Oleh Aisyah Yusuf
(Pendidik Generasi)
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS. Ar-Rum: 41)
Kali ini bumi Sumatra sedang berduka, disebabkan banjir bandang melanda wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, juga beberapa wilayah lainnya. Namun ada yang aneh pada banjir kali ini, bukan hanya air bah yang meluap, bukan hanya sampah dan lumpur yang menjadi trending. Namun, kali ini adanya kayu gelondongan yang ikut hanyut terbawa arus. Akankah kayu tersebut memang tercabut dari tanah karena longsor? Atau memang pohon-pohon tersebut sudah lebih dahulu ditebang?
Dikutip dari CNBCIndonesia.com (8/12/25), dampak bencana banjir dan longsor yang menimpa tiga provinsi tersebut, telah menelan banyak korban. Berdasarkan hasil konferensi pers BNPB, dikatakan dari awal peristiwa hingga senin (8/12/2025) sebanyak 961 orang meninggal dunia dan 293 orang hilang. Dengan rincian orang meninggal dunia di Aceh 388 orang, Sumatra Utara 338 orang, dan Sumatra Barat 234 orang.
Penyebab Terjadinya Banjir
Pakar Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus mantan Kepala Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyatakan, bahwa wilayah Sumatra memiliki struktur geologi yang sangat labil. Sehingga mengakibatkan mudah terjadinya longsor. Disertai adanya perubahan iklim yang cukup ekstrem, yakni curah hujan yang sering, sehingga mengakibatkan curah air pun tak terbendung.
Dikutip dari CNNIndonesia.com, isu deforestasi dan pembalakan liar juga menjadi salah satu penyebabnya. Dinyatakan bahwa Kementrian Kehutanan sendiri telah menemukan lima lokasi penebangan hutan yang tidak sesuai aturan.
Menurut Dirjen Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho. "Dari hasil analisis awal, selain curah hujan ekstrem ada indikasi kerusakan lingkungan di hulu daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru dan Sibuluan." CNN Indonesia.com (8/12/25)
Sabar dan Muhasabah
Selaku umat Islam, kita senantiasa diajarkan bahwa setiap musibah atau bencana merupakan ketetapan dari Allah, dan sabar adalah yang diperintahkan-Nya. Sebagaimana firman Allah. "Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn' (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (TQS. Al-baqarah: 155–157)
Sabar di sini, bukan hanya sekadar berdiam dan berpasrah saja, tetapi juga harus ada introspeksi atau muhasabah. Sebab, di balik adanya musibah bencana tersebut, mungkin saja adalah teguran dari Allah, dikarenakan kemungkaran yang dilakukan umat manusia.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Rum: 41 di atas. Sebagaimana yang dinyatakan Dirjen Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Juanto Nugroho, selain curah hujan yang ekstrem, terdapat kerusakan lingkungan dan pembalakan liar yang dilakukan oleh orang tak bertanggung jawab. Hal ini, bukan hanya dilakukan oleh perorangan dan kebutuhan pribadi saja. Namun ini sudah menjadi skala besar.
Inilah gambaran sistem demokrasi kapitalis, yang melahirkan kebebasan kepemilikan, sehingga siapa pun boleh menguasai hajat hidup orang banyak jika mereka memiliki uang. Termasuk untuk melakukan penebangan pohon-pohon yang seharusnya menjadi kekuatan untuk menopang air, ini malah diganti dengan pohon sawit yang memiliki akar dangkal, sehingga tidak bisa untuk menopang laju air.
Para oligarki dalam sistem demokrasi kapitalis, mereka berpikir hanya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi, yang tanpa disadari sebenarnya sedang mereka pertontonkan kerakusannya kepada rakyat. Sehingga dalam hal ini, negara pun angkat tangan dalam mengawasi kegiatan pembalakan liar, terlebih lagi penebangan tersebut dimiliki oleh oknum pejabat.
Jadi jelaslah bahwa bencana yang menimpa Sumatra saat ini bukan hanya sekadar bencana alam biasa, bukan pula karena curah hujan yang tinggi saja, tetapi dikarenakan kebijakan kapitalistik yang keji. Yakni, kebijakan negara yang menyimpang dari aturan Sang Pencipta, sehingga negara membiarkan pihak swasta menggunduli hutan dengan rakus.
Islam Mengatur Perhutanan
Islam bukan hanya sekadar agama biasa, tetapi Islam sekaligus ideologi. Dengan begitu, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk di antaranya perhutanan dan pertambangan. Dalam Islam, perhutanan dan pertambangan termasuk dalam kepemilikan umum, artinya milik masyarakat yang kemanfaatannya untuk umum dan dikelola oleh negara.
Sabda Rasulullah saw. "Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api. (HR. Ibnu Majah). Dengan seperti itu negara tidak berhak mengalihkan pengeloaannya kepada pihak asing, apalagi di privatisasi. Jika pun harus dikelola asing, hanya sebatas pekerja saja. Pemanfaatan kembali diberikan untuk kepentingan masyarakat. Bisa untuk jalan, pendidikan dan kesehatan secara gratis.
Negara dalam Islam akan senantiasa memperhatikan keamanan rakyatnya, baik dari sisi infrastruktur atau lainnya. Jika wilayah tersebut memang dikhawatirkan rawan bencana, negara akan senantiasa mengantisipasi atau mengalihkan wilayah pemukiman ke tempat yang lebih aman. Sebab, kepemimpinan dalam Islam bukan politik balas jasa, tetapi berlandaskan pada ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab, pemimpin dalam Islam adalah sebagai pelayan dan amanah, yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Imam (khalifah) itu pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR Al-Bukhari dan Ahmad).
Jadi, jelaslah bahwa bencana Sumatra hasil dari kerakusan penguasa dan kerusakan sistem demokrasi kapitalis. Hanya sistem Islamlah yang bisa menyejahterakan rakyatnya.
Wallahualam bissawab. []
إرسال تعليق