Oleh Diah Setyarini
Aktivis Muslimah
Setelah sebelumnya tahun lalu logo Garuda berlatar biru Peringatan Darurat mewarnai dunia Maya, dan hari ini lambang itu kembali tampil dengan latar hitam yang menandakan bahwa Indonesia sedang tidak baik baik saja, dan kekhawatiran masyarakat semakin besar terhadap para pemimpin negri ini.
Kebijakan pemerintah yang sampai hari ini sangat merugikan rakyat membuat mahasiswa melakukan demonstrasi di sekitar kawasan Patung Kuda, Jakarta. Ribuan mahasiswa dari berbagai Universitas menggelar demonstrasi lanjutan yang bertajuk "Indonesia Gelap".
Beberapa almamater yang terlihat yakni, Universitas Nasional, Politeknik Negeri Jakarta, Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri, hingga Universitas Bung Karno. Mereka tiba sekitar pukul 16.17 WIB dan bergabung dengan sejumlah mahasiswa lainnya yang telah tiba terlebih dahulu.
Mereka kemudian orasi untuk menyampaikan aspirasi, mahasiswa banyak yang kecewa dengan kebijakan pemerintah yang sangat merugikan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.
Kekecewaan itu, menurut Sosiolog dari UGM Heru Nugroho, mulai dari banyaknya pemutusan hubungan kerja dan sulitnya mencari pekerjaan, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, kasus gas elpiji 3 kilogram, serta puncaknya ketika pemerintah memangkas anggaran sejumlah kementerian.
Menurut Heru pendidikan, kesehatan, itu semua mengenai hajat hidup orang banyak. Ketika masyarakat bawah merasa terpukul dengan kebijakan pemerintah dan batas ketahanan orang di langgar, masyarakat susah makan maka akan terjadi protes.
Ia juga meyakini bahwa aksi demonstrasi seperti ini akan membesar apabila tidak ada perubahan di dalam kebijakan pemerintah. Membesar dalam arti, tidak hanya bergaung di media sosial, namun "viral dalam kehidupan sosial". (BBC.com, 21/02/2025)
Pertanyaannya sekarang adalah, walaupun rezim berganti kenapa hampir semua pemimpin yang terpilih hari ini kebijakannya selalu tidak tepat sasaran alias menyengsarakan rakyat? Dan jawabannya adalah, karena mereka semua lahir dari payung demokrasi.
Dalam sistem demokrasi campur tangan Asing dan Aseng akan sangat berpengaruh besar, karena harga sebuah demokrasi itu sangat mahal. Ketika demokrasi sudah di tunggangi maka lahirlah politik transaksional, dimana jual beli kebijakan akan terjadi. Oligarki akan semakin kuat dan mengakibatkan kebijakan yang di buat harus sesuai dengan para elit politik.
Slogan yang di banggakan kaum penganut demokrasi ternyata tidak terbukti sama sekali. Mereka selalu menggaungkan bahwa demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tapi fakta menyakitkan hari ini adalah ketika slogan demokrasi ternyata bukan untuk rakyat, tapi untuk penguasa Asing dan Aseng.
Media dalam demokrasi juga ternyata tidak menyampaikan aspirasi rakyat, malah mereka menjadi corong penguasa agar apa yang sampai kepada masyarakat adalah keinginan penguasa. Dimana penguasa berharap agar masyarakat bisa tunduk dan patuh pada aturan yang mereka buat sekalipun kebijakkan itu sangat mendzolimi masyarakat.
Sistem demokrasi juga meniscayakan manusia membuat hukumnya sendiri. Standar hidup mereka bukan lagi halal dan haram, tapi apakah itu menghasilkan cuan atau tidak, semuanya dilihat dari segi manfaat.
Inilah sebabnya demokrasi disebut sebagai sistem cacat. Konsekuensinya, hukum akan berubah-ubah sesuai kepentingan para pembuatnya dan manfaat materi yang mereka lihat.
Oleh karena itu, tidak heran jika perkara yang salah menjadi benar dan begitu juga sebaliknya perkara yang benar akan menjadi salah. Hukum pun dapat diperjualbelikan, semuanya demi uang. Moralitas diabaikan agama dibuang, mereka memisahkan urusan agama dengan kehidupan.
Mahasiswa harus menjadi garda terdepan untuk melakukan perubahan di tengah umat Islam yang saat ini sedang terpecah belah. Sudah menjadi sunatullah pada setiap zaman para pemuda selalu menjadi pelopor perubahan.
Bahkan, para nabi juga diangkat untuk menyampaikan risalah Allah Swt. saat berusia muda. Sosok Ibrahim as., Daud as., Musa as., Rasulullah Muhammad saw., dll. merupakan contoh para pemuda yang memimpin perubahan di tengah kaumnya.
Ketika menafsirkan QS Al-Kahfi ayat 13, Imam Ibnu Katsir menyampaikan bahwa kebanyakan orang yang menyambut baik seruan Allah dan Rasul-Nya adalah dari kalangan kaum muda. Adapun orang-orang tuanya, sebagian besar dari mereka tetap berpegang pada agamanya dan tidak ada yang masuk Islam dari kalangan mereka kecuali sedikit.
Rasulullah saw. bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian, ‘Perlakukanlah para pemuda dengan baik, sesungguhnya mereka tulus dan mudah disentuh (perasaannya), sesungguhnya Allah telah mengutusku dengan ketulusan dan kemudahan, (lihatlah) mereka yang mau berkumpul denganku adalah para pemuda, sedangkan orang-orang tua menentangku.’” (Imam Asy-Sya’rani, Tanbihul Mughtarrin).
Para mahasiswa perlu mengkaji tsaqafah Islam secara mendalam, serius, dan kontinyu. Hal ini sekaligus mencegah penyusupan ide non-Islam dalam gerakan mahasiswa, seperti komunisme, sosialisme, marxisme, leninisme, dan ide kiri lainnya yang jelas bertentangan dengan Islam dan terbukti pernah membuat makar yang menjadi tragedi dan menelan banyak korban jiwa.
Jika tsaqafah Islamnya sudah benar ini akan menjadi kekuatan jika digunakan untuk kemuliaan Islam dan kaum muslim akan bisa mewujudkan kemenangan berupa tegaknya Islam di muka bumi. Insyaallah.
Pemahaman Islam ideologis yang kukuh akan menjaga para mahasiswa agar tetap on the track sesuai dengan metode perubahan yang Rasulullah saw. contohkan, yaitu fikriyah (bersifat pemikiran), siyasiyah (politis), dan la unfiyah (nonkekerasan).
Wallahualam Bissawab. []

Posting Komentar