Oleh Rui Calma 
                (Aktivis Muslimah)


Siapa pun manusia, ketika melihat dan mendengar dentuman bom, hujan peluru yang membunuh manusia tanpa pandang bulu, baik anak-anak, wanita, maupun lansia, akan menyadari betapa sadisnya genosida yang terjadi di Palestina. Akan tetapi, apa kabar dengan dunia global saat ini untuk Gaza Palestina?

Seruan Board Of Peace untuk New Gaza

Selama dua tahun terakhir ini genosida di Gaza terus dilancarkan, walaupun sudah diserukan gencatan senjata oleh dunia internasional, tetapi nyatanya Menteri Keuangan Israel yaitu Bezalel Smotrich malah mengatakan seruan untuk menghancurkan Rafah dan sekitar wilayah Gaza secara total, karena Hamas seharusnya sudah lama musnah dan tidak masuk akal untuk bernegosiasi dengannya. (Kompas.co, 30/4/2024)

Ternyata ada maksud dari kehancuran total Rafah dan sekitar Gaza ini, setelah kita menyaksikan menantu dan penasihat terdekat Donal Trump, yaitu Jured Kusner dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss menyampaikan proposal di mana pembangunan ekonomi  adalah titik awal yang tepat untuk Gaza, alih-alih memulai dari negosiasi kedaulatan dan batas wilayah. Visi rekontruksi berskala besar yang simbol utamanya rencana pembangunan 180 gedung tinggi di pesisir Gaza. (Mediaindonesia.com, 23/1/2026)

Dalam Forum Ekonomi Dunia tersebut, Donal Trump membentuk Dewan perdamaian Gaza Board Of Peace untuk mendukung proposal menantunya Jured Kusner. Menjadikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai ketua seumur hidup dan ia menyatakan tak lagi membutuhkan hukum internasional. Dewan ini dikendalikan secara sepihak oleh Trump yang mengubah wajah dunia internasional yang asalnya multilateral menjadi unilateral. 

Donald Trump kemudian mengundang negara-negara di dunia untuk menyelesaikan situasi di Gaza dan upaya rekonstruksi bersamanya menuju perdamaian. Namun, dalam dewan tersebut Palestina tidak diundang, tentu ini tidak masuk akal. (Narasinewsroom, 27/01/2026)

Dalam Board Of Peace, negara-negara yang diundang bila ingin bergabung diminta secara sukarela berpartisipasi dana seharga 1 miliar dollar AS atau Rp16,8 T untuk rekonstruksi pembangunan Gaza dengan keuntungan lain yaitu menjadi anggota tetap Board Of Peace seperti yang dijelaskan Menteri Luar Negeri Sugiono dalam Kompascom. (27/01/2026)

Dalam undangan itu sebanyak 21 negara bergabung termasuk Indonesia dan di dalamnya ada Isreal.  Sementara Prancis, inggris, Swedia, dan Norwegia menolak karena dinilai bermasalah secara hukum internasional. (Narasinewsroom 27/01/2026)

Board Of Peace dan New Gaza Kendali Total Amerika Serikat dan Zionis Israel 

Rafah dan Gaza yang sudah hancur dengan bergelimpangan darah serta mayat kaum muslimin Gaza seharusnya sudah menjadi bukti genosida bengis yang dilakukan zionis Israel atas dukungan Amerika Serikat. Zionis Israel telah nyata melanggar hukum internasional, karena melakukan kejahatan perang terhadap warga sipil Gaza. Penyerangan bom dan rudal terhadap fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, tenda-tenda pengungsian bahkan mobil ambulans menjadikannya pelaku kejahatan internasional yang harusnya diadili. 

Dengan adanya New Gaza maka hilanglah jejak-jejak kebengisan mereka yang menghancurkan Gaza secara total. Mereka hapus dengan konstruksi bangunan New Gaza yang penuh dengan kemewahan dan fasilitas 180 gedung tinggi di pesisir Gaza. Seakan memperlihatkan wajah Gaza yang baru penuh dengan kemewahan yang menunjukkan perdamaian, padahal New Gaza telah mengusir dan menggenosida masyarakat gaza untuk kepentingan para penjajah.

Keberadaan Board Of Peace sebagai dewan perdamaian Gaza yang dibentuk oleh Amerika Serikat nyatanya untuk memperkuat kendali politik internasional AS dengan merangkul negeri-negeri kaum muslimin di Timur Tengah dan negara lain dengan bergabungnya mereka dalam Board Of Peace. Siasat ini sesungguhnya agar Gaza sepenuhnya dalam kendali Amerika Serikat dan Zionis Israel.

Palestina Butuh Pembebasan dari Penjajahan Amerika Serikat dan Zionis Israel

Wilayah Gaza, Tepi Barat, dan seluruh wilayah Palestina hakikatnya adalah tanah ribath, yaitu tanah suci milik umat Islam, yang kemudian dimonopoli oleh Zionis Israel. Maka, tanah tersebut sudah seharusnya direbut kembali oleh umat islam.

Jadi jelas, bila ada negara yang bergabung menjadi anggota Board Of Peace (BOP), ini merupakan pengkhianatan dan dilarang oleh Allah SWT. Sebab, dalam BOP setiap negara yang bergabung menjadi anggota harus tunduk patuh dan memberikan loyalitasnya kepada negara kafir Amerika Serikat dan Zionis Israel. Allah  SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin." (TQS al-Maidah [5]: 51)

Semestinya umat dan penguasa dunia Islam melawan semua makar AS dan Israel untuk menguasai Gaza dengan BOP dan New Gaza. Seperti dalam firman Allah SWT, "Perangilah kaum kafir itu di mana saja kalian temui mereka dan usirlah mereka dari tempat mana saja mereka telah mengusir kalian …" (TQS al-Baqarah [2]: 191). "Jika mereka memerangi kalian maka perangilah mereka. Demikianlah balasan setimpal bagi kaum kafir." (TQS al-Baqarah [2]: 191).

Dengan umat Islam bergabung bersama kelompok yang menyerukan kepada Islam kafah dan ingin mengembalikan kehidupan Islam, maka terwujudlah negara yang Allah berkahi untuk melawan setiap makar negara kafir. Sebab, dalam Islam pemimpin adalah pelindung seperti dalam hadits. "(Imam/Khalifah itu) seperti pelindung. Sebabnya, ia menghalangi musuh untuk menyakiti kaum muslim serta melindungi kemuliaan Islam." (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alâ Muslim, 6/315)

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

أحدث أقدم