Oleh Shinta Putri 
       (Muslimah Pengubah Peradaban)


Bencana longsor hingga banjir bandang menerjang sebagian wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, Aceh, dan beberapa lainnya. Kepala Pusat Data dan BNPB Abdul Muhari telah menyampaikan ada jumlah korban jiwa yang sudah terdata hari Senin (1/12)Data korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera per Senin (1/12) sebagai berikut: korban Jiwa: 604 Orang, korban Hilang: 464 orang, korban luka: 2.600 orang, jumlah warga yang terdampak: 1,5 juta orang, jumlah pengungsi: 570 ribu orang. (CNNIndonesia, 01/12/2025)

Penyebabnya tidak hanya karena faktor curah hujan yang sampai pada puncaknya, banjir bandang terlihat sangat parah karena diiringi oleh menurunnya daya tampung wilayah. Bencana longsor dan banjir bukan hanya masalah cuaca ekstrem  tapi juga adanya aktivitas deforestasi dan masifnya pemberian izin konsesi dari negara kepada perusahaan pertambangan dan perkebunan di Sumatra. Telah ditemukan dalam rentang waktu 2020-2024, di Sumatra Barat terdapat ratusan ribu hektare hutan dirusak.

Dan deforestasi dan penambangan ini terjadi tersistemik dan berkelanjutan, tampak dari citra satelit yang menunjukkan kerusakan di kawasan konservasi dan hutan lindung seperti di wilayah perbukitan di Taman Nasional Kerinci Seblat. Serta banyak tambang-tambang ilegal dan pembalakan hutan secara liar menjadi penyebab parahnya situasi ini, seperti yang terjadi di wilayah Dharmasraya, Agam, Tanah Datar, dan Pesisir Selatan.

Kalau melihat dari temuan data dari penyebab kejadian bahwa bencana yg terjadi saat ini bukan krn faktor alam atau sekadar ujian  dari Allah SWT tapi dampak kejahatan lingkungan yg telah berlangsung lama tersistematis dan dilegitimasi kebijakan penguasa  dengan pemberian hak konsesi lahan, obral izin perusahaan sawit, izin tambang terbuka, tambang utk ormas, uu minerba, uu ciptaker, dll).

Dengan kemudahan regulasi hukum inilah menjadikan para perusahaan-perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan akses lahan yang bisa diekploitasi. Beginilah  sikap sekaligus watak para penguasa, sangat niscaya dalam sistem sekuler demokrasi kapitalisme. Penguasa dan pengusaha bekerja sama untuk menjarah dan mengeruk harta kepemilikan umum dengan seenaknya, ini akibat dari hubungan simbiosis mutualisme, karena dulu para pejabat didukung oleh para pengusaha untuk mendapatkan kekuasaan dengan mendanai biaya pemilu yang tidak murah, akhirnya setelah menjabat mereka para pengusaha menagih modal yang mereka berikan supaya bisa balik lagi.

Sehingga sering kita jumpai kongkalikong antara pejabat dan pengusaha utk menjarah hak milik rakyat dengan mengatasnamakan pembangunan. Inilah gambaran terkait dalam sistem yang rusak sehingga  melahirkan penguasa zalim. Musibah banjir dan longsor di Sumatra memperlihatkan bahaya  nyata akibat kerusakan lingkungan, terlebih dengan pembukaan hutan besar-besaran tanpa memperhitungkan dampaknya. Kerakusan para oligarki dan pejabat telah menyebabkan kerugian yang besar, namun yang menjadi korban adalah rakyat penduduk sekitar.

Mereka sungguh kejam, tidak mempedulikan  kondisi rakyat yang seharusnya mereka lindungi dan menjaga rakyat. Inilah efek dari negara yang meninggalkan hukum Allah atau sistem Islam dalam pengelolaan lingkungan. Karena dengan mudahnya menganti dan membuat hukum seenaknya namun hukum itu dibuat untuk kepentingan kelompok mereka, akibatnya masyarakat yang menderita, sedangkan pengusaha dan penguasa yang menikmati hasil hutan dan tambangnya.

Mirisnya bantuan dari pusatpun juga lambat responnya, masih saja menyalahkan rakyat karena tidak menjaga lingkungan dengan baik, bahkan presiden tidak mau menetapkan bencana ini sebagai bencana Nasional karena tidak mau mengeluarkan dana bantuan dari APBN. Padahal seharusnya semua yang berhubungan dengan rakyat adalah menjadi tanggung jawab negara.

Islam dalam Al Qur'an telah mengingatkan bahwa kerusakan di bumi akibat ulah manusia. Seperti yang tercantum dalam isi Al Qur'an  yang berbunyi: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." 

Jadi bukan hanya rakyat yang menjadi korban yang disuruh untuk bersabar dan ikhlas, tapi juga sebagai peringatan bagi para pelaku kejahatan ekploitasi hutan dan tambang untuk segera bertobat. Dari sini tergambar,  sebagai wujud keimanan, umat Islam harus menjaga kelestarian lingkungan. Dan peringatan ini bukan hanya kepada rakyat saja tapi juga kepada para pejabat dan pengusaha untuk segera menghentikan aktivitas kejahatan yang tersistemik.

Inilah juga yang membedakan antara negara dengan sistem kapitalis dan sistem Islam, sistem kapitalisme  yang membuat hukum adalah para pemegang kekuasaan dengan nama rakyat sedangkan dalam Islam harus wajib menggunakan hukum Allah dalam mengurusi semua urusannya, termasuk tanggung jawab menjaga kelestarian alam dengan menata hutan dalam pengelolaan yang benar. 

Jika ada musibah bencana negara sistem Islam juga siap mengeluarkan biaya untuk antisipasi pencegahan banjir dan longsor, melalui pendapat para ahli lingkungan. Semua periayahan negara kepada umat dengan dasar keimanan dan keikhlasan, tanpa melihat untung atau rugi.

Hanya dengan hukum Allah, negara dapat meminimalisir terjadinya banjir dan longsor yang menyengsarakan rakyat. Karena para pejabatnya serta  Khalifah / pemimpinnya sebagai pemegang mandat dari Allah akan fokus setiap kebijakannya mengutamakan keselamatan umat manusia dan lingkungan dari dharar. Khalifah akan merancang  program tata ruang secara menyeluruh, melakukan pemetaan wilayah sesuai fungsi alaminya, tempat tinggal dengan semua daya dukungnya, industri, tambang, dan himmah. 

Sehingga semua terancang dan tertata dengan rapi dan dilandasi keimanan serta ketakutan  kepada Allah SWT, karena rakyat dan lingkungan ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban, jika mereka para penguasanya tidak amanah. Masihkan yakin dan percaya dengan sistem kapitalisme yang rusak dan merusak. Hanya dengan sistem pemerintahan Islam atau Khilafahlah yang bisa mewujudkan negara yang penuh berkah dan rahmat dari Allah SWT.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم