Oleh Leihana
Ibu Pemerhati Umat
Pernahkah membaca sebuah potongan puisi menyentuh karya Gus Mus (Mustasyar) Pengurus besar PBNU? Puisi itu berjudul "Apakah Kau Terlalu Bebal atau Aku yang Terlalu Peka?“ Berikut ini penggalan syairnya:
Di depan layar datar televisi produk mutakhir
Di ruang keluarga yang lapang dan terang benderang kau dan keluargamu menyaksikan gelombang gelap melanda beberapa kawasan di dunia Bahkan di negerimu sendiri sambil melahap piza dan ayam goreng Amerika
Saat ini, makna puisi tersebut mulai dimaknai umat Islam dan seluruh masyarakat di Indonesia dengan masalah Palestina sebagai masalah kemanusiaan yang mendorong banyak kalangan melakukan boikot besar-besaran terhadap produk pro Israel dan Amerika–sebagai pelaku dan pendukung genosida di Palestina.
Dorongan untuk menghentikan genosida Palestina oleh Israel juga terus mengalir di seluruh dunia hingga berhasil menekan Israel untuk memutuskan gencatan senjata.
Sebagai tahap awal proses gencatan senjata adalah dengan membebaskan sandera dari kedua belah pihak. Israel mengaku telah membebaskan 90 sandera dari Palestina termasuk politikus Palestina Khalida Jarrar pada 20 Januari 2025. Sedangkan sehari sebelumnya dari pihak Hamas Palestina telah membebaskan tiga orang sandera dari Israel ke Palang Merah di Kota Gaza. Hal ini dilakukan beberapa jam setelah pemberlakuan gencatan Senjata. (bbc.com, 20 Januari 2025)
Ketidakpastian itu semakin mencuat saat anggota kabinet masih bisa memberikan suara setelah 17 Januari Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben Gvir bahkan mengancam keluar dari pemerintahan jika menyetujui gencatan senjata tersebut. Bahkan kantor Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu menuduh pihak Hamas telah melanggar beberapa bagian perjanjian dan mengancam menunda pemungutan suara. Sehingga gencatan Senjata yang direncanakan itu masih dimungkinkan batal diberlakukan. (cnbcindonesia.com, 17 Januari 2025)
Sebenarnya sebelum rapat paripurna militer Israel, pihak Hamas dan militer Israel telah mengumumkan mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 15 Januari 2025. Akan tetapi, beberapa jam setelahnya justru militer Israel menyerang warga Gaza hingga menela korban 82 orang wafat. (viva.co.id, 16 Januari 2025)
Sehingga wajar saja banyak pakar dan politikus pesimis gencatan senjata dapat terwujud penuh. Catatan hitam Israel terlalu panjang untuk dapat meyakini komitmen gencatan senjata dapat mereka jaga. Selain itu masalah Palestina memang bukan hanya masalah kemanusiaan dan gencatan senjata tidak akan pernah menjadi jalan keluar bagi penderitaan Palestina.
Merindukan Kemerdekaan Palestina
Rindu kemerdekaan dan kebebasan Palestina adalah perjalanan untuk menguraikan penderitaan panjang yang mereka tanggung hingga menemui kedamaian dan kebahagiaan hakiki. Bukan kedamaian dan kebahagian semu yang hanya datang selintas menghapus air mata pedih mereka dan tak lama mereka harus menanggung serangan dan kebohongan baru dari Zionis laknatullah.
Adapun solusi gencatan senjata yang baru disepakati itu bukanlah jalan yang bisa menyampaikan Palestina pada kemerdekaan hakiki itu. Sebab, gencatan senjata adalah jembatan menuju kesepakatan dua negara yang diarahkan Amerika dan PBB untuk solusi Palestina di Resolusi PBB Mei 2024. Maka, jika menyepakati gencatan senjata sebagai langkah awal terhadap solusi dua negara untuk Palestina.
Selain itu menyetujui solusi dua negara pun adalah haram hukumnya dalam Islam. Sebab, menyetujui solusi dua negara berarti bersepakat dalam beberapa kebatilan sebagai berikut:
Pertama, menyetujui solusi dua negara berarti menghentikan jihad fi sabilillah yang telah dilakukan oleh kaum muslimin di Palestina sebagai wujud ibadah tertinggi seorang muslim.
Kedua, menyetujui solusi dua negara juga berarti wala' terhadap kaum kafir, baik itu kafir Zionis Israel maupun kafir Kristiani Amerika yang menyarankan solusi tersebut. Hukum wala' terhadap kaum kafir adalah haram.
Ketiga, menyetujui solusi dua negara juga berarti menyetujui perampasan tanah kaum muslimin di Palestina yang telah diklaim oleh Zionis Israel laknatullah. Sedangkan jelas haram hukumnya untuk mengambil bahkan sejengkal tanah milik umat Islam di Palestina.
Keempat, menyetujui solusi dua negara berarti mendukung sikap lemah pemimpin negeri-negeri Islam yang tidak membantu kaum muslimin di Palestina dengan berjihad.
Kelima, menyetujui solusi dua negara juga berarti memberi jalan bagi kaum kafir Zionis Israel dan kaum kafir Kristiani Amerika untuk menguasai lebih banyak tanah kaum muslimin di Palestina. Sekaligus mengakui keberadaan Israel sebagai negara dan menjadikan Palestina sebagai negara sekuler.
Adapun alasan Israel menyetujui gencatan senjata bukan karena tekanan Trump kepada Netanyahu, tetapi karena Zionis tidak sanggup mematahkan rakyat Gaza. Yakni keteguhan rakyat Gaza meski menderita kelaparan, di bunuh, banyak pemimpin pejuang syahid, mereka tetap teguh dan mereka tetap mempertahankan tanahnya.
Itu semua telah menggentarkan Zionis. Sehingga bisa dipastikan ketika para pejuang dan umat Islam di Gaza tengah lengah pasca kesepakatan gencatan senjata maka militer Zionis Israel akan menyerang kembali umat Islam di Palestina.
Genjatan Senjata bukan Solusi, tetapi Menyakiti
Gencatan senjata tak akan mengubah apa pun. Hal itu terbukti dengan apa yang dilakukan oleh militer Zionis pasca beberapa jam gencatan senjata dengan membunuh rakyat Palestina. Luka umat Islam di Palestina yang telah berpuluh tahun lamanya selalu diberikan solusi tambal sulam. Dengan mengobati luka mereka, tetapi tak kunjung kering. Luka mereka dihujani serangan yang melukai mereka lebih dalam lagi.
Seakan-akan luka dan nestapa umat Islam di Palestina ini tidak berujung. Sehingga untuk mengakhiri penderitaan umat Islam di sana tidak ada jalan lain, selain dengan mencabut pangkal utama permasalahan mereka yaitu dengan mengusir Zionis Israel laknatullah dari tanah Palestina.
Khilafah Membebaskan Palestina
Keteguhan umat Islam di Palestina adalah berdasarkan keimanan yang kuat yang menyakini kemenangan adalah milik umat Islam dan pujian hanya milik Allah. Kemenangan akan datang atas pertolongan Allah. Kekuatan iman dan keyakinan itu seharusnya dimiliki oleh seluruh umat Islam di dunia sehingga suatu hari Palestina benar-benar merdeka dan merasakan kebebasan yang hakiki.
Untuk mendapatkan pertolongan Allah, tentu jalan perjuangan pun wajib sesuai tuntunan Allah, tidak menyerahkan urusan kepada musuh-musuh Allah. Umat harus terus berjuang untuk mewujudkan solusi hakiki, yaitu dengan menegakkan kembali khilafah dalam seruan komando seorang khalifah untuk menyeru jihad fi sabilillah agar dilaksanakan oleh seluruh umat Islam di dunia untuk merebut kembali tanah suci Palestina yang direnggut oleh Zionis Israel laknatullah.
Palestina bisa bebas jika Khilafah berdiri. Sebab, dengan Khilafah akan melindungi Palestina dan mengusir Yahudi. Sebab, pada masa Rasulullah, kaum Yahudi (Bani Quraizhah) diusir dari Madinah karena berkhianat. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau tidak mengizinkan orang Yahudi tinggal di tanah Palestina. Sudah saatnya mengembalikan tanah suci Palestina kepada pangkuan umat Islam dan membebaskan umat Islam di Palestina dengan khilafah dan jihad fi sabilillah.
Wallahualam bissawab.[]

Posting Komentar