​Oleh Rizka Adiatmadja
                   (Praktisi Parenting)


​Di bawah langit Gaza yang pekat oleh jelaga, detak jantung anak-anak tak lagi berirama dengan tawa, tetapi berpacu bersama desing pecahan peluru yang merobek udara. Setiap fajar menyingsing, bukan binar mimpi yang menyapa tatapan demi tatapan mungil itu, tetapi reruntuhan beton yang menjelma menjadi pusara bagi masa kecil mereka yang dirampas paksa. 

Ibu-ibu di tanah para nabi tak lagi menimang buah hati dengan senandung pengantar tidur, tetapi mendekap jasad kaku yang berselimut kain kafan putih berlumur darah. Fitrah suci anak-anak yang semestinya mekar dalam pelukan kasih sayang dan ruang kelas yang damai, kini sengaja dipatahkan di atas altar ketamakan geopolitik global, meninggalkan penderitaan menganga pada wajah kemanusiaan yang berpura-pura buta.

​Genosida Sistemis, Membidik Masa Depan dari Balik Laras Senapan

​Ketakutan yang dialami anak-anak Gaza bukanlah sekadar ekses dari sebuah pertempuran biasa, tetapi buah dari kekejaman sistemis yang terencana. Laporan demi laporan dari lembaga internasional mengonfirmasi bahwa entitas Zionis secara sengaja membidik anak-anak sebagai target serangan untuk memutus mata rantai generasi masa depan Palestina. 

Berdasarkan data dari Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF), terungkap fakta yang amat mengerikan di mana Zionis membunuh rata-rata satu anak setiap hari di Gaza, meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat diumumkan. (CNNIndonesia.com, 20 Juni 2026)

Angka ini terus meroket hingga lebih dari seratus anak syahid dalam kurun waktu singkat pascapelanggaran komitmen damai tersebut. ​Kekejaman ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi mereka yang bertahan hidup. 

Lebih dari 1.000 anak telah dinyatakan gugur akibat serangan tanpa henti sejak masa jeda pertempuran dilanggar (AlJazeera.com, 18 Juni 2026). Anak-anak yang selamat harus menanggung cacat fisik permanen—kehilangan kaki, tangan, atau penglihatan—sekaligus memikul beban psikologis berupa trauma berat akibat menyaksikan langsung orang tua dan saudara mereka hancur tertimbun bom. 

Dengan hancurnya sekolah, rumah sakit, dan tidak adanya ruang aman, masa depan generasi Gaza benar-benar berada di ambang kepunahan. Ini bukan lagi sekadar perang defensif, tetapi sebuah tindakan genosida yang nyata untuk menghabisi eksistensi muslim Palestina dari akar sejarahnya.

​Dinding Nasionalisme dan Mandulnya Institusi Global

​Mengapa kebiadaban visual ini terus melenggang tanpa ada kekuatan yang mampu menghentikannya? Jawabannya terletak pada motif ideologis Zionis yang menghalalkan segala cara demi mewujudkan ambisi "Israel Raya" dan menguasai seluruh tanah Palestina. Mereka tidak pernah peduli pada puluhan resolusi PBB, kecaman internasional, maupun desakan gencatan senjata. 

Berharap pada institusi global seperti PBB untuk menghentikan genosida ini adalah sebuah ilusi yang mematikan, sebab sejarah telah mencatat bahwa PBB tidak lebih dari sekadar macan kertas yang mandul ketika berhadapan dengan kepentingan negara-negara adidaya. Begitu pula berharap pada perubahan konstelasi politik internal mereka melalui pergantian perdana menteri, siapa pun yang memimpin, visi penjajahan mereka tetaplah sama.

​Ironisnya, kepasifan yang paling menyakitkan justru datang dari negeri-negeri muslim di sekitarnya. Penguasa dunia Islam hari ini seolah lumpuh, terbelenggu oleh sekat-sekat nasionalisme yang membatasi persaudaraan hanya sebatas garis perbatasan wilayah ciptaan penjajah. Akibat mengadopsi sistem politik kapitalistik yang pragmatis, para pemimpin muslim lebih memilih menjaga hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Amerika Serikat serta entitas Zionis demi stabilitas takhta mereka sendiri. 

Nasionalisme telah meracuni kesadaran umat, membuat militer negeri-negeri muslim yang kuat hanya menjadi penonton layar kaca saat saudara seakidah mereka dibantai. Mereka lupa bahwa dalam pandangan kapitalisme, nyawa anak-anak Gaza tidak memiliki nilai ekonomi yang cukup untuk menggerakkan pasukan.

​Perisai Sistem Islam, Solusi Hakiki Pembebasan Tanah Para Nabi

​Jika dunia hari ini telah mengkhianati Gaza, maka satu-satunya harapan yang tersisa bagi pembebasan Palestina secara hakiki hanyalah kembali pada institusi politik Islam. Sistem Islam pernah tegak dan kini bukan hanya sekadar meromantisasi sejarah, tetapi menjadi qadhiyah masiriyah (masalah utama) yang wajib diperjuangkan penegakannya oleh seluruh umat Islam. 

Hanya sistem Islam kafah sebagai institusi yang memiliki otoritas untuk menyatukan potensi militer seluruh dunia Islam, lalu mengomandoi institusi jihad fisabilillah demi mengusir para penjajah dan mengembalikan tanah Palestina ke pangkuan kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan tabiat asli orang-orang yang memusuhi Islam dalam firman-Nya,

​"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)'. Dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah ilmu datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS Al-Baqarah: 20)

​Melalui penerapan syariat Islam secara kafah, sistem Islam akan hadir sebagai jubbah (perisai) yang nyata bagi anak-anak Palestina. Negara akan menjamin perlindungan menyeluruh terhadap jiwa, kesehatan fisik, rehabilitasi mental, pendidikan gratis berstandar tinggi, serta kesejahteraan ekonomi mereka tanpa bergantung pada bantuan kemanusiaan global yang kerap diboikot. Seluruh aspek masa depan anak-anak Gaza akan dibangun kembali di atas fondasi kemuliaan Islam. 

Sudah saatnya seluruh komponen umat menyadari bahwa menyelamatkan masa depan anak-anak Gaza tidak cukup dengan donasi berkala, tetapi dengan memutus akar kapitalisme global dan menegakkan kembali institusi Islam kafah yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. 

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama