​Oleh Aisyah Aprillya 
                   (Aktivis Muslimah)


​Konflik antara guru dan murid saat ini tampak seperti fenomena gunung es yang kian mengkhawatirkan. Salah satu kasus terbaru menimpa Agus Saputra, seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, yang diduga dikeroyok oleh sejumlah siswanya pada Selasa (Kompas.com, 20/1/2026). Kasus ini berakhir dengan aksi saling lapor ke Polda Jambi; sang guru melapor pada Kamis malam (15/12026), sementara para siswa melaporkan balik atas dugaan kekerasan pada Senin malam. (Antaranews.com, 19/1/2026)

Meskipun pihak sekolah telah berupaya melakukan mediasi demi menjaga kondusivitas kegiatan belajar mengajar, langkah tersebut tetap tidak membuahkan hasil. Kasus ini bahkan sampai ke meja Gubernur Jambi, Al Haris, yang kemudian memutuskan untuk memutasi guru tersebut serta memerintahkan pemeriksaan kesehatan mental secara menyeluruh.

Peristiwa ini hanyalah satu dari sekian banyak potret buram kondisi guru dan murid hari ini. Rasa hormat murid terhadap guru kian luntur. Guru tak lagi dipandang sebagai sosok yang harus "digugu dan ditiru", tetapi sering kali dijadikan sasaran perundungan hingga dipolisikan. Di sisi lain, guru pun merasa gamang dalam bersikap; mereka sulit mencari perlindungan saat menghadapi pelanggaran murid. Kondisi ini menjadi bom waktu yang menjebak guru dan murid dalam lingkaran konflik tak berkesudahan. Lantas, apa sebenarnya akar masalah dari semua ini?

​Kegagalan Pendidikan Sekularisme-Kapitalisme

​Jika kita menelisik lebih dalam, persoalan ini lahir dari sistem kehidupan sekularisme-kapitalisme. Sistem ini telah mengubah cara pandang generasi dalam memaknai kebebasan tanpa batas, yang pada akhirnya gagal mencetak murid bertakwa dan berakhlak mulia. Nilai agama hanya dijadikan pelajaran tambahan, bukan fondasi utama dalam berpikir dan bersikap. Akibatnya, pendidikan kehilangan tujuan luhurnya, yaitu meraih rida Allah SWT.

Orientasi hidup dan makna belajar kini hanya sekadar mengejar nilai akademis dan status sosial, bukan lagi sebagai bentuk ketakwaan untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Mental generasi muda pun cenderung rapuh dan lebih mengedepankan emosi. Sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia tentu terancam bahaya besar jika pendidikannya minim—atau bahkan niragama.

Faktor pendukung lainnya pun turut memperkeruh suasana, mulai dari lemahnya pendidikan karakter di rumah, minimnya sinergi antara guru dan orang tua, pengaruh negatif teknologi, hingga lemahnya penegakan disiplin di sekolah. Tanpa peran guru sebagai teladan yang kuat, dekadensi  moral di kalangan pelajar akan semakin parah.

Islam sebagai Solusi Hakiki

​Betapa buruk wajah pendidikan di bawah naungan sekularisme-kapitalisme. Hal ini sangat bertolak belakang dengan konsep Islam. Dalam pandangan Islam, pendidikan bukanlah komoditas untuk meraih keuntungan materi semata. Islam menempatkan akidah sebagai jalan hidup, di mana pendidikan karakter dimulai dari keluarga dan diperkuat melalui sektor formal.

Dalam sistem Islam, guru memegang peran yang sangat vital. Mereka tidak hanya dituntut mengajar dengan baik, tetapi juga mendidik dengan menyatukan nilai ilmu dan iman dalam setiap proses pembelajaran. Guru adalah pembina generasi yang pantas mendapatkan penghargaan tinggi, baik di dunia maupun di akhirat. Begitu banyak dalil yang menggambarkan betapa mulianya kedudukan guru di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Namun, tanggung jawab ini tidak hanya dibebankan kepada guru, murid, dan orang tua saja. Negara, sebagai penanggung jawab utama urusan umat, wajib menjamin agar tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dengan baik. Negara harus menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya adab sebelum ilmu. Sudah saatnya umat kembali pada solusi hakiki, yaitu sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam demi melahirkan generasi emas yang beradab dan berilmu.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم