Oleh Ani Ummu Khalisha 
                     Aktivis Muslimah 

Sejak Oktober 2023 akibat serangan militer Isr4el, korban meninggal di Gaza mencapai 60.430 jiwa dan 148.722 mengalami luka-luka. Sebagian besar korban merupakan perempuan dan anak-anak, hal ini dikonfirmasi oleh otoritas kesehatan di Gaza. 

Israel kembali melakukan operasi militernya pada tanggal 18 Maret. Korban meninggal dan luka-luka terus bertambah hingga kini. (metrotvnews.com, 03/08/2025)

Bukan hanya warga sipil Gaza, para relawan, jurnalis, dokter, aktivis kemanusiaan. Mereka disiksa dan dibantai, pembantaian itu terungkap setelah ditemukannya kuburan massal dihalaman rumah sakit Nasser, di Khan Younis bahkan mayat-mayat itu dalam kondisi terikat. 

Kekejaman Israel tidak berhenti. Isr4el memblokade Gaza dari segala penjuru, dari awal penyerangan hingga kini. Akibatnya warga sulit mendapatkan pasokan makanan, minuman dan obat-obatan. 

Lebih dari 100ribu anak Palestina dijalur Gaza yang berusia batita, termasuk 40.000 bayi terancam tewas massal karena kekurangan parah susu formula dan suplemen gizi. Lapor kantor Media Pemerintah di Gaza pada Sabtu (26/7). 
Dalam pernyataannya kantor tersebut menggambarkan situasi Gaza sebagai "pembantaian perlahan". Anak-anak Gaza sengaja dilaparkan oleh Isr4el, dengan memblokade seluruh wilayah Gaza. 

Lebih dari 1.121 warga Palestina juga tewas saat mencari bantuan di lokasi-lokasi distribusi yang dioperasikan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang diwakili oleh tentara Israel dan tentara bayaran Amerika Serikat. 
Gaza dilaparkan, merupakan strategi sistematis Israel. Israel berencana untuk memusnahkan penduduk Gaza dan menjadikannya pemukiman Yahudi, hal ini dikatakan oleh Menteri Warisan Budaya Israel. 

Pembelaan terhadap Palestina, khususnya Gaza muncul juga dari warga sipil dunia. Gelombang unjuk rasa terus bergulir di beberapa negara Eropa. Kebrutalan Isr4el tak pernah berhenti, walau opini global mengecam. Kecaman ini baru smpe pada aspek moral saja. Belum mampu memberikan solusi tuntas. 

Yang diharapkan bisa memberikan pertolongan nyata adalah datang dari para penguasa Muslim. Namun sayangnya, semua negara ini tidak melakukan tindakan yang berarti untuk menghentikan kekejaman Isr4el hingga saat ini. 

Kondisi Gaza yang terjajah dan di genosida, tak lantas membuat para pemimpin membuka pintu Rafah bahkan mengirimkan pasukan militernya. Namun hanya cukup dengan ungkapan keprihatinan, sedangkan mereka masih tersenyum dipanggung diplomasi. Maka wajar jika ada yang menyebut bahwa kelaparan parah di Gaza adalah saham dari para penguasa muslim.

Para penguasa muslim seolah tak ada ikatan iman mereka dengan muslim Gaza. Kepentingan dunia- jabatan dan kekuasaan telah mematikan ukhuwah Islamiah dan telah menjerumuskan mereka pada kelemahan dihadapan musuh Allah.

Ini potret nyata pembelaan pada Palestina yang dihasilkan dari sistem kapitalis. Sikap abai terhadap Gaza terlihat jelas bahkan sebelum pembantaian 2023 terjadi. Seharusnya  ada upaya  revolusioner untuk membantu Palestina khususnya Gaza. Namun kini yang terjadi penguasa-penguasa muslim, mulai menormalisasi Isr4el. 

Persoalan Gaza adalah bukti kegagalan sistem kapitalis global sebagai penopang peradaban ini. Oleh sebab itu, bagi kaum muslim seharusnya ini menjadi titik tolak untuk berjuang mengembalikan kemuliaan Islam. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran : 110. Ayat ini membuat kita harusnya kuat dan bersatu untuk mewujudkannya. Gerakannya kita harusnya semata untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. 

Genosida terhadap Gaza merupakan  penghinaan pada kaum muslim seluruhnya. Kaum muslim tak punya kemuliaan dihadapan para penjajah Barat. Karena kaum muslim terpecah belah dan tak punya pemimpin serta institusi yang melindungi. Sepanjang sejarah, tak terbantahkan Khilafahlah yang mampu menjaga kemuliaan kaum muslim. 

Di masa Rasulullah saw. Bani Yahudi Qainuqa diusir dari Madinah hanya karena melecehkan seorang perempuan muslimah. 

Pun sama, karena melecehkan muslimah akhirnya Khalifah al-Mu'tashim Billah menaklukkan Romawi Timur. Pada abad akhir 19, Khalifah Abdul Majid II menolak dengan tegas untuk menjual sejengkal tanah palestina untuk kaum Zionis Yahudi. Itulah potret penguasa yang menjaga kemuliaan Allah dan Rasulnya serta kaum Muslim.

Maka di tengah penghianatan para penguasa muslim terhadap Gaza, umat Islam tidak boleh diam berbagai upaya bisa dilakukan. Mulai dari boikot, aksi solidaritas dan kampanye melalui media sosial, bersamaan dengan itu umat juga harus meningkatkan kesadaran terhadap Islam.

 Wallahu alam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم