Oleh Nalita Septyarani, S.Tr.Keb., Bdn., CHE.
Aktivis Muslimah
Di tengah derasnya arus perubahan zaman dan perkembangan teknologi, generasi muda yang seharusnya menjadi harapan dan tulang punggung bangsa, justru mengalami kerusakan mentalitas yang sangat mengkhawatirkan. Hal ini tentu tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masa depan peradaban.
Dikutip dari disway.id – Jutaan remaja Indonesia kini menghadapi masalah kesehatan mental yang semakin serius. Berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2024, tercatat bahwa 34,9 persen atau sekitar 15,5 juta remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Fenomena ini semakin menjadi perhatian nasional yang mendesak untuk segera ditangani.
Mengapa Bisa Terjadi?
Kegagalan negara dalam membina generasi terbukti dari banyaknya remaja yang terkena penyakit mental. Seharusnya, negara sebagai pelindung utama senantiasa melakukan upaya-upaya terencana, agar menciptakan generasi masa depan yang kuat dan sehat secara mental.
Kenapa negara dikatakan harus memiliki andil yang besar? Sebab, negara memiliki pemimpin yang di pundaknya wajib bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan seluruh masyarakat. Konsep yang digagas oleh negara yaitu generasi emas 2045 hanya isapan jempol semata ketika melihat fakta semakin merosotnya mentalitas generasi dari tahun ke tahun.
Sistem kapitalisme sekularisme yang diterapkan oleh negara saat ini memiliki dampak negatif pada kehidupan generasi terutama remaja, seperti perilaku liberal dan kehilangan jati diri. Sekularisme adalah memisahkan agama dari segala lini kehidupan.
Sistem yang menempatkan agama disimpan hanya dalam ranah ibadah dan hanya berada di tempat ibadah saja. Sedangkan dalam sektor lain seperti muamalah, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain menerapkan aturan buatan manusia.
Sekularisme menghasilkan generasi yang liberal membuat generasi semakin tidak terkontrol aktivitasnya, tidak ada batas tegas aturan yang tidak boleh dilanggar. Remaja yang seharusnya terdidik dan terarahkan dalam alur kebaikan, kini banyak menerobos batas norma kehidupan. Banyak remaja yang masih belum tahu cara menemukan jati diri dan belum bisa menemukan problem solving dari setiap permasalahan yang dialami.
Ketika dahulu negara dijajah secara fisik oleh penjajah asing, masyarakat–terutama generasi muda–melawan sekuat tenaga dengan semangat jihad menggunakan alat sederhana yang ada seperti bambu runcing. Namun, kini generasi muda dijajah secara pemikiran atau ghazwul fikri, dibuat terlena oleh hidup, sehingga mereka tidak mampu melawan virus pemikiran dari asing.
Era gempuran teknologi yang tidak digunakan dengan baik semakin memperkuat hal negatif ini mendobrak pertahanan. Remaja disibukkan dengan tawuran antarsekolah, gempuran video tak senonoh, minuman alkohol yang memabukkan, balapan liar, pergaulan bebas, seks bebas, standar kecantikan yang tidak realistis, cyberbullying, dan kecanduan digital, dan lain-lain.
Negara seharusnya memiliki tanggung jawab untuk membangun sistem pendidikan yang baik dan terarah, serta menyiapkan orang tua dan masyarakat untuk mendukung proses pembentukan generasi pembangun peradaban. Negara seharusnya memiliki benteng pertahanan kuat untuk memberantas kemerosotan mentalitas generasi, misalnya memblokir akses-akses yang dapat merusak akidah seseorang. Negara harus bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi.
Islam Bukan Hanya Agama, tetapi Pedoman Hidup
Islam mewajibkan negara membangun sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam untuk melahirkan generasi cemerlang yang berkualitas. Pendidikan dalam Islam adalah hal yang diperjuangkan oleh negara, karena menuntut ilmu adalah wajib hukumnya.
Negara Islam menerapkan sistem pendidikan yang berasas akidah Islam untuk melahirkan generasi cemerlang yang berkualitas. Generasi diberikan pendidikan bukan hanya agar memiliki pemahaman islam, tetapi juga karakter yang islami.
Generasi diberikan pendidikan sedini mungkin agar memahami bahwa segala tingkah laku harus berdasarkan standar syariat islam. Mereka akan secara sadar memahami segala hal baik dan buruk akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah di akhirat kelak.
Sudah seharusnya seorang muslim menjadikan akidah Islam sebagai dasar dari pola pikir dan pola jiwanya. Artinya, akidah Islam dijadikan sebagai dasar bagi pemikiran dan kecenderungannya. Dengan akidah yang terjaga maka akan menghasilkan output perilaku dan pola pikir yang baik, sesuai tuntunan syariat.
Negara harus menyiapkan orang tua dan masyarakat untuk mendukung proses pembentukan generasi pembangun peradaban Islam. Orang tua dan calon orang tua diberikan arahan tentang bagaimana cara menghadapi tantangan mendidik anak sesuai zaman. Hal ini tentu sudah menjadi program dalam negara yang menerapkan sistem Islam.
Negara yang menerapkan sistem Islam menetapkan kebijakan untuk menjauhkan remaja dari segala pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Menutup akses-akses teknologi yang bisa membuka hal berdampak negatif. Mengajak generasi muda untuk ikut andil dalam program perubahan, mengadakan pelatihan-pelatihan yang bermakna, mendidik adab dan akhlak.
Ketika sistem Islam diterapkan, segala persoalan kehidupan akan dapat terselesaikan. Hancurnya mentalitas generasi akan dapat diobati bahkan dicegah sebelum semakin parah. Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, kehadirannya membawa kebaikan untuk seluruh manusia di muka bumi.
Wallahualam bissawab.[]

Posting Komentar