Oleh Heni UmmuFaiz
                  Ibu Pemerhati Umat


Kasus-kasus perundungan kian hari kuan meningkat. Bahkan kasusnya di luar nalar mulai dari intimidasi fisik, pembakaran hingga aksi kriminal seperti meledakkan bom yang berakhir hilangnya nyawa korban yang tak sedikit. Trauma yang berkepanjangan hingga depresi. Inilah yang terjadi beberapa waktu di SMA72. 

Setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian ada empat bom yang meledak dari tujuh bom yang dibuat pelaku. Menurut laporan dari berbagai media, bom tersebut dibuat dari kalium klorat, paku, baterai, casing plastik, remot, dan pemicu bertekanan rendah. Ironisnya, semua bahan dan peralatan ia rakit sendiri berdasarkan tutorial yang diperoleh di internet. (tribratanews.polri.go.id , 12-11-2025).

Aksi tersebut tentu menyisakan trauma yang luar biasa bagi korban juga orang tua. Penanganan trauma terus ditingkatkan terhadap para korban. Karena jika diabaikan akan berakibat fatal terhadap mental di kemudian hari. 

Peristiwa ini berharap tidak lagi terjadi di kemudian hari dan menjadi kewaspadaan bagi seluruh perangkat pendidikan juga orang tua. Kasus perundungan menjadi salah satu sebab berbagai aksi tidak terpuji hari ini. Ketidakstabilan dan ketidakmampuan mengendalikan emosi, dendam hingga depresi yang dilakukan pelaku faktor penyulut aksi peledakan di SMAN 72. Bahkan kasus serupa pun  terjadi di pondok pesantren di Aceh. Aksi tersebut pun sama dipicu oleh emosi sesaat, balas dendam akibat perundungan.

Persaan sakit hati karena ulah rekan-rekannya telah menjadi sebab pembakaran asrama oleh Sang santri  (beritasatu.com, 8/11/2025).
Fakta ini semakin membuktikan bahwa dampak dari perundungan akan menambah deret panjang kerusakan akhlak pada generasi di akhir zaman. Kerugian yang diderita bukan hanya pada diri sendiri juga pada orang lain. Dendam kesumat akibat perundungan telah mencoreng dunia pendidikan Indonesia. Bahkan hal ini menjadi cerminan bahwa generasi unggulan yang diidam-idamkan saat ini laksana menggantang asap. 

‎Akar Masalah Perundungan

Banyaknya aksi perundungan tidak dimungkiri karena masuknya pemikiran rusak melaui media sosial. Hari ini media sosial lebih banyak menyajikan konten-konten negatif seperti kekerasan, liberalisme akhlak dan berbagai konten negatif lainnya.

‎Selain itu diperparah  dengan pergaulan yang bebas di kalangan remaja. Bukan hanya itu kedekatan dengan orang tua pun semakin menipis karena kesibukan kerja. Akibatnya mereka para remaja akan mencari kenyamanan di luar lingkungan keluarga. Jika lingkaran pertemanan nya buruk akan berdampak buruk kepada remaja tersebut. Terlebih keimanan remaja sekarang rapuh karena kurangnya pembinaan dari keluarga. 
‎Solusi Tuntasnya

Islam telah mampu memberikan kontribusi yang luar biasa bagi peradaban dunia. Termasuk di dalamnya lahirnya generasi unggulan. Generasi unggulan ini lahir karena tertanam dalam dirinya keimanan yang kokoh. Dari keimanan yang kokoh ini lahir pribadi-pribadi yang senantiasa terpaut kepada Allah Swt sehingga dalam berbuat tertuntun oleh wahyu, sudah dipastikan kasus perundungan  di sistem Islam kecil terjadi. 
Untuk itu ‎pentingnya  menanamkan keimanan dan ketakwaan yang kuat pada diri generasi muda. Sehingga tumbuh subur kesadaran dan kedekatan diri untuk beribadah kepada Allah Swt, karena sejatinya iman akan selalu naik turun. Oleh karena itu  sangat penting bagi remaja memiliki komunitas pergaulan yang baik agar terhindar dari perilaku menyimpang yang banyak terjadi di kalangan remaja saat ini. Sehingga perundungan dan korban perundungan tidak akan terjadi dan berulang apabila keimanan generasi ini kuat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain. Boleh jadi yang diejek itu lebih baik daripada yang mengejek..." (TQS al-Hujurat [49]: 11).
Dalil ini menjadi indikasi seorang muslim ‎dilarang untuk mengejek, membully apalagi hingga mengintimidasi. Dari sinilah akanm lahir rasa takut ketika menzalimi sesama Muslim, baik teman, saudara maupun orang lain. Karena di Al Quran disebutkan sebagaimana firman Allah Swt, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati."
Berdasarkan hadis menjadi bukti agar‎ sesama muslim harus saling menyayangi dilarang menyakiti. Hal ini seperti yang digambarkan dalam hadis Baginda Rasulullah saw, "Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim). 
Di dalam sistem Islam gejala-gejala yang menjurus pembullyan akan  segera diatasi. Hal ini semakin nyata dengan disusunnya kurikulum pendidikan yang berdasarkan akidah Islam. Kurikulum pendidikan Islam membentuk kepribadian yang mulia baik dari segi pola pikir maupun pola sikapnya.‎ Dari sinilah lahir generasi yang mulia dan beradab. Hal ini tentu akan berbanding terbalik dengan generasi dalam sistem sekularisme. 
Dari sinilah bukti nyata sistem Islam mengatasi masalah di dunia‎ pendidikan yakni kasus perundungan salah satunya. Oleh karenanya sudah seharusnya bagi kita umat Islam untuk bersegera berjuang untuk menerapkan sistem Islam dalam kehidupan sehari-hari baik dari lingkup individu, masyarakat hingga negara. Karena Allah Swt telah berjanji siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya akan mendapati kehidupan yang lapang. Sementara sebaliknya jika jauh dari syariat Islam akan dirundung kemalangan dan masalah tidak akan pernah teruarai secara tuntas. Pada akhirnya kasus seperti di SMAN 72 tidak akan berulang lagi. 

 Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama