Tjandra Sarie Astoeti Sutisno, M. Pd
Aktivis Muslimah
Validasi adalah proses pembuktian atau pengujian secara ilmiah dan objektif untuk memastikan bahwa sesuatu (bisa berupa metode, sistem, data, produk, atau proses) akurat, konsisten, dan memenuhi standar atau spesifikasi yang telah ditentukan.
Secara sederhana, validasi menjawab pertanyaan:
"Apakah kita membangun/melakukan hal yang benar?" atau "Apakah hasilnya benar-benar sesuai dengan kenyataan?"
Pembicaraan kita kali ini, dalam bidang Psikologi dan Hubungan Sesama Manusia. Validasi Emosi (Emotional Validation): Tindakan mengakui, memahami, dan menerima perasaan, pikiran, atau perilaku orang lain tanpa menghakimi. Seperti contoh: Mengatakan "Aku paham kenapa kamu merasa sedih setelah kejadian itu" adalah bentuk validasi emosi yang membuat orang lain merasa didengar dan dihargai.
Di ranah sosial, validasi emosi (emotional validation) adalah tindakan mengakui, memahami, dan menerima perasaan, pikiran, atau pengalaman orang lain tanpa menghakimi.
Secara sederhana, ketika seseorang bercerita atau menunjukkan emosinya kepada Anda, memberikan validasi berarti Anda menyampaikan pesan: "Aku mendengarmu, aku mengerti kenapa kamu merasa begitu, dan perasaanmu itu normal."
Validasi adalah salah satu fondasi terpenting untuk membangun rasa percaya, kedekatan, dan rasa aman dalam hubungan—baik dengan pasangan, sahabat, keluarga, maupun rekan kerja.
Memberikan validasi tidak berarti Anda harus selalu setuju dengan tindakan orang tersebut. Anda bisa saja tidak setuju dengan cara mereka merespons suatu masalah, tetapi Anda tetap bisa memvalidasi perasaan mereka. Misalnya menjadi pendengar aktif dengan singkirkan ponsel, tatap matanya, dan fokus sepenuhnya pada apa yang mereka katakan tanpa menyela. Menggunakan bahasa tubuh yang tepat contoh Anggukan kepala, condongkan badan ke depan, atau berikan sentuhan hangat (jika situasinya tepat) untuk menunjukkan bahwa Anda hadir bersamanya.
Validasi Itu Penting, karena saat seseorang merasa divalidasi sistem saraf mereka akan menjadi lebih tenang.
Hal ini menurunkan intensitas emosi negatif (seperti marah atau sedih) dan membuat mereka lebih siap secara mental untuk mencari solusi dari masalahnya sendiri. Sebaliknya, orang yang sering di-invalidasi cenderung akan menarik diri, merasa kesepian, atau justru menjadi lebih defensif.
Melihat validasi dari sudut pandang yang berbeda membantu kita memahami bahwa konsep ini tidak selalu hitam-putih. Selama ini, validasi sering dianggap sebagai sesuatu yang mutlak positif dan harus diberikan kepada siapa saja. Namun, jika kita membedah lebih dalam melalui kacamata psikologi lanjut, filsafat, dan dinamika sosial, ada beberapa cara pandang lain (alternatif) yang sangat menarik untuk dicermati.
Intinya memvalidasi emosi seseorang bukan berarti menyetujui perilakunya yang merusak.
Mengalihkan fokus dari Validasi Eksternal ke Validasi Diri (Self-Validation). Cara pandang ini menekankan bahwa otoritas tertinggi yang berhak menentukan apakah perasaan Anda valid atau tidak adalah diri Anda sendiri, bukan pengakuan dari orang lain. Ternyata validasi juga bisa menjadi toksik jika dilakukan secara berlebihan atau tanpa filter kebenaran.
Fenomena ini terjadi ketika kita terus-menerus membenarkan perasaan atau opini seorang teman, bahkan ketika teman tersebut jelas-jelas melakukan kesalahan, bersikap egois, atau memutarbalikkan fakta (playing victim). Dampaknya toxic validation justru menjerumuskan orang tersebut. Mereka tidak akan pernah bertumbuh atau menyadari kesalahannya karena lingkungan sosialnya selalu berkata, "Nggak apa-apa, kamu gak salah kok, wajar kamu kayak gitu." Dalam konteks ini, kejujuran yang pahit (tough love) justru lebih dibutuhkan daripada validasi yang memanjakan ego.
Pandangan Islam
Prinsip validasi—baik dalam konteks memeriksa kebenaran informasi maupun mengakui dan memperlakukan perasaan sesama manusia dengan baik—merupakan bagian yang sangat penting dari akhlak dan syariat. Ada dua dimensi yaitu validasi terhadap informasi (Tabayyun) dan validasi terhadap perasaan manusia (Empati dan Ihsan).
Konsep Tabayyun hubungan sesama manusia, salah satu masalah terbesar adalah munculnya prasangka, gosip, atau fitnah karena kita langsung menelan mentah-mentah suatu kabar.
Islam sangat tegas memerintahkan umatnya untuk melakukan validasi atau check and recheck sebelum memercayai atau menyebarkan suatu berita. Prinsip ini disebut Tabayyun. Landasan utamanya ada dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 6:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."
Ketika mendengar kabar miring tentang teman, pasangan, atau orang lain, tahan diri untuk tidak langsung menghakimi atau marah. Lakukan konfirmasi secara santun kepada orang yang bersangkutan, bukan malah membicarakannya di belakang (ghibah). Apakah orang yang membawa berita tersebut objektif, jujur, atau justru punya niat buruk untuk mengadu domba.
Ada lagi konsep Ihsan, Muamalah, dan Empati. Bagaimana Islam memandang pentingnya memvalidasi atau mengakui perasaan orang lain? Islam adalah agama yang sangat menjaga hati manusia. Menghargai, mendengarkan, dan menenangkan orang yang sedang cemas, sedih, atau takut adalah bagian dari ibadah sosial (Muamalah yang baik).
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam memberikan validasi emosi kepada orang-orang di sekitarnya. Menghindari Invalidasi dalam Islam contoh, meremehkan perasaan orang lain atau langsung menceramahi mereka dengan cara yang kasar saat mereka sedang terpuruk bisa jatuh ke dalam sikap kurang berempati. Sering kali kita berniat mengingatkan tentang takdir, namun disampaikan dengan cara yang salah (invalidasi).
Islam mengajarkan kita untuk menjadi Muslih (penenang dan pembawa kedamaian) bagi hati orang lain. Memberikan telinga untuk mendengar dan hati untuk memahami kesedihan sesama Muslim adalah salah satu bentuk sedekah non-materi yang sangat berharga.
Wallahualam bissawab. []
Posting Komentar