Oleh Inggit Octriani S.Pd.Si.
                 (Ibu Pemerhati Umat)


Mencermati fakta remaja saat ini, berita silih berganti mewarnai kolom harian berita. Dimulai dengan kabar kekerasan seorang pelajar berseragam pramuka SMKN 2 Pangkep, Sulawesi Selatan. Korban berinisial MA (16) dihujani pukulan oleh pelaku berinisial F (16) di jalan raya depan sekolah, disaksikan sejumlah siswa lain yang justru merekam kejadian dengan ponsel mereka.

Kasat Reskrim Polres Pangkep, AKP Muhammad Saleh, menyebut peristiwa itu terjadi pada Jumat (1/8/2025), dipicu senggolan bahu di dalam sekolah. (Beritasatu.com, 4/8/2025)

Disusul kemudian berita tawuran remaja yang semakin membuat kita miris dan mengelus dada. Sebanyak 54 pelajar di wilayah Serpong, Tangerang Selatan diamankan polisi karena diduga hendak tawuran pada Sabtu, (9/8/2025) sekitar pukul 03.00 WIB.

AKP Suhardono, yang merupakan kapolsek Serpong menjelaskan bahwa kerumunan para pelajar di dekat makam kawasan Cilenggang, sempat menimbulkan kecurigaan warga yang melapor ke polisi. (Kompas.com 8/8/2025)

Akar Masalahnya adalah Sekularisme

Sekularisme adalah sebuah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Ide ini membatasi agama hanya pada ranah ibadah pribadi, sementara urusan politik, ekonomi, hukum, dan pendidikan diserahkan pada aturan buatan manusia.

Sekilas, sekularisme dipromosikan sebagai simbol kemajuan dan toleransi. Namun, di balik itu, ia melahirkan generasi yang kehilangan arah, terjerat krisis moral, dan rapuh identitasnya.

Allah Swt. telah mengingatkan dalam Surah Thaha ayat 124, bahwa siapa saja yang berpaling dari petunjuk-Nya akan mengalami kehidupan yang sempit. Makna sempit di sini bukan hanya dalam hal materi, tetapi juga dalam hal hati dan jiwa, bahkan di semua bidang kehidupan. Orang yang berpaling dari petunjuk Allah akan selalu merasa kurang, gelisah, dan tidak tenang.

Paham sekularisme muncul dari sejarah Barat yang berupaya mengakhiri dominasi gereja pada abad pertengahan. Namun, konsep ini diadopsi di negeri-negeri muslim tanpa mempertimbangkan bahwa Islam sejak awal tidak mengenal pemisahan agama dan urusan dunia.

Islam adalah diin (agama) sekaligus nidzam (sistem hidup) yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Allah Swt. memerintahkan kaum beriman untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh dan melarang mereka mengikuti langkah-langkah setan, yang merupakan musuh nyata bagi manusia. Itu termaktub dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Ketika sekularisme diterapkan, hukum Allah digantikan menjadi hukum manusia, pendidikan menjadi sekadar alat ekonomi, media bebas menebarkan ide liberal, dan ekonomi tunduk pada sistem kapitalisme. Tata kehidupan menjadu karut marut karena menjauh dari aturan Allah yang menyejahterakan umat dengan proporsional. 

Dampak Sekularisme terhadap Generasi

1. Krisis Moral
Tanpa standar syariat, kebaikan dan keburukan diukur oleh selera mayoritas. Zina, LGBT, pornografi, narkoba, dan kekerasan menjadi fenomena biasa. 

2. Krisis Identitas
Banyak pemuda muslim malu dengan agamanya, lebih bangga mengikuti budaya Barat ketimbang mengamalkan ajaran Islam.

3. Kerusakan Sosial
Meningkatnya perceraian, kriminalitas remaja, dan lemahnya ikatan keluarga adalah akibat dari hilangnya kontrol moral masyarakat.

Islam adalah Sistem Hidup Menyeluruh

Kemudian bagaimana kita menyikapi kondisi ini, mengingat remaja adalah generasi penerus yang harus kita jaga? Hal-hal yang bisa kita lakukan adalah:

Pertama, menguatkan jati diri sebagai muslim. Rapuhnya jati diri membuat remaja mudah terbawa arus viral, baik melalui media sosial ataupun pergaulan. Mereka malu dengan identitas Islamnya. Oleh karena itu, perlu penguatan akidah dari orang tua maupun guru agar mereka tidak ikut-ikutan tanpa memahami dampaknya.

Kedua, mengarahkan pendidikan sesuai tujuan Islam. Pendidikan seharusnya membentuk generasi yang bersyaksiyah Islam, bertakwa, taat kepada Allah, dan bertanggung jawab atas dunia dan akhiratnya.

Ketiga, saling mengingatkan dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat yang peduli akan cepat tanggap ketika melihat kerusakan generasi. Mereka akan menegur pelanggara\n dan bersinergi dengan pihak berwenang untuk menutup celah kemaksiatan. 
  
Keempat, negara sebagai penjaga generasi yang utama. Peran negara sangat penting. Dengan penerapan Islam kafah, negara akan menjadi pilar kokoh yang menjaga akidah umat, membentuk generasi taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tangguh dalam ilmu dan akhlaknya. Sejarah membuktikan, tokoh seperti Ibnu Sina dan Muhammad Al-Fatih lahir dari sebuah sistem yang agung, yaitu khilafah.

Sekularisme mungkin menjanjikan kebebasan, tetapi kebebasan tanpa batas justru menjerumuskan manusia pada perbudakan hawa nafsu. Islam menawarkan kebebasan sejati, bebas dari perbudakan manusia kepada manusia, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah.

Kini, pilihan ada di tangan kita, membiarkan generasi hanyut dalam arus sekularisme yang merusak atau membangkitkannya dengan cahaya wahyu yang membawa kemuliaan.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم