Oleh Ranti Nuarita, S.Sos.
(Aktivis Muslimah)
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menghadirkan beragam kemudahan dalam kehidupan manusia, mulai dari akses pengetahuan, komunikasi lintas batas, hingga efisiensi kerja. Namun sayangnya, di balik berbagai manfaat tersebut, era digital juga membawa pengaruh destruktif yang tidak kecil, khususnya bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Generasi Z yakni generasi yang lahir dan tumbuh dalam ekosistem digital sering kali dicap sebagai generasi lemah, rapuh secara mental, dan mudah terombang-ambing oleh arus informasi. Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan sisi lain dari Gen Z. Ternyata di era digital hari ini, mereka menjadi bagian dari golongan generasi yang memiliki kepekaan sosial yang cukup tinggi, kemampuan literasi digital yang baik, serta potensi kritis yang memungkinkan lahirnya berbagai inisiatif perubahan melalui media sosial.
Fenomena aktivisme digital, gerakan solidaritas global, hingga aksi-aksi sosial yang dimobilisasi secara daring menjadi bukti bahwa Gen Z bukanlah generasi pasif. Bahkan fenomena aktivisme global yang menghubungkan isu lokal dengan jejaring global terjadi di berbagai negara seperti Indonesia, Nepal, Filipina, Timor Leste, Maroko, Peru, dan Madagaskar.
Kaum muda di negara-negara tersebut turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan perubahan di bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Selain di ranah gagasan, mereka juga aktif dalam aksi nyata seperti mendirikan sekolah alternatif, penghijauan, pengelolaan masjid, aksi kebersihan, hingga penyelenggaraan kegiatan dakwah berskala besar.
Di Indonesia sendiri generasi muda menunjukkan sikap perlawanan terhadap kebijakan zalim rezim melalui aksi besar pada September 2025 dengan mengusung 17+8 Tuntutan Rakyat. Dalam ranah kemanusiaan, mereka juga terlibat aktif dalam penggalangan dana dan penyaluran bantuan bagi korban bencana di Sumatra dan Sulawesi, terutama ketika respons negara dinilai minim.
Akan tetapi, perlu disadari juga bahwa potensi besar ini hidup dan bergerak di dalam ruang digital yang sarat kepentingan, nilai, dan ideologi tertentu. Di sinilah persoalan mendasar bermula.
Ruang Digital dalam Hegemoni Kapitalistik
Faktanya ruang digital sejatinya bukan ruang yang netral. Hari ini ruang digital dikendalikan oleh korporasi raksasa global yang beroperasi dengan paradigma yang berasal dari sistem kapitalisme sekularisme. Algoritma media sosial, sistem rekomendasi konten, serta arsitektur platform digital dirancang bukan untuk membentuk manusia bertakwa atau berkepribadian luhur, melainkan untuk mengejar keuntungan, atensi, dan akumulasi modal. Konsekuensinya, nilai-nilai yang dominan di ruang digital adalah nilai kebebasan tanpa batas, relativisme moral, hingga materialisme.
Di satu sisi, memang ruang digital membuka peluang positif bagi Gen Z. Aktivisme glokal (global-lokal) tumbuh subur. Anak muda mudah belajar dengan mengakses wacana global, sampai membangun jejaring lintas negara. Namun di sisi lain, paparan tanpa filter terhadap nilai-nilai sekuler melahirkan problem serius, mulai dari generasi mengalami krisis identitas, gangguan kesehatan mental, budaya haus akan validasi, serta kecenderungan inklusif progresif yang sering kali menjauhkan mereka dari standar kebenaran hakiki.
Ironisnya, bahkan hari ini, tidak sedikit Gen Z yang mulai mempertanyakan agama bukan dalam rangka pendalaman iman, tetapi karena terpengaruh relativisme digital yang menempatkan agama setara dengan opini manusia. Agama dipandang sebagai urusan privat, sementara standar benar-salah ditentukan oleh perasaan, tren, dan hasil penilaian netizen di dunia maya. Akibatnya, lahirlah generasi yang memiliki nilai sendiri yang sering kali bertabrakan dengan nilai Islam, sekalipun mereka mengaku beragama Islam.
Jika kita telaah kembali, dalam konteks aktivisme pun pergerakan Gen Z cenderung bersifat pragmatis. Gerakan dibangun di atas emosi sesaat, viralitas, serta pencarian validasi digital. Isu yang hari ini diperjuangkan bisa dengan cepat ditinggalkan esok hari. Minimnya pemahaman akan landasan ideologis yang benar menyebabkan aktivisme digital kerap berhenti pada pergantian figur, simbol, atau kebijakan parsial, bahkan bergerak secara sporadis tanpa menyentuh akar persoalan yang bersifat sistemis.
Inilah karakter khas digital native, cepat bergerak, tetapi juga cepat berpindah, memang banyak yang lantang bersuara, tetapi rapuh dalam konsistensi. Tanpa fondasi ideologi yang kokoh, potensi besar Gen Z justru mudah dibajak oleh kepentingan kapitalisme global.
Kapitalisme sekularisme memang meniscayakan menjebak aktivisme Gen Z melalui apa yang disebut kapitalisme estetik yakni eksploitasi citra visual dan pengalaman sebagai komoditas. Dalam kerangka ini, penampilan dan gaya hidup menjadi ukuran nilai, sementara kebenaran substansial terpinggirkan jika tidak tampil menarik secara visual. Walaupun dikenal kritis dan peduli, banyak generasi muda akhirnya terseret pola konsumsi yang dikendalikan algoritma digital. Kapitalisme estetik ini menyatu dengan pencarian identitas dan kebutuhan akan pengakuan sosial di ruang digital.
Aktivis muslim pun tidak luput dari penjajahan kapitalisme algoritmik. Konsumerisme, FOMO, permisivisme, hedonisme, dan sekularisme dikemas dengan label islami sehingga tampak seolah mewakili Islam, padahal substansinya telah direduksi. Islam yang ditoleransi kapitalisme hanyalah Islam ritual, bukan Islam sebagai sistem kehidupan.
Islam Solusi Problem Kehidupan
Fakta-fakta yang tak terbantahkan di atas meniscayakan satu kesimpulan penting, bahwa generasi muda tidak cukup diselamatkan dengan pendekatan moral individual atau literasi digital teknis semata. Hal yang dibutuhkan adalah penyelamatan cara pandang, yakni dengan solusi ideologis. Hanya Islam satu-satunya yang memiliki mekanisme yang menyeluruh untuk menyolusikannya. Adapun mekanisme solusi yang dapat dilakukan diantaranya:
Pertama, generasi muda harus disadarkan bahwa ruang digital saat ini berada di bawah hegemoni ideologi sekuler kapitalistik. Kesadaran ini penting agar mereka memahami bahwa krisis identitas, kegelisahan mental, dan kekosongan makna bukanlah masalah personal semata, melainkan dampak sistemis dari cara pandang yang rusak.
Kedua, penyelamatan Gen Z hanya mungkin dilakukan dengan mengubah paradigma berpikir mereka. Paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan harus digantikan dengan paradigma Islam. Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan ideologi yang memiliki akidah, sistem nilai, serta seperangkat aturan kehidupan yang mampu menjawab problem manusia secara menyeluruh.
Paradigma Islam akan mengembalikan fungsi akal pada tempatnya, berpikir berdasarkan wahyu, bukan tunduk pada algoritma. Ia akan membentuk kepribadian Islam yang menjadikan standar halal haram sebagai standar, bukan popularitas dan tren.
Ketiga, aktivisme Gen Z harus diarahkan pada perjuangan yang bersifat sistemis dan ideologis. Perubahan hakiki tidak akan lahir dari gerakan spontan yang terfragmentasi, melainkan dari perjuangan terorganisir yang memiliki visi peradaban. Islam mengajarkan bahwa kerusakan sosial bersumber dari sistem yang rusak, sehingga solusinya pun harus berupa perubahan sistem, bukan sekadar tambal sulam kebijakan.
Keempat, upaya penyelamatan ini menuntut sinergi tiga pilar utama, keluarga, masyarakat, dan negara. Dalam Islam keluarga berperan menanamkan akidah dan kepribadian Islam sejak dini. Masyarakat berfungsi sebagai kontrol lingkungan sosial yang di mana tugasnya ialah beramar makruf nahi mungkar. Sementara negara memiliki peran strategis dalam mengatur ruang digital, pendidikan, dan media agar selaras dengan Islam, bukan tunduk pada kepentingan kapitalisme global.
Sungguh tanpa peran negara yang menjadikan Islam sebagai dasar pengaturan kehidupan, generasi muda akan terus berhadapan dengan tsunami nilai asing yang merusak. Oleh karena itu, perjuangan generasi muda muslim sejatinya bukan sekadar melawan ketidakadilan parsial, melainkan mengemban dakwah ideologis untuk menegakkan sistem Islam secara kafah.
Di sinilah letak peran strategis Gen Z sebagai agen perubahan hakiki. Dengan potensi, energi, dan jejaring digital yang mereka miliki, Gen Z dapat menjadi ujung tombak kebangkitan umat asal diarahkan oleh ideologi Islam yang sahih. Tanpa itu, aktivisme mereka hanya akan menjadi riak kecil di samudra kapitalisme global.
Wallahualam bissawab. []
إرسال تعليق