Oleh Rui Calma
                  (Aktivis Muslimah)


Fenomena tren Gen Alpha yang menirukan aksi gerakan freestyle di medsos sangat meresahkan masyarakat. Dalam beberapa video yang viral di medsos memperlihatkan aksi gerakan freestyle marak dilakukan anak TK maupun SD saat berada di lingkungan sekolah atau dalam momen ibadah gerakan sujud.

Gerakan freestyle marak dilakukan Gen Alpha karena terinspirasi dari game online Free Fire yang sedang tren dimainkan oleh mereka. Tentu pengaruh freestyle ini sangat berbahaya untuk anak-anak, karena risiko patah leher sangat mungkin terjadi. Bahkan ada dua kasus menyedihkan yang terjadi pada ada TK dan SD disebabkan meniru gerakan freestyle ini.(Tribun Pontianak.co.id., 6/5/2026)

Tragedi Bahaya Freestyle di Tanah Air

Kasus pertama terjadi pada anak TK di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat  berinisial F, gerakan freestyle dan salto yang ia tiru menyebabkan tulang lehernya patah yang akhirnya meninggal. (RadarSampit.jawapos.com 7/5/2026). Begitu pun kasus lain yang dialami Hamad Izan Wadi, anak berusia delapan tahun di Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Hamad telah meninggal dunia disebabkan cedera parah di lehernya, diduga ada tulang leher yang patah karena Hamaz meniru aksi freestyle yang berasal dari game online. (m.kumparan.com 7/5/2026)

Tragedi ini memicu keprihatinan pihak kepolisian, sekolah, dinas pendidikan, psikolog anak, hingga KPAI dengan memberikan imbauan kepada orang tua agar lebih memperhatikan dan mengawasi anaknya dalam penggunaan HP, media sosial, serta tontonan yang dilihat. 

Evryanti Putri, Psikolog Anak dari Kancil menyatakan bahwa anak usia dini secara perkembangan otak belum cukup matang, sehingga anak-anak belum bisa berpikir panjang yang akhirnya jadi impulsif ikut-ikutan tren yang viral. (Metrotvnews.com 7/5/2026)

Sirene Keras bagi Pendidikan Anak

Tragedi anak usia TK maupun SD yang meninggal karena meniru tren freestyle menjadi sirene keras bagi pendidikan anak. Bila kita analisis, anak TK maupun SD belum sempurna nalarnya, karena perkembangan otak mereka belum cukup matang seperti halnya yang dinyatakan oleh psikolog anak dari Kancil, Evryanti Putri. Sehingga memungkinkan anak-anak meniru begitu saja setiap yang menarik di game online maupun sosial media.

Oleh karena itu, perlu adanya tiga faktor pendukung untuk anak, yaitu pendampingan orang tua, kontrol lingkungan, dan pembatasan akses oleh negara. Namun, sayangnya saat ini kondisi orang tua mayoritas kurang dalam mendampingi anak-anaknya. Ini tentu zmenjadi sebab mudahnya akses informasi yang mampu merusak dan berbahaya bagi anak.

Begitu pun kontrol lingkungan saat ini sangat lemah, karena lingkungan nyatanya membiarkan aktivitas viral gerakan freestyle ini dilakukan oleh anak-anak, bahkan cenderung abai dalam pengawasan. Pembatasan akses yang bisa dilakukan oleh negara pun belum sepenuhnya efektif, sehingga berdampak tragedi tewasnya anak meniru konten viral di game online maupun sosial media. 

Ini tentu menjadikan kita sadar, bahwa keadaan orang tua, lingkungan, dan negara saat ini belum mampu mencegah, dan mengatasi kerusakan dan bahaya konten-konten di medsos maupun game online yang menyasar anak-anak.

Solusi Praktis dan Komprehensif
 
Islam tak hanya agama ritual, tetapi juga agama yang memiliki seperangkat aturan untuk mengatasi berbagai permasalahan kehidupan manusia serta generasi penerusnya. Dalam islam, anak-anak yang belum balig tidak dikenai taklif hukum, karena akalnya belum sempurna. Sehingga dalam Islam anak-anak perlu pendampingan dan pengarahan orang dewasa pada kebaikan. Orang tua atau wali memiliki kewajiban bertanggung jawab dalam mendidik, mengasuh, dan melindungi anak-anak mereka dari segala keburukan dan bahaya.

Solusi praktis pendidikan Islam bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu pertama, adanya peran orang tua yang dengan kesadaran penuh atas keimanan terhadap Allah SWT untuk mengasuh, mendidik, dan melindungi anak-anaknya dari bahaya dengan memerankan sebaik mungkin peran seorang ayah dan ibu yang diarahkan syariat kepadanya.

Kedua, peran lingkungan di mana masyarakat dalam Islam memiliki pemikiran, perasan, dan aturan yang sama, yaitu aturan Islam. Hal ini menyebabkan masyarakat terdorong untuk melakukan amar makruf nahi mungkar terhadap generasi.

Ketiga, peran negara untuk membangun generasi yang kuat dan kokoh, maka dengan tegas menghilangkan segala informasi ynag tidak bermanfaat serta berpotensi membahayakan generasi, dan menonjolkan segala konten edukasi yang dapat mewujudkan generasi yang berperadaban cemerlang.

Wallahualam bissawab.[]

Post a Comment

أحدث أقدم