Oleh Shafna Bintu Al Huda
Aktivis Dakwah
Dunia internasional hari ini tengah disuguhi sebuah drama politik baru bertajuk Board of Peace (BoP). Inisiatif yang digadang-gadang oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump ini muncul di tengah kepulan asap reruntuhan Gaza dan tangis pilu warga Tepi Barat. Namun, benarkah BoP hadir untuk membawa kedamaian hakiki, ataukah ia sekadar instrumen politik untuk memuluskan kepentingan penjajahan di tanah Palestina? Jika kita menilik realitas di lapangan dan rekam jejak para aktor di baliknya, nampak jelas bahwa BoP bukanlah solusi, melainkan sebuah penyesatan opini yang berbahaya.
Realitas Pahit di Gaza dan Tepi Barat
Fakta di lapangan menunjukkan Pemandangan yang kontradiktif dengan narasi perdamaian. Dilansir dari republika.id (01-03-2026), Gaza hingga hari ini tetap dalam kondisi hancur total. Kelaparan merajalela, ratusan ribu jiwa bertahan hidup di tenda pengungsian yang kumuh, dan sistem pendidikan praktis terhenti. Di sisi lain, Tepi Barat tidak kalah mencekam. Kekerasan, pembunuhan, penembakan, hingga penggusuran lahan terus terjadi, baik oleh tentara IDF maupun oleh para pemukim ilegal Israel.
Di tengah situasi ini, muncul pembentukan National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) yang beranggotakan 15 teknokrat. Sekilas, ini nampak seperti langkah administratif untuk pemulihan. Namun, jika kita melihat fungsinya, yakni mengawasi pelucutan senjata, mempertahankan satu hukum di bawah rantai komando tertentu, serta membubarkan kelompok bersenjata—maka nampak jelas bahwa NCAG adalah alat untuk menjinakkan perlawanan rakyat Palestina. Inilah bagian dari strategi BoP untuk memastikan bahwa setelah agresi berhenti, tidak ada lagi kekuatan fisik yang bisa menghalangi kepentingan Israel dan AS di sana.
Legitimasi Penjajahan
Krisis yang terus terjadi di Palestina bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari ulah Israel yang telah ratusan kali melanggar perjanjian damai. Maka, wajar jika warga Palestina merasa sangat skeptis terhadap BoP buatan Trump. Bagi mereka, Amerika Serikat bukanlah mediator yang jujur. Selama puluhan tahun, AS selalu berpihak pada Israel, memberikan bantuan militer tanpa batas, hingga berkali-kali menggunakan hak veto di PBB untuk membela kepentingan zionis.
Umat Islam harus berani menganalisis secara mendalam bahwa BoP sebenarnya adalah cara AS dan Israel untuk melegitimasi pembersihan etnis _(ethnic cleansing)_, genosida, dan perampasan tanah Palestina secara halus. Dengan dalih "keamanan" dan _"New Gaza_", mereka berupaya membangun kembali Gaza di bawah kendali yang mereka inginkan.
Lebih menyedihkan lagi, BoP memanfaatkan penguasa negeri-negeri Muslim sebagai stempel legitimasi untuk mendukung rencana jahat ini.
Melalui kerja sama ekonomi dan politik, penguasa negeri Muslim seolah dipaksa mengamini bahwa BoP adalah satu-satunya jalan menuju damai, padahal itu adalah jalan menuju penyerahan kedaulatan.
Membangun Kesadaran dan Perlawanan Sistemik
Melihat konstruksi masalah di atas, umat Islam harus menyadari beberapa hal mendasar. Pertama, perdamaian bagi Israel hanyalah sebuah janji di atas kertas yang akan terus mereka langgar. Sebagaimana diperingatkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Maidah ayat 82, karakter mereka yang sangat memusuhi orang-orang beriman tidak boleh diabaikan. Mendukung perdamaian dengan pihak yang terus-menerus mengkhianati janji adalah sebuah kenaifan politik.
Kedua, kita harus memahami bahwa AS dan Israel adalah entitas yang bersekutu untuk mendominasi dunia melalui penjajahan politik, ekonomi, dan militer. Haram bagi umat Islam untuk bergantung, apalagi mendukung solusi yang ditawarkan oleh mereka yang suka berbuat kerusakan di muka bumi (QS. Al-Maidah: 64). Solusi dari penjajah hanya akan melahirkan penjajahan dalam bentuk baru.
Ketiga, penjajahan dan kejahatan Israel terhadap Palestina tidak bisa dan tidak boleh diputihkan melalui narasi BoP. Kejahatan kemanusiaan tidak boleh dimaafkan hanya dengan retorika "damai" yang semu. Umat Islam di seluruh dunia harus bersatu secara nyata untuk melawan penjajahan ini dan membebaskan Palestina dari akar penderitaannya (QS. An-Nisa: 141).
Menuju Solusi Hakiki: Kekuatan Global Islam
Kritik tajam juga harus dialamatkan kepada penguasa negeri-negeri Muslim yang memilih untuk bersekutu dengan BoP. Pengkhianatan ini bukan hanya soal kebijakan luar negeri, melainkan pengabaian terhadap akidah dan ukhuwah Islamiyah. Bagaimana mungkin para pemimpin Muslim duduk di satu meja dengan pihak-pihak yang tangan mereka masih basah oleh darah saudara seiman?
Berdasarkan referensi pemikiran Islam yang lurus, seperti dalam kitab Mafahim Siyasi (Konsepsi Politik) dan Ajhizah Daulah (Struktur Negara Islam), solusi bagi Palestina tidak akan lahir dari meja diplomasi para penjajah. Solusi tersebut hanya akan lahir jika umat Islam mampu membangun kembali kekuatan politik global yang independen.
Oleh karena itu, perjuangan membebaskan Palestina haruslah berkelindan dengan perjuangan menegakkan kembali kehidupan Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Rasyidah. Hanya kepemimpinan Islam yang berdaulatlah yang mampu menyatukan potensi militer dan ekonomi umat untuk melawan dominasi AS dan Israel secara nyata. Tanpa kekuatan institusi politik global tersebut, kebijakan seperti BoP akan terus muncul untuk menyesatkan opini dan melemahkan perjuangan umat.
BoP bukanlah "papan perdamaian", melainkan "papan permainan" politik besar untuk mematikan perlawanan Palestina. Umat harus membuka mata, merapatkan barisan, dan berhenti berharap pada solusi-solusi yang ditawarkan oleh musuh-musuh Islam. Palestina hanya akan merdeka dengan kemuliaan Islam dan persatuan umat yang hakiki.
Khatimah
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًۭا وَدُّوا۟ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْٰوَٰهِهِمْ وَمَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْـَٔايَـٰتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti. []
إرسال تعليق