Oleh Lia Ummu Thoriq
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Anggota komisi II DPRD Bekasi, Gilang Esa Mohammad, menyoroti berbagai permasalahan yang dihadapi warga. Permasalah tersebut terkait akses pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Gilang mencatat tiga masalah utama tersebut menjadi keluhan warga. Dalam bidang pendidikan Gilang menyoroti sulitnya masyarakat mendapat akses sekolah negeri khususnya wilayah yang jauh dari fasilitas pendidikan. (Beritasatu, 11/11/2025)
Pendidikan dan kesehatan masih menjadi barang mahal di negeri ini. Buktinya tidak semua rakyat mendapatkan layanan dan fasilitas pendidikan dan Kesehatan secara baik. Banyak anak-anak di negeri ini yang putus sekolah karena terkendala biaya. Selain itu juga banyak rakyat yang kehilangan nyawa kerena tak bisa membayar biaya rumah sakit.
Inilah potret negeri kita saat ini. Negeri yang merdeka namun rakyatnya masih sengsara. Program pendidikan sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah belum menjadi solusi masalah pendidikan di negeri ini. Buktinya angka putus sekolah masih tinggi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kemendikdasmen mencatat ada 3,9 juta anak yang tak bersekolah saat ini. Rinciannya sebanyak 881.168 anak tidak bersekolah karena putus sekolah, 1.027.014 anak sudah lulus tapi tidak melanjutkan sekolah, dan 2.077.596 anak belum pernah bersekolah. Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin, menyatakan faktor ekonomi merupakan penyebab utama anak-anak tidak bersekolah.
Menurut catatan Kemendikdasmen, faktor penyebab anak tidak sekolah adalah tidak ada biaya (25,55 persen), mencari nafkah atau bekerja (21,64 persen), menikah atau mengurus rumah tangga (14,56 persen), merasa pendidikan sudah cukup (9,77 persen), disabilitas (3,64 persen), sekolah jauh (2,61 persen), dan mengalami perundungan (0,48 persen). (Tempo.co, 14/05/2025)
Selain masalah pendidikan, kesehatan juga masih menjadi PR di rumah ini. Pelayanan kesehatan yang buruk, fasilitas kesehatan yang tidak memadai serta mahalnya biaya pengobatan. Sehingga rakyat miskin tak mampu berobat. Akibatnya banyak rakyat yang tidak bisa menikmati fasilitas kesehatan dengan baik.
Hal ini sebagaimana dirasakan oleh seorang ibu di Papua, Irene Sokoy. Irene Sokoy dan bayi dalam kandungannya meninggal dunia setelah ditolak empat rumah sakit di kabupaten dan kota Jayapura, Papua. Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, meminta maaf dan menyebut kematian ibu dan anak ini karena kesalahan jajaran pemerintah di Papua.
Dilansir detiksulsel, Minggu (23/11/2025), Irene dan bayinya dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan bolak-balik menuju RSUD Dok II Jayapura setelah di tolak beberapa rumah sakit pada senin (17/11/2025). "Kematian ibu hamil dan bayinya adalah tragedi yang memilukan. Empat rumah sakit di duga menolak korban, "ujar Kepala Kampung Hobong Abraham Kabey"
Abraham menyebabkan ibu Irene di tolak empat rumah sakit di kabupaten dan kota Jayapura. Menurut Abraham, ini sangat melukai hati masyarakat. Suami almarhum, Neil Kebet juga kecewa atas pelayanan rumah sakit terhadap istrinya. Neil mengatakan tidak ada satupun dokter ketika istrinya membutuhkan penanganan darurat. (DetikNews, 23/11/2025)
Inilah kondisi sistem kesehatan dan pendidikan yang terjadi hari ini. Kesehatan dan pendidikan adalah barang mahal, bagaimana nasib rakyat yang tak punya modal? Mereka hanya gigit jari tak bisa merasakan pelayanan kesehatan dan pendidikan di negeri ini. Inilah akibat penerapan sistem Kapitalisme-sekuler mengkomersilkan kesehatan dan pendidikan. Akibatnya tidak semua rakyat bisa merasakan pelayanan kesehatan dan pendidikan dengan baik.
Islam Menjamin Kesehatan dan Pendidikan Rakyat
Kesehatan dan pendidikan adalah dua hal yang merupakan kebutuhan dasar yang harus dinikmati oleh setiap manusia dalam hidupnya. Keduanya termasuk pelayanan umum dan kemaslahatan hidup terpenting, mengabaikannya termasuk kezaliman. Negara merupakan pihak yang berkewajiban mewujudkan pemenuhan keduanya untuk seluruh rakyat. Islam telah menetapkan bahwa yang akan menjamin dua kebutuhan ini oleh negara. Pengadaan dan jaminan dua kebutuhan ini akan ditanggung sepenuhnya oleh negara baik untuk orang miskin maupun kaya, muslim maupun non muslim. Semua rakyat berhak mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan secara gratis, akses mudah dan berkualitas. Baitul maal akan menanggung pembiayaan kedua kebutuhan ini.
Perhatian Khilafah Islam sepanjang peradaban Islam diterapkan dalam mewujudkan sistem pelayanan kesehatan. Pada masa Rasulullah beliau pernah mendapat hadiah dari Muqauqis seorang dokter. Oleh Rasulullah dokter tersebut dijadikan sebagai dokter umum untuk seluruh rakyatnya. Tindakan Rasulullah dengan menjadikan dokter tersebut sebagai dokter umum menunjukkan bahwa hadiah tersebut bukanlah untuk kepentingan pribadi akan tetapi untuk kaum muslimin dan negara
Selain itu pada masa daulah Islamiyyah telah menjalankan fungsi ini dengan sangat baik. Banyak rumah pengobatan didirikan. Bahkan negara mendorong sepenuhnya riset terhadap obat-obatan serta teknik-teknik pengobatan baru. Rasulullah pernah membangun tempat pengobatan untuk orang-orang sakit dan membiarkannya dengan harta dari Baitul Maal.
Dalam buku Tarikhul Islam Al-Siyasi diceritakan bahwa Umar Ra telah memberikan sesuatu dari Baitul Maal untuk membantu kaum yang terserang penyakit lepra. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh para pemimpin di negara Islam. Bahkan Khalifah Walid bin Abdul Malik secara khusus memberikan bantuan kepada orang yang terkenal penyakit lepra. Dalam bidang pelayanan kesehatan, Bani Ibnu Thulun di Mesir memiliki masjid yang dilengkapi dengan tempat untuk mencuci tangan, lemari penyimpanan obat-obatan dan minuman, serta dilengkapi dengan ahli pengobatan (dokter) untuk mengobati secara gratis kepada orang-orang yang sakit.
Dalam bidang pendidikan Islam juga memberikan porsi perhatian yang sangat besar. Banyak nash dan hadist yang mendorong kaum muslimin untuk belajar dan melakukan aktivitas-aktivitas ilmiah. Rasulullah SAW bersabda:
"Mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap kaum muslimin." (HR. Thabrani)
Pada saat itu gaji guru diambilkan secara langsung dari Baitul Maal. Sebab jaminan untuk mendapatkan pendidikan terbaik merupakan tanggungjawab negara Islam. Rasulullah SAW pernah menetapkan kebijakan terhadap tawanan perang badar. Apabila seorang tawanan telah mengajar 10 orang penduduk Madinah dalam hal baca dan tulis akan dibebaskan sebagai tawanan. Ad-Damsyiqy menceritakan suatu kisah dari Al-Wadliyah bin Atha' yang mengatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Oleh Khalifah Umar guru-guru tersebut di gaji 15 Dinar setiap bulannya.
Demikianlah Islam telah memberikan jaminan dua kebutuhan ini untuk rakyat tanpa pandang bulu. Bila demikian kenyataannya maka kita sebagai kaum yang berfikir akan condong kepada sistem Islam yang sedemikian sempurna dan agung. Sungguh, Rahmat, kemuliaan dan kesejahteraan akan dirasakan oleh setiap umat manusia baik miskin maupun kaya, muslim maupun non muslim bila hukum-hukum Allah ditegakkan di muka bumi ini. []
إرسال تعليق