosi semata, tetapi karena dorongan iman dan pemahaman akan kewajiban syar’i.

Mengikuti Thariqah Dakwah Rasulullah
Perjuangan ini harus dilakukan dengan jalan yang benar, yaitu thariqah dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukan melalui jalur demokrasi, yang justru mengalihkan umat dari jalan perjuangan hakiki.

Rasulullah membangun perubahan dengan cara menanamkan akidah, membongkar sistem jahiliyah, lalu membentuk struktur negara Islam. Inilah metode yang harus diteladani. Segala bentuk kompromi dengan sistem sekuler demokrasi hanya akan memperpanjang penderitaan umat dan menambah kekuatan musuh-musuh Islam.

Para pengemban dakwah wajib waspada. Musuh-musuh Islam tidak hanya menyerang secara fisik, tetapi juga menyerang dari dalam melalui perang pemikiran dan gaya hidup. Bahaya kelas muncul saat dakwah dikendalikan oleh ambisi jabatan, gengsi, atau loyalitas pada kelompok tertentu.

Sementara bahaya ideologi akan muncul ketika para da’i mulai mencampurkan pemikiran Islam dengan ide-ide nasionalisme, sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Inilah racun yang akan melemahkan perjuangan dan menjauhkan umat dari solusi Islam.

Karena itu, istiqamah dan kesabaran dalam dakwah sangat penting. Jangan sampai ujian, tekanan, atau tipu daya dunia membuat kita lemah. Dakwah adalah jalan panjang yang penuh onak, tetapi hanya inilah jalan kemenangan.

Kembali kepada Islam Kaffah Wujud Iman Sejati

Allah telah menjanjikan kemenangan bagi umat Islam yang berpegang teguh kepada Islam secara kaffah. Kita harus meyakini bahwa thariqah dakwah Rasulullah adalah satu-satunya jalan menuju tegaknya Khilafah dan kemenangan umat.
Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa...” (QS. An-Nur: 55)

Wahai kaum Muslimin, sudah saatnya kita kembali kepada Islam secara total. Bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam politik, hukum, ekonomi, dan sistem kehidupan. Hanya dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah, umat Islam akan mulia, dan penjajah akan terusir dari bumi Palestina.

Kita tidak boleh terjebak dalam solusi semu. Demokrasi, nasionalisme, perdamaian palsu, semua itu adalah racun yang merusak perjuangan kita. Umat harus bangkit dengan kesadaran, bergerak dalam dakwah, dan memperjuangkan tegaknya kembali institusi pemersatu umat: Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. []

Post a Comment

أحدث أقدم