Oleh Tjandra Sarie Astoeti Sutisno, M. Pd
Aktivis Muslimah
Gaza adalah narasi panjang tentang sebuah wilayah yang selalu menjadi "jembatan" penting antar benua, karena letaknya yang strategis di jalur perdagangan antara Asia, Afrika, dan Eropa (pesisir timur Laut Mediterania). Gaza telah diperebutkan oleh hampir setiap kekaisaran besar dalam sejarah manusia.
Dahulu kala perjalanan sejarah Gaza, di Zaman Kuno sebagai Gerbang Para Raja. Salah satu kota tertua di dunia, dengan pemukiman yang terlacak hingga 5.000 tahun lalu. Yang mendominasi Mesir Kuno selama berabad-abad, Gaza menjadi pos terdepan Mesir di tanah Kanaan.
Sekitar abad ke-12 SM, bangsa Filistin menetap di sini. Gaza menjadi salah satu dari lima kota utama (Pentapolis) mereka. Nama "Palestina" sendiri berakar dari nama bangsa ini.
Masuknya Islam (637 M) akhirnya Gaza ditaklukkan oleh pasukan Muslim di bawah pimpinan Amr bin Ash. Kota ini menjadi spesial karena merupakan tempat makam Hashim bin Abd Manaf (kakek buyut Nabi Muhammad SAW), sehingga sering disebut Gaza Hashim. Dan tak kalah luput dari sejarah yaitu tempat Lahir Imam Syafi'i. Pada tahun 767 M, ulama besar pendiri mazhab Syafi'i lahir di sana. Sebagai tanah yang melahirkan pemikiran besar dalam hukum Islam.
Selain itu pada Era Perang Salib, Gaza sempat dikuasai tentara Salib (Templar) sebelum akhirnya direbut kembali oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada akhir abad ke-12. Gaza bukan sekadar titik konflik modern; ia adalah saksi bisu pasang surut peradaban dunia.
Demikian secuil kisah dari kota Azzah (Nama Ibrani kuno yang sering muncul dalam literatur historis) nama lain dari Gaza, yang tak boleh kita lupakan. Di sini perlu kita cermati, mengapa harus Gaza penuh darah. Pastinya kalian sudah mengetahui dan bukan lagi sebagai rahasia, bisa dilihat dari beberapa sudut pandang—geopolitik, religius, hingga kemanusiaan—yang menjelaskan mengapa wilayah sekecil itu menjadi pusat perhatian dunia selama puluhan tahun.
Kata kuncinya adalah wilayah strategis, sebagai jembatan yang diperebutkan. Siapa pun yang menguasai Gaza secara historis memiliki kendali atas rute perdagangan dan mobilisasi militer antara Mesir dan wilayah Syam. Bagi para kebijakan hal ini tentu menguntungkan yaitu, wilayah perbatasan yang sangat krusial untuk keamanan nasional harapannya pun bisa diproyeksikan menjadi negara merdeka di masa depan.
Gaza Bagi Umat Islam
Gaza adalah simbol perlawanan dan keteguhan hati (bentuk ibadah dan jihad kesabaran). Gaza tetap menjadi pusat perlawanan fisik dan politik yang paling aktif, sebagai "benteng" pertahanan (Ribat) di mana penduduknya berjaga-jaga demi mempertahankan kedaulatan tanah suci umat Islam. Yang tidak pernah benar-benar menyerah pada kontrol penuh meskipun berada di bawah tekanan militer yang luar biasa.
Seperti disebutkan sebelumnya, kakek buyut Nabi Muhammad SAW dimakamkan di sini, mengikat hubungan emosional umat Islam sejak zaman dahulu. Terkait hubungan Nasab dengan Rasulullah tsb, Keberadaan makam ini mengikat ikatan sejarah langsung antara tanah Gaza dengan keluarga baginda Nabi.
Selain itu bagi jutaan Muslim di dunia, khususnya di Indonesia yang mayoritas mengikuti Mazhab Syafi'i, Gaza memiliki nilai intelektual yang tinggi. Imam Syafi'i lahir di Gaza pada tahun 150 Hijriah. Tanah ini menjadi saksi lahirnya salah satu pemikir hukum Islam terbesar yang pengaruhnya masih terasa kuat hingga hari ini.
Gaza adalah bagian tak terpisahkan dari Negeri Syam (yang meliputi Palestina, Lebanon, Suriah, dan Yordania). Al-Qur'an menyebut wilayah di sekitar Masjidil Aqsa sebagai tanah yang "Kami berkahi sekelilingnya". Banyak pula hadis Nabi yang memuji keutamaan penduduk Syam sebagai kelompok yang teguh memegang kebenaran (Thaaifah Manshurah).
Garis depan yang melindungi martabat Masjidil Aqsa yang terletak tak jauh dari sana. Secara global, kondisi Gaza adalah manifestasi dari hadis Nabi tentang persaudaraan Muslim yang ibarat "satu tubuh". Menjadi barometer kepedulian dan persatuan umat. Iman yang tidak luntur oleh penderitaan fisik. Hal ini sering kali memicu refleksi spiritual tentang arti kesabaran dan tawakal bagi mereka yang menyaksikannya dari jauh.
Kerinduan terbelenggu oleh jarak, namun doa dan motivasi perjuangan tak akan lekang oleh waktu. Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagai satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan merasa demam. []
إرسال تعليق