Oleh Siti Hanifah
Mahasiswa
Sumber air minum Aqua menjadi sorotan usai Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan inspeksi dadakan ke PT. Tirta Investama (Aqua). Dalam sidak dadakan yang dilakukan pada 22 Oktober 2025 tersebut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mempertanyakan sumber air yang di gunakan oleh PT Tirta Investama. Perwakilan perusahaan Aqua menyebutkan bahwa sumber air Aqua berasal dari sumur bor. Perusahaan Aqua menjelaskan, air yang digunakan berasal dari akuifer dalam bukan dari air permukaan yang mudah tercemar karena aktivitas manusia. Air akuifer dalam ialah air tanah yang tersimpan di dalam lapisan batuan atau sedimen bawah tanah.
Sebelumnya, sidak dadakan Dedi ke perusahaan Aqua itu di unggah melalui akun Instagram miliknya. Dalam sidak tersebut Dedi baru mengetahui bahwa sumber mata air yang digunakan PT. Tirta Investama (Aqua) Pabrik Subang berasal dari sumur bor. Melalui keterangan yang di sampaikan bahwa pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan dalam penjualan iklan perusahaan Aqua, yang di sebut-sebut Aqua bersumber dari mata air permukaan seperti yang banyak dipersepsikan publik. (Nusantara TV, 25/10/25)
Pasalnya, banyak mata air di berbagai daerah dikuasai perusahaan air minum. Bahkan perusahaan tersebut mengambil air tanah dengan sumur bor yang dapat memunculkan dampak bagi lingkungan. Bahkan tidak jarang banyaknya dari perusahaan-perusahaan besar tidak bertanggung jawab penuh atas risiko yang mereka lakukan.
Kapitalisme Biang Masalahnya
Setidaknya, ada banyak dampak yang terjadi bila hal ini terus dibiarkan yaitu terjadinya pergeseran tanah atau longsor, pergeseran muka tanah, hilangnya mata air di sekitar, potensi amblesan tanah dan sebagainya. tak ayal bahwa dampak buruk terbesar yang banyak dirasakan dari penguasaan sumber daya alam tersebut adalah masyarakat sekitar. Hal itu akan menyebabkan krisis air yang langka dikarenakan eksploitasi mata air secara besar-besaran dengan tidak memikirkan resiko yang terjadi.
Hal ini wajar saja terjadi dikarenakan praktik bisnis ala kapitalis meniscayakan manipulasi produk demi keuntungan perusahaan. Tanpa memikirkan dampak yang terjadi setelahnya. Dalam prinsip kapitalis uang bisa menjadi segalanya, bahkan menjadikan tolak ukur kebahagiaan seseorang. Maka dar itu, tidak aneh kalau banyak terjadi praktik kecurangan.
Kemudian, hal ini mempertanyakan kemana selama ini tugas pemerintah dalam menangani ataupun memperhatikan perusahaan raksasa bekerja. Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air di bawah kementrian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) yang seharusnya lebih berwenang dalam urusan ini tidak mampu untuk menghentikan kapitalisasi air. Lemahnya regulasi terkait batas penggunaan sumber daya alam (SDA) dalam sistem hari ini. Pemerintah hanya menjadi fasilitator tak ayal banyak terjadi manipulasi, perampasan, eksploitasi. Mirisnya, masyarakat yang memikul beban paling banyak. Tak ada tempat berlindung ataupun keadilan. Kalaupun ada penyelesaian nya tidak sampai pada akar masalah, yang menyebabkan eksploitasi yang akan terus menerus berlangsung.
Pandangan Islam
Dalam pandangan Islam kaum muslim bersekutu dalam tiga hal; air, padang dan api (HR. Abu Dawud) hadist ini menegaskan bahwa sumber daya alam (SDA) yang tidak akan pernah habis, seperti air adalah milik umum dan tidak boleh dimiliki individu/swasta. Pengelolaan SDA dilakukan oleh negara untuk kemashlahatan masyarakat luas, adapun bila Indonesia dapat mengelola SDA dengan maksimal kita akan menjadi negara yang mandiri tanpa ketergantungan hutang dengan negara adidaya. Bila SDA yang besar dikelola oleh individu/korporasi akan banyak terjadi kapitalisasi, ataupun kesewenang-wenangan.
Prinsip bisnis dalam Islam mengutamakan kejujuran dalam transaksi. Tidak menjual barang yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena sadar setiap amal perbuatan manusia akan di pertanyakan di akhirat kelak. Kemudian dalam pengelolaan di negara Islam akan memperketat regulasi terkait pengelolaan SDA sehingga tidak memicu penyalahgunaan dan kerusakan alam.
Alhasil, kapitalisme telah banyak menorehkan banyak masalah dan hanya Islam yang mampu menuntaskan masalah air ini. Untuk itu sudah saatnya umat Islam kepada hukum Islam kafah bukan yang lain.
Wallahualam bissawab. []
Ya Allah, sungguh miris kondisi kita hari ini. Padahal seharusnya air adalah kepemilikan umat, kalopin dikelola akan balik ke rakyat. Ini semua akibat tidak adanya pemimpin yg addil. We need Khilafah
ردحذفMaasyaAllah. Emang dengan Khilafah segala kebutuhan akan terjamin, termasuk air
ردحذفإرسال تعليق