Oleh Aisyah Yusuf
                   (Pendidik Generasi)
 

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Masih ingat dengan lirik tersebut? Ya, sepenggal bait dari Hymne Guru yang dahulu dinyanyikan dengan penuh haru di setiap upacara sekolah. Namun, kini makna itu seakan memudar. Lagu itu mungkin masih terdengar, tetapi maknanya sudah nyaris hilang di tengah hiruk pikuk zaman yang kehilangan arah.

Guru, yang seharusnya menjadi lentera ilmu dan pembentuk karakter, kini sering kali kehilangan marwahnya di mata masyarakat. Bukan karena mereka kekurangan ilmu, atau tidak mampu mengajar, tetapi sistem dan zaman yang membingungkan mereka dalam menegakkan disiplin di tengah generasi yang kian sulit diatur.

Baru-baru ini publik digemparkan oleh peristiwa di SMA Negeri 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Seorang kepala sekolah menampar siswanya karena kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Kasus ini sempat viral dan berakhir damai, tetapi ia membuka luka lama, betapa rapuhnya posisi guru di hadapan murid dan orang tua di era modern ini.

Tak lama berselang, beredar lagi video serupa. Seorang siswa SMA dengan santai merokok di depan gurunya, seolah tak ada rasa malu atau hormat (TribunJakarta.com, 19/10/2025). Fenomena ini bukan kasus tunggal, tetapi potret buram sistem pendidikan yang kehilangan ruh adab.

Liberalisasi Melahirkan Generasi Rusak

Guru hari ini berdiri di antara dua jurang, di satu sisi, mereka dituntut untuk menegakkan disiplin. Di sisi lain, setiap tindakan tegas berpotensi disalahartikan sebagai kekerasan. Orang tua menuntut hasil, tetapi menolak proses. Mereka menitipkan anak untuk dididik, tetapi menolak ketika sekolah mendisiplinkan.

Inilah akibat dari sistem yang tercerabut dari nilai Ilahi. Pendidikan tak lagi membentuk manusia beradab, tetapi sekadar mencetak pekerja. Kedisiplinan dianggap pengekangan, sopan santun dianggap kuno, dan nasihat guru dianggap gangguan. Semua ini lahir dari paham liberalisme—buah dari akidah sekulerisme—yang memisahkan agama dari kehidupan.

Dalam logika liberalisme, kebebasan menjadi tolok ukur utama. Setiap individu dianggap berhak melakukan apa pun atas nama “hak asasi”, bahkan jika itu merusak tatanan moral. Maka, ketika guru menegur, murid merasa berhak melawan. Ketika guru menghukum, orang tua merasa berhak menuntut. Alhasil, guru menjadi tidak berwibawa, murid kehilangan arah, dan masyarakat semakin tak menemukan generasi yang beradab.

Padahal, bangsa yang kuat bukan hanya dibangun dari kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kekuatan moral dan adab. Bila fondasi ini runtuh, maka lahirlah generasi rapuh yang mudah tersinggung, malas berpikir, dan enggan berjuang.

Akidah Islam Mewujudkan Generasi Berakhlak Mulia

Islam telah memberikan pedoman yang jelas dalam menata kehidupan manusia. Setiap perbuatan terikat oleh hukum syariat—wajib, haram, sunah, makruh, dan mubah—bukan berdasarkan keinginan pribadi. Inilah sistem yang menjaga manusia tetap dalam koridor akhlak dan tanggung jawab.

Contoh sederhana bisa kita lihat dari persoalan rokok. Secara hukum, rokok termasuk perkara mubah selama tidak membahayakan. Namun, ketika terbukti merusak kesehatan dan menghamburkan uang, ia menjadi perbuatan makruh, bahkan bisa mendekati haram. Artinya, Islam mengajarkan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab, bukan kebebasan tanpa batas seperti dalam sistem liberal.

Dalam sistem pendidikan Islam, guru bukan hanya pengajar, tetapi murabbi—pendidik yang menanamkan adab, membentuk karakter, dan menumbuhkan keimanan. Murid dididik untuk berpikir sebelum bertindak, dan setiap tindakan diukur berdasarkan rida Allah, bukan sekadar kesenangan pribadi.

Negara dalam pandangan Islam juga tidak lepas tangan. Ia wajib menjamin sistem pendidikan yang menanamkan akidah Islam sejak dini, memastikan kesejahteraan guru dengan gaji layak, dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter mulia.

Hanya dalam sistem Islam kafah—yang menjadikan wahyu sebagai landasan kehidupan—guru akan kembali dimuliakan, murid kembali beradab, dan pendidikan kembali menjadi sarana membangun peradaban.

Sebab sesungguhnya, pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi membentuk manusia yang sadar bahwa hidupnya memiliki tujuan yaitu beribadah kepada Allah dan membawa cahaya bagi dunia.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama