Oleh Wulan Suci Ramadhani
Mahasiswa
Kondisi gaza kian memburuk dari hari ke hari. Serangan yang dilakukan oleh zionis Isr4el dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat terus meningkat, menghancurkan berbagai fasilitas publik, rumah sakit, sekolah, dan tempat tinggal warga sipil. Ribuan warga palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi korban akibat serangan yang tak henti-hentinya.
Sementara itu, blokade yang terus diperketat membuat pasokan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya semakin menipis membuat warga gaza mengalami malnutrisi. Dunia menyaksikan penderitaan yang luar biasa di Gaza, namun suara keadilan seolah tenggelam di tengah kepentingan politik global yang terus membiarkan penjajahan ini berlangsung.
Tidak ada satu pun negara yang benar-benar berdiri di sisi Gaza. Sebagian besar hanya memilih posisi aman, menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina. Mereka berlindung di balik diplomasi kosong dan pernyataan netral, sementara Amerika Serikat yang selama ini menjadi pendukung utama zionis Isr4el justru tampil sebagai pencetus “solusi dua negara”. Padahal, di balik jargon perdamaian itu, penindasan terus berlangsung, tanah terus dirampas, dan darah warga sipil tak henti mengalir. Situasi ini menunjukkan betapa dunia masih enggan bertindak tegas terhadap kezaliman yang nyata, justru beberapa negara ikut andil dalam solusi yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat.
Melansir dari Tribunnews.com (23/09/2025) Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sudah tiga kali membahas solusi dua negara atau two state solution terkait konflik Zionis Palestina secara eksplisit. Ia menegaskan bahwa posisi diplomatik Indonesia tetap konsisten dalam mendukung kemerdekaan penuh bagi Palestina sebagai prasyarat utama tercapainya perdamaian. Dalam kerangka tersebut, Indonesia juga membuka peluang untuk mengakui keberadaan negara Isr4el, dengan syarat bahwa Palestina terlebih dahulu harus diakui secara sah sebagai negara berdaulat. Sedangkan secara global, negara yang mengakui Palestina sebagai negara terus bertambah.
Pada Senin, 22 September 2025, dilansir dari tribunnews.com (23/09/2025) dalam sidang umum perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB di New York, Prancis, Belgia, Luksemburg, Malta, dan Andora mendeklarasikan pengakuan resmi mereka terhadap negara Palestina. Sehari sebelumnya, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal juga menyatakan hal serupa. Dengan demikian, jumlah negara yang mengakui Palestina kini bertambah menjadi 156.
Wacana solusi dua negara sejatinya mencerminkan bentuk keputusasaan Amerika Serikat dalam menghadapi keteguhan rakyat Gaza dan para mujahidin yang tak pernah menyerah membela tanah air mereka. Meskipun terus ditekan dengan serangan militer dan blokade yang melemahkan, semangat perjuangan rakyat Gaza tidak pernah padam. Mereka tetap berdiri teguh di tengah kehancuran, mempertahankan keyakinan bahwa tanah mereka tidak untuk dibagi melainkan untuk diperjuangkan. Dalam kondisi seperti ini, upaya Amerika Serikat untuk mendorong solusi politik tampak sebagai langkah untuk meredam perlawanan, bukan benar-benar menyelesaikan akar permasalahan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Mengakui kemerdekaan Palestina dalam konteks solusi dua negara pada dasarnya sama dengan mengakui pencaplokan besar-besaran yang telah dilakukan oleh entitas zionis terhadap sekitar 70%-80% wilayah muslim Palestina.
Sayangnya, solusi yang penuh ilusi tersebut kini justru ikut disuarakan oleh para pemimpin negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia. Alih-alih memperjuangkan pembebasan yang sejati, mereka terjebak dalam narasi diplomatik yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat Gaza. Dukungan terhadap konsep dua negara justru menjauhkan umat dari cita-cita pembebasan Palestina. Konsep tersebut secara langsung maupun tidak langsung memberikan legitimasi terhadap penjajahan dan perampasan tanah yang telah berlangsung secara sistematis selama puluhan tahun. Padahal wilayah tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tanah umat Islam dan seharusnya tidak dapat digadaikan atau dibagi hanya karena tekanan dan kompromi politik internasional. Dengan demikian, wacana dua negara bukanlah solusi yang membawa keadilan, melainkan bentuk pembenaran terselubung terhadap penjajahan yang hingga saat ini masih terus berlangsung.
Hal ini menjadi bukti bahwa ketika kepemimpinan tidak berlandaskan pada syariat Islam, tidak ada keberanian untuk bertindak tegas dalam membela dan memperjuangkan kebebasan Gaza.
Allah telah menuntun umat Islam melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa solusi syar’i atas genosida di Gaza adalah pengerahan pasukan muslim untuk jihad fisabillah.
Jihad adalah ajaran Islam yaitu berupa perang melawan kaum kafir dalam menegakkan agama Allah Swt. Ketika saudara saudara kita diperangi, sesungguhnya kita wajib untuk membela dan menolong mereka dan itu perintah Allah Swt.
Allah Swt. berfirman
وَٱقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُو
"Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian". (Q.S Al-Baqaroh : 191)
Maka, Sudah seharusnya penguasa muslim di dunia mengerahkan pasukan tentara untuk menuntaskan persoalan ini dengan jihad fisabillah, sungguh ini merupakan amalan yang pahalanya sangat luar biasa, dengan bersatunya umat muslim secara global untuk mengamalkan Jihad ini, akan sangat mampu melawan Zionis bahkan akan memenangkan perang hanya dalam waktu 1 jam saja.
Oleh karena itu, seluruh umat Muslim didunia khususnya para tentara Muslim tidak boleh berdiam saja. Dan yang paling bertanggung jawab atas perintah ini adalah para penguasa negeri-negeri Muslim beserta para panglima perang yang harus menunjukkan kepemimpinan agar tentara muslim bergerak menuntaskan persoalan Palestina ini.
Oleh karena itu, umat membutuhkan seorang khalifah untuk memimpin persoalan seluruh umat. Rasulullah saw. telah bersabda, "Imam atau khalifah adalah perisai. Di belakang dia kaum muslim berperang dan berlindung". ( H.R Albukhari dan Muslim).
Khalifah yang akan turun langsung memimpin pasukkan untuk menyelamatkan dan menuntaskan masalah umat muslim dimanapun termasuk permasalahan untuk membebaskan Palestina.
Khilafah akan menciptakan susunan kekuatan baru serta menata kembali dunia dengan keadilan dan kemakmuran berlandaskan syariat Islam. Inilah seharusnya menjadi tuntutan utama kaum muslimin dalam mencari solusi hakiki bagi persoalan Palestina.
Wallahualam bissawab. []
Masyaallah tabarakallah 🤩🫶
ردحذفإرسال تعليق