Oleh Heni UmmuFaiz
                  Ibu Pemerhati Umat


Saat Islam dipinggirkan dari kehidupan manusia sebagai sebuah aturan hidup tentu akan berakibat fatal pada kehidupan manusia. Termasuk dalam hal ini lini keluarga. 

Beberapa fakta di masyarakat akhir-akhir ini terkait kesehatan mental. Seperti yang terjadi di daerah  Banjaran, Bandung, Jawa Barat ditemukan fakta memprihatinkan yang bertentangan dengan naluri keibuan. Seorang ibu berinisial EN (34) sampai hati membunuh dua buah hatinya yang berusia 11 bulan dan 9 tahun. Diduga ia menghabisi hidup kedua anaknya dengan cara diracun. Setelah itu sang ibu pun mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. (Metrotv, 09/09/2025)

Saking tingginya bunuh diri terutama di bulan September hingga disepakati setiap tanggal 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri sedunia. (DetikNews.com,10/09/2025)

Dari tahun ke tahun kasus bunuh diri terus meningkat seiring penggunaan media sosial dan angka pengangguran semakin tinggi. Motif ekonomi menjadi pemicu terjadinya mental illness saat ini. Mirisnya negara menyediakan anggaran hanya 2,4% perlindungan sosial dalam rentang tahun 2025-2026. 

Melihat kondisi saat ini seharusnya peka, alih-alih berfokus pada anggaran pertahanan, tunjangan DPR yang justru kian meningkat. Bahkan baru-baru ini ada wacana pensiunan seumur hidup di kalangan anggota DPR, sungguh tak sejalan dengan kinerjanya sementara  rakyat menderita. 

Mental illness dan Bukti Kegagalan sistem Ekonomi Kapitalis 

Banyaknya kasus bunuh diri saat ini menjadi pertanda bahwa bukanlah sekadar fenomena biasa tetapi sudah menjadi tren.

Hal ini pula  mengambarkan bahwa fenomena bukan masalah individu tetapi masalah sistemik. Saat ini masyarakat terutama di kalangan Gen Z maupun para pasangan rumah tangga muda mayoritas  tidak kuat dan lemah dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Semua ini akibat dirusak oleh sistem sekuler kapitalis. 

Sekularisme telah merusak cara pandang hidup masyarakat  dan telah menjauhkan dari nilai nilai agama. Paham ini pula memandang bahwa kebahagiaan di standardisasi pada banyaknya materi dan meraih kesuksesandi dunia. 

Akibat dari paham kapitalisme memudahkan seseorang mudah tersulut emosi, nafsu yang meledak, serta depresi yang berkepanjangan saat dihadapkan dengan masalah kehidupan terutama ekonomi. Pinjol dan judol dijadikan solusi pragmatis  saat tidak mampu membayarnya bunuh diri jadi jalan keluarnya.

Dosa besar saat negara abaikan kondisi rakyatnya dengan tidak memenuhi kebutuhan vital masyarakat seperti sandang, pangan, papan, kesehatan,pendidikan serta penjagaan mental rakyat. Ketika negara mampu menjalankan fungsinya maka permasalahan ini tidak akan terus terjadi. 

Sistem Islam Menuntaskan Mental Illness

Saat manusia terus menggunakan sistem ekonomi kapitalis, maka kesengsaraan akan di dapatkan. Untuk itulah jika umat manusia ingin bahagia maka harus kembali lagi pada sistem yang berasal dari Illahi yakni aturan berdasarkan Al Qur'an  dan As sunah. Sistem ini merupakan aturan  yang akan membawa kesejahteraan bagi manusia, membawa ke dalam ketaatan. Sistem Islam mampu menuntaskan masalah bunuh diri, karena akan di hilangkan secara fundamental.  Penyelesaiannya secara sistemis dan mendasar. 

Beberapa kebijakan yang dilakukan negara Khilafah dalam mengatasi kesehatan mental rakyatnya yakni :

Pertama, Menjamin harga pangan murah dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.Saat perekonomian masyarakat stabil maka meminimalisir mental sakit karena mayoritas pemicu utamanya adalah motif ekonomi. 

Kedua, Negara menjamin menetapkan pendidikan dan kesehatan secara gratis kepada rakyat. Dua kebutuhan ini tidak boleh di komersialisasi atau menjadi ladang bisnis bagi negara. 
Ketiga, Negara melarang praktek judi dan pinjaman berbasis riba.

Keempat, Negara membuka lapangan kerja seluas-luasnya bgi rakyatnya terutama para laki-laki.
Kelima, Negara melakukan edukasi terkait sistem pergaulan Islam. Tidak ikhtilat, tabarruj sehingga saat rakyat memahami cara pergaulan dalam Islam meminimalisir perselingkuhan, pacaran hingga perzinaan. 

Keenam, Ketika upaya preventif sudah dilakukan dan masih ada yang melanggar aturan, maka harus diberikan sanksi tegas agar tidak ada lagi kemaksiatan, kriminal di tengah-tengah masyarakat. 

Walhasil, mental illness hanya bisa dituntaskan dengan sistem Islam ( Khilafah). Untuk itu sudah saat kita mengkaji dan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh dalam kehidupan agar hidup lebih bahagia baik dunia maupun akhirat. 

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم