Oleh Eka Sulistya
                    (Aktivis Muslimah) 


YBR (10) adalah siswa laki-laki yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) . YBR sekarang kelas IV SD. Saat ini ditemukan meninggal karena gantung diri pada kamis 29/01/2026. YBR mengakhiri hidupnya di bawah pohon cengkeh di dekat pondok yang menjadi tempat tinggalnya bersama neneknya yang berumur 80 tahun..

Dalam proses olah TKP, polisi menemukan sepucuk surat untuk ibunya. Surat tersebut ditulis oleh YBR dengan tangannya sendiri ditemukan di sekitar lokasi kejadian. Surat tersebut ditulis korban dengan bahasa daerah Ngada. Begini bunyi surat korban dalam bahasa daerah Ngada:
Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)
Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi)
Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)
Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)
Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)

Diakhir surat tulisan tangan tersebut ada gambar dengan emoji menangis. (KumparanNews, 05/02/2026)

Sebuah kabar duka mengguncang nurani publik. Seorang anak SD kehilangan nyawanya setelah tak mampu memenuhi kebutuhan paling dasar pendidikan—buku dan pensil. Ia bukan korban perang, bukan pula bencana alam, melainkan korban dari kemiskinan struktural dan kelalaian kolektif. Peristiwa ini bukan sekadar tragedi personal, tetapi cermin buram wajah sebuah sistem yang gagal melindungi yang paling lemah.

Anak tersebut berada pada usia yang seharusnya diisi dengan belajar, bermain, dan bercita-cita. Namun realitas memaksanya berhadapan dengan tekanan yang tak seharusnya dipikul oleh jiwa sekecil itu. Ketika akses pendidikan menjadi beban, bukan hak, maka ada yang sangat keliru dalam tata kelola kehidupan kita. Kasus ini bukan yang pertama, dan bisa jadi bukan yang terakhir, jika akar masalahnya tidak diselesaikan. Ia adalah alarm keras bahwa masih ada anak-anak yang tercecer dari tanggung jawab negara, masyarakat, dan umat. Ketika kemiskinan, ketidakadilan, dan kelalaian sistemik berujung pada hilangnya nyawa, dosa itu tidak berhenti pada individu, tetapi mengalir pada sistem yang membiarkannya. 

Lebih dari itu, peristiwa ini juga menunjukkan rapuhnya empati sosial. Di mana lingkungan? Di mana lembaga pendidikan? Di mana mekanisme negara yang seharusnya cepat menangkap tanda-tanda kesulitan warganya? Islam menekankan bahwa kaum muslimin adalah satu tubuh; jika satu bagian sakit, yang lain wajib merasakan dan bergerak menolong.

Solusi dalam Islam

Dalam pandangan Islam, nyawa manusia terlebih nyawa anak adalah amanah yang sangat agung. Allah ﷻ berfirman bahwa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar seakan membunuh seluruh manusia.
 
Ayatnya:
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِيٓ إِسْرَائِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًۭا ۖ وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًۭا ۚ

Artinya :
“Oleh karena itu Kami tetapkan bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.” (QS. Al-Māidah: 32).

Selian itu Islam tidak memandang kemiskinan semata sebagai takdir pribadi, melainkan sebagai masalah sosial yang wajib diurus bersama. Rasulullah ﷺ bahkan memperingatkan bahwa kefakiran dapat menyeret pada kekufuran—bukan karena iman yang lemah, tetapi karena tekanan hidup yang tak tertanggungkan.

Dalam Islam pendidikan adalah hak, bukan privilese. Negara dalam konsep Islam adalah ra’in (pengurus), yang bertanggung jawab penuh memastikan kebutuhan dasar rakyatnya terpenuhi: pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Ketika seorang anak tidak mampu membeli alat tulis, itu bukan kegagalan anak atau keluarganya semata, melainkan kegagalan sistem distribusi kesejahteraan.

Islam menawarkan solusi yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar tambalan.
Pertama, negara wajib menjamin pendidikan gratis dan layak secara nyata, bukan sekadar slogan. Dalam sejarah Islam, negara menyediakan fasilitas belajar, alat tulis, bahkan kebutuhan hidup penuntut ilmu melalui Baitul Mal. Tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal karena alasan biaya.

Kedua, pengelolaan harta umat harus adil dan amanah. Zakat, infak, sedekah, dan kepemilikan umum wajib dikelola negara untuk memastikan tidak ada rakyat yang jatuh dalam kemiskinan ekstrem. Dalam Islam, kelaparan dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar adalah tanggung jawab penguasa.

Ketiga, penguatan peran masyarakat. Islam membangun budaya ta’awun (saling menolong). Tetangga, guru, tokoh masyarakat, dan lembaga keumatan harus peka dan responsif. Anak tidak boleh dibiarkan memendam beban sendirian.

Keempat, pembinaan mental dan spiritual yang berkesinambungan. Anak-anak harus dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih, harapan, dan perlindungan, bukan tekanan dan rasa tak berdaya.

Tragedi ini seharusnya tidak berlalu sebagai berita sesaat. Ia adalah teguran keras agar kita kembali pada sistem kehidupan yang memuliakan manusia sebagaimana Islam memuliakannya. Karena satu nyawa yang hilang akibat abainya sistem adalah hutang besar yang harus segera kita lunasi—dengan keadilan, kepedulian, dan perubahan yang nyata. []

Post a Comment

أحدث أقدم